Viral Janin Hilang Saat Hamil 9 Bulan, Dokter Ungkap Fakta Medis
- calendar_month Kam, 15 Mei 2025

ILUSTRASI : Tampak seorang wanita hamil
BNews-NASIONAL- Beberapa waktu lalu, kisah mengenai janin hilang dalam kandungan kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Cerita tersebut mengungkapkan pengalaman pasangan suami istri dari sebuah daerah di Sumatera yang rutin memeriksakan kehamilan.
Namun, saat melakukan pemeriksaan USG pada usia kehamilan 9 bulan, janin tiba-tiba dinyatakan hilang.
Untuk memastikannya, dokter melakukan pemeriksaan USG ulang. Namun hasilnya tetap sama, tidak ditemukan janin. Beberapa dokter lain yang turut memeriksa juga tidak menemukan tanda-tanda kehamilan.
Cerita ini memicu banyak pertanyaan dari masyarakat, terutama soal kemungkinan janin bisa hilang secara tiba-tiba dari kandungan. Apakah ada penjelasan medis yang bisa menjawab fenomena ini?
Penjelasan Medis: Benarkah Janin Bisa Hilang Tiba-Tiba?
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Yassin Yanuar Mohammad, Sp.OG (K) FER, M.Sc, menjelaskan bahwa kebenaran cerita ini belum bisa dipastikan karena minimnya data. Dalam unggahan yang viral di media sosial, tidak dijelaskan secara rinci kondisi ibu yang disebut kehilangan janin tersebut.
“Kalau secara metode ilmu pengetahuan atau saintifik, kita enggak bisa menverifikasi apa yang dialami oleh si ibu. Sebab, data-data dan informasinya terbatas,” kata Yassin saat dikutip HaiBunda, Kamis (15/5/25).
Lebih lanjut, dr. Yassin menegaskan bahwa dari sudut pandang medis dan sains, fenomena janin hilang secara tiba-tiba tidak mungkin terjadi.
“Secara saintifik sebenarnya enggak perlu untuk dianalisis karena apa yang dialami itu enggak mungkin,” ungkapnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Masyarakat juga harus hati-hati dalam menikmati produk konten atau informasi yang diterima dari platform manapun, terutama media sosial, yang memang secara logika atau rasional itu sulit untuk diverifikasi ya. Itu bisa memengaruhi kebutuhan seseorang dalam bersikap, menimbulkan kekhawatiran, kecemasan, dan bahkan menimbulkan kegemparan,” sambungnya.
Cara Memastikan Kehamilan: Tidak Hanya Lewat USG
Dr. Yassin menjelaskan bahwa USG bukan satu-satunya metode untuk memastikan kehamilan. Kehamilan bisa dikenali lewat perubahan fisik dan tes kehamilan seperti test pack.
“Sebenarnya untuk menverifikasi sebuah kehamilan itu bukanlah hal yang susah. Jadi kalau kita ketemu suatu keluhan, tanda, atau suatu kondisi tertentu, maka kita bisa dengan mudah menverifikasinya. Misalnya, kalau ada seorang mengalami keluhan hamil, itu tinggal tes kehamilan saja. Kalau positif artinya hamil, negatif berarti ibu tidak pernah hamil,” ungkapnya.
Gejala fisik seperti terlambat haid, payudara membesar, mual, muntah, kenaikan berat badan, dan perubahan kondisi kulit juga bisa menjadi tanda awal kehamilan.
Selain itu, pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk mendeteksi kadar hormon hCG (human chorionic gonadotropin) yang hanya diproduksi selama masa kehamilan.
“Kalau misalnya tidak cukup tanda-tanda fisik itu, kita bisa cek darah untuk tahu kadar hormon kehamilannya. Janin itu akan mengeluarkan hCG. Nah, dari kadar hormon itu, kita bisa kira-kira usia kehamilannya,” kata Yassin.
Pseudocyesis: Kondisi Kejiwaan yang Mirip Kehamilan
Fenomena janin hilang juga bisa berkaitan dengan pseudocyesis, yaitu kondisi psikologis di mana seseorang yakin sedang hamil padahal sebenarnya tidak.
“Dia merasa hamil, tapi tubuhnya sebenarnya tidak hamil. Gejala yang timbul mirip-mirip orang hamil, mungkin dia tidak mengalami haid, berat badannya bertambah, nafsu makan meningkat, dan lainnya,” ujar Yassin.
“Kita harus melihat bahwa ini adalah kondisi kejiwaan yang sedang berlangsung pada seseorang. Biasanya, orang dengan pseudocyesis ini memiliki riwayat kejiwaan, seperti pernah mengalami keguguran berulang atau dia ingin sekali hamil.”
Kesimpulan
Kasus janin hilang secara tiba-tiba sulit diverifikasi secara medis, terutama jika hanya mengandalkan cerita tanpa data medis yang akurat. Pemeriksaan hormon hCG, USG, dan perubahan fisik tetap menjadi dasar utama dalam memastikan adanya kehamilan.
Semoga informasi ini membantu masyarakat untuk lebih waspada dalam menerima dan menyebarkan informasi kesehatan, terutama yang beredar di media sosial tanpa konfirmasi medis yang jelas. (*)
About The Author
- Penulis: Marisa Oktavani





Saat ini belum ada komentar