Trimah, Perempuan Asal Bandongan Gunakan Kedua Kakinya Untuk Membatik

BNews—MUNGKID— Namanya Trimah, seorang perempuan berumur 28 tahun asal Dusun Tonoboyo Desa Krajan Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang. Seketika dilihat dirinya tidak berbeda dengan layaknya perempuan lainnya, namun sekilas diperhatikan dirinya merupakan Disabilitas dengan tidak memiliki sepasang tangan sejak dirinya dilahirkan.

 

Tetapi siapa sangka dengan kekurangan tersebut dirinya memiliki keahlihan khusus dalam membatik. Ia mempergunakan kedua kakinya untuk menggariskan cantik batik di selembar kain dengan lihainya.

 

Perempuan kelahiran 15 April 1990 ini merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Semuanya perempuan dan hanya Trimah yang mengalami kelainan fisik. Ayahnya seorang buruh sopir, Sementara ibunya adalah seorang pedagang nasi angkringan. Dulu ibundanya pernah memiliki pabrik keripik singkong, tapi pabrik itu bangkrut dan habis akibat musibah kebakaran.

 

“Keluarga saya berbesar hati menerima kondisi saya seperti ini, dan mereka tetap menyayangi saya seperti anak-anak lain,” ungkap Trimah saat ditemui di stand pamerah di sebuah acara di Lapangan Drh.Soepardi Sawitan Kota Mungkid kemarin (29/8).

 

Dia tumbuh selayaknya anak normal lainnya. Dia bersekolah SD Tonoboyo 1, kemudian lanjut ke SMP dan SMA Negeri 1 Bandongan. Dan kini dirinya bergabung dalam sebuah Unit Usaha Anggota Paguyupan Warsa Mundung, dimana disana dirinya bersama rekan-rekanya lainya yang hampir sama disabilitas.

 

Trimah mulai gemar membantik saat melihat orang lain dengan tekun dan ulet membatik diatas sebuah kain putih. Dia mulai penasaran dan tertantang sehingga mempraktekannya dengan segala keterbatasanya, ia memaksimalkan kemampuan kedua kakinya seperti biasanya dia mempergunakan kedua kakinya untuk melakukan kegiatan seperti menulis,bermain handphone dan lain sebagainya.

 

Trimah membatik menggunakan kaki. Ia belajar dari cara memegang canting menggunakan jari kaki. Lalu belajar membuat titik, garis dan pola. Lima bulan kemudian dirinya belajar bersama teman-teman difabel dan dibimbing guru, Trimah dapat membuat garis, dan pola batik yang bagus.

 

Sudah lima tahun sejak Trimah menjadi pembatik. Karyanya sudah dikirim kemana-mana, bahkan sampai luar negeri. Harganya dari mulai Rp 200ribu, Rp 400ribu sampai paling mahal puluhan juta. Pelanggannya dari masyarakat biasa, pejabat bahkan sampai setingkat Gubernur.

 

“Batik karya saya sudah tak terhitung jumlahnya, banyak sekali. Dikirim ke mana-mana, bahkan ke luar negeri. Paling mahal dulu puluhan juta, dibeli oleh Gubernur. Batik karya saya juga sampai Australia,” paparnya.

 

Trimah juga berharap agar seluruh penyandang disabilitas dapat menunjukkan diri, memiliki kemampuan, membentuk banyak komunitas yang berdiri sendiri, dan mengambil berbagai kesempatan untuk mandiri. “Saya juga meminta pemerintah untuk terus memperhatikan nasib masyarakat penyandang disabilitas, berikut hak-hak mereka. Hal ini agar kami juga mampu mandiri tidak dpandang sebelah mata atau diremehkan,” pungkasnya. (bsn)

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: