Tradisi Nyadran di Magelang Jadi Simbol Kerukunan Umat Beragama, Selaras World Interfaith Harmony Week
- calendar_month Rab, 4 Feb 2026

Chabibullah Menulis Tradisi Nyadran di Magelang Jadi Simbol Kerukunan Umat Beragama, Selaras World Interfaith Harmony Week
BNews-OPINI – Tradisi Nyadran yang mengakar kuat di masyarakat Jawa, khususnya Kabupaten Magelang; menjadi cerminan nyata kerukunan antarumat beragama sekaligus harmoni sosial berbasis budaya lokal.
Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat World Interfaith Harmony Week atau Pekan Kerukunan Antar-Agama Sedunia yang diperingati setiap minggu pertama Februari.
Pekan kerukunan ini merupakan inisiatif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2010 melalui Resolusi A/RES/65/5.
Majelis Umum PBB menetapkannya sebagai momentum global untuk mempromosikan dialog, saling pengertian, dan kerja sama antar pemeluk agama serta keyakinan berbeda, sebagai fondasi perdamaian dunia.
Gagasan tersebut pertama kali diusulkan Raja Abdullah II dari Yordania bersama Pangeran Ghazi bin Muhammad dalam Sidang Umum PBB pada 23 September 2010; lalu diadopsi secara bulat pada 20 Oktober 2010.
Sejak saat itu, berbagai kegiatan lintas agama seperti dialog tokoh agama, pertemuan antartradisi, hingga aksi sosial bersama rutin digelar di berbagai negara.
Di Indonesia, peringatan ini tak sekadar simbolis. Sejak awal penerapannya pada 2011, perayaan kerukunan antarumat beragama telah melibatkan tokoh lintas agama dan tokoh nasional di Jakarta, menunjukkan bahwa keberagaman dapat berjalan beriringan dalam suasana damai.
Nyadran, Harmoni Sosial Berbasis Tradisi Jawa
Semangat serupa juga tercermin dalam tradisi Nyadran yang dijalankan masyarakat Jawa menjelang Ramadan. Tradisi turun-temurun ini dilakukan dengan berziarah ke makam leluhur, membersihkan pusara, menabur bunga, serta memanjatkan doa bersama.
Namun Nyadran tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang sosial yang memperkuat solidaritas warga, gotong royong, dan kebersamaan tanpa memandang latar belakang sosial maupun perbedaan keyakinan.
Di wilayah Magelang dan sebagian besar Jawa Tengah, prosesi Nyadran diikuti masyarakat secara kolektif. Tradisi ini menjadi media pemersatu yang mengikat nilai spiritual, moral, sekaligus kultural dalam kehidupan sehari-hari.
Jika World Interfaith Harmony Week menegaskan pentingnya dialog antaragama di tingkat global, maka Nyadran menghadirkan praktik nyata harmoni tersebut di tingkat lokal. Dari kegiatan sederhana seperti membersihkan makam hingga doa bersama, masyarakat menunjukkan bahwa perdamaian lahir dari rasa hormat dan kebersamaan.
Penyadranan Agung di Pasarean KRT Joyoningrat II
Nilai kerukunan lintas iman itu tampak jelas dalam pelaksanaan Penyadranan Agung di Pasarean KRT Joyoningrat II, Kradenan, Srumbung, Magelang. Kegiatan ini menjadi ajang kebersamaan antara masyarakat dan Trah KRT Joyoningrat II, meski berasal dari beragam latar belakang agama dan keyakinan.
Gotong royong terlihat sejak tahap persiapan, pelaksanaan, hingga pascakegiatan. Bahkan kompleks pasarean tersebut menjadi tempat peristirahatan terakhir tokoh dari berbagai keyakinan.
Penetapan kompleks makam sebagai Struktur Cagar Budaya juga memperkuat rasa memiliki bersama antara masyarakat, trah keluarga, serta pemerintah desa hingga kabupaten.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menegaskan pentingnya tradisi tersebut dalam menjaga ingatan sejarah sekaligus mempererat persatuan.
“Kegiatan Sadran Agung ini merupakan sebuah manifestasi dari rasa hormat kita terhadap sejarah dan jasa para leluhur. Dengan berkumpulnya kita di sini untuk mendoakan almarhum Adipati KRT Djajaningrat II, kita sedang merawat ingatan kolektif tentang perjuangan dan kepemimpinan beliau di masa lampau.
Beliau bukan hanya sekadar nama besar dalam silsilah, namun merupakan sosok yang telah meletakkan pondasi nilai, keteladanan, dan dedikasi bagi wilayah ini. Sudah selayaknya kita sebagai generasi penerus, mengambil spirit dan semangat pengabdian yang pernah beliau torehkan.
Di tengah kemajuan zaman yang begitu pesat, saya sangat bangga melihat masyarakat Desa Kredenan tetap memegang teguh adat Mikul dhuwur mendhem jero. Melalui Sadran Agung ini, ada tiga nilai penting yang dapat kita petik; Nilai Spiritual, sebagai sarana kita bersyukur dan memohon ampunan kepada Allah SWT bagi para leluhur. Nilai Kultural, sebagai upaya nyata kita dalam nguri-uri atau melestarikan budaya Jawa agar tidak luntur tertelan zaman. Serta Nilai Sosial, sebagai ajang silaturahmi akbar bagi seluruh warga dan keluarga besar untuk mempererat persaudaraan atau guyub rukun.
Hadirin yang berbahagia,
Pemerintah Kabupaten Magelang berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan pelestarian cagar budaya dan tradisi lokal seperti ini. Bahkan pada tahun 2025 melalui SK Bupati Magelang nomor : 180.182/71/KEP/04/2026 Tentang Penetapan Komplek Makam Adipati Kanjeng Raden Tumenggung Djajaningrat II sebagai Struktur Cagar Budaya, ini sebagai salah satu bukti komitmen pemerintah daerah dalam rangka melestarikan Cagar Budaya.
Untuk itu saya berharap, Sadran Agung ini dapat terus dijaga kelestariannya dan diwariskan kepada anak cucu kita, agar mereka mengerti jati dirinya sebagai bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarahnya.
Mengakhiri sambutan ini, saya ucapkan terima kasih kepada panitia penyelenggara dan seluruh warga Desa Kredenan; yang telah bergotong-royong sehingga acara ini dapat berjalan dengan khidmad dan lancar.
Semoga doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan berkah serta ketentraman senantiasa; menyertai masyarakat Desa Kredenan dan Kabupaten Magelang pada umumnya. Hadirin sekalian yang saya hormati,
Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan ridha-Nya untuk segala ikhtiar kita dalam merawat tradisi dan melestarikan cagar budaya warisan bangsa.”
Harmoni Lokal untuk Perdamaian Dunia
Baik World Interfaith Harmony Week maupun tradisi Nyadran menyampaikan pesan universal yang sama, yakni pentingnya; kerukunan dan saling pengertian sebagai landasan hidup bersama.
Di tengah dinamika global yang kerap diwarnai konflik, kearifan lokal seperti Nyadran membuktikan bahwa harmoni; dapat tumbuh dari akar budaya: dari doa bersama, gotong royong, hingga penghormatan terhadap leluhur.
Bagi masyarakat Magelang, tradisi ini bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan jembatan persatuan menuju masa depan yang damai dan inklusif.
Penulis : Chabibullah ( Warga Desa Kradenan Srumbung Magelang)
About The Author
- Penulis: BNews 2




Saat ini belum ada komentar