WOW…di Kongres Sampah Pempers Jadi Pupuk Spesial

BNews—SEMARANG— Ide-ide gila sejumlah kelompok pemerhati sampah benar-benar muncul di Even Kongres Sampah yang digelar di Kesongo Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Aneka inovasi pengolahan sampah ditemukan disini.

Salah satu kreasi yang paling menyita perhatian adalah proses inovasi sampah Pempers. Dimana, bagi pemerhati sampah, pempres merupakan bahan yang paling susah diurai. Bahkan butuh 100 tahun lamanya.

Advertisements


Tapi di tangan para personel Pempers Mania ini, sampah jenis ini bisa dipakai untuk Fermentasi dan diubah menjadi pupuk. “Dengan fermentasi pampers tersebut tanaman hanya memerlukan disiram seminggu sekali. Karena Fermentasi Pampers tersebut mengandung senyawa yang mengikat cairan,” kata Dadang Prakoso, personel Pampers Mania.


Fermentasi tersebut dibuat dari beberapa bahan dasar. Air kelapa sebanyak 2 liter ditambah gula 50 gram, probiotik 100 ml dan trasi 1 sendok teh. Untuk Pampers yang diambil adalah bagian gel yang ada di dalam Pampers. Dadang mengatakan untuk membuat Fermentasi Pampers, campur seluruh bahan selama 24 jam. Kemudian masukkan Pampers.

“Diamkan maksimal 14 hari. Tutup rapat dan diberi selang untuk tanda fermentasi. Untuk dijadikan pupuk ditambah urine sapi,” katanya.

Sementara untuk Pampers yang telah dimasukkan sebagai bahan fermentasi bisa dijadikan media tanam dengan perbandingan 1 banding 4 dengan tanah. Dia menjelaskan fermentasi pampers tersebut merupakan hasil penelitiannya selama dua bulan.

“Yang sudah kami uji selama tanaman bunga dan sayuran. Dan sangat efektif pertumbuhannya,” katanya.

Di acara Kongres Sampah tersebut memang dipamerkan puluhan inovasi pengolahan maupun pemanfaatan sampah. Selain Fermentasi Pampers tersebut juga ada kreasi pengolahan sampah karya pelajar.

Siswa SMK Munadi Ungaran yang mengeluarkan inovasi Insirok atau insektisida Sisa Rokok dan Inselicata atau insektisida Limbah Cair Tahu.

“Insektisida ini bukan untuk membunuh hama seperti insektisida lain. Karena dengan membunuh akan memutus rantai organisme. Insektisida ini akan membuat hama yang menyerang tanaman tidak akan kembali,” katanya.

Kemudian ada inovasi bahan bakar dari sampah plastik, kotoran sapi dan Enceng Gondok kreasi Kelompok Tani Hutan Agni Mandiri Cabang Dinas Kehutanan III Jateng.

“Untuk plastik yang kami gunakan adalah plastik bening. Kita suling dan minyaknya bisa sebagai bahan bakar untuk memasak. Dari Enceng Gondok dan kotoran sapi juga demikian,” katanya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan segala bentuk olahan dan pemanfaatan sampah tersebut sangat memberi manfaat, bukan hanya ekonomis tapi juga untuk lingkungan.

“Ini karya anak bangsa yang luar biasa. Karena bisa mengurangi sekaligus memanfaatkan. Bukan hanya ekonomis tapi juga manfaat untuk lingkungan,” kata Ganjar.

Bahkan Ganjar yang keliling stand inovasi pengelolaan sampah tersebut membeli tas dari plastik dan sandal dari Enceng Gondok. Untuk Enceng Gondok memnag banyak dimanfaatkan masyarakat untuk beragam kerajinan. Selain sandal ada juga topi, piring, keranjang, kursi lantai bahkan kotak jajanan.

“Mari kita duduk bersama menyelesaikan persoalan ini agar kehidupan lebih baik menyambut pembangunan berkelanjutan. Lingkungan terjaga sampah terkelola. Dan bisa mempertanggungjawabkan sampah kita pada kehidupan,” kata Ganjar. (lhr/bn1)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: