9 KK Belum Terima Uang Ganti Untung Proyek Tol Jogja-Solo

BNews—JATENG— Rumah warga Dusun Klinggen, Desa Guwokajen, Kecamatan Sawit mulai dikosongkan pasca penerimaan uang ganti untung proyek Tol Jogja-Solo. Meski tak ada relokasi bersama, sebagian warga memilih mencari tempat baru di sekitar Guwokajen.

Sedang alat berat mulai berlalu lalang di jalan dukub tersebut. Lantaran tepat di selatan dusun akan dibangun jembatan tol. Dimana pengurukan dan pembangunan jembatan merupakan prioritas pengerjaan proyek jalan tol ini.

Salah seorang warga Dusun Klinggen, Parmo, 70, mengaku enggan pindah jauh-jauh dari rumah lamanya. Ia memilih tetap berada di Desa Guwokajen. Dia sudah membeli sebidang tanah seluas 300 meter persegi di dusun tersebut.

”Saat ini tanah sudah diratakan dan siap untuk dibangun rumah. Harga masih murah karena milik kerabat sendiri, berkisar Rp 500 ribu permeter persegi,” ungkapnya, Selasa (12/10).

Ia menjelaskan, beberapa warga juga memilih pindah berpencar. Bahkan ada yang lain kecamatan. Namun, dirinya beruntung masih bisa mendapatkan lahan yang dekat dengan tempat asalnya.

Ketua RT06 RW02  Dusun Klinggen Aris Harjono mengungkapkan, dampak pembangunan Tol Jogja-Solo juga berimbas pada harga tanah di sekitar yang melonjak tajam. Kenaikan harga tanah mencapai dua kalilipat dari harga normal.

”Harga tanah yang semula hanya Rp300 ribu sampai R 500 ribu pe meter persegi, menjadi Rp1 juta per meter persegi. Jadi mau tidak mau, warga harus pintar- pintar memanfaatkan uang ganti rugi yang diterima,” katanya.

Aris menjelaskan, pasca pembayaran UGR pada 57 Kepala Keluarga (KK) sebagian besar warga telah pindah. Kebanyakan membeli rumah pengganti di luar daerah. Meski ada pula yang membeli rumah atau tanah di Dusun Klinggen sehingga tak perlu pindah jauh.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Sayangnya, belum semua warga menerima uang ganti untung. Ada sembilan KK yang belum menerima UGR lantaran terkendala administrasi. Saat ini, masih dalam proses melengkapi syarat administrasi. Warga juga menepati janji bahwa setelah uang gantni untung klir kendaraan proyek bisa melintasi jalan dusun.

”Warga bertindak konsekuen. Kami tidak menghalangi kendaraan proyek masuk Dusun Klinggen untuk membuat jembatan darurat yang melintas di Sungai Klinggen penghubung ke Desa Jatirejo, Kecamatan Sawit,” jelasnya.

Ketua Tim Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tol Jogja-Solo Wijayanto mengungkapkan, pengerjaan fisik jalan tol terkendala pembebasan lahan. Pihaknya menargetkan pembebasan lahan selesai pada akhir tahun ini. Sedang pengerjaan fisik Tol Joga-Solo khusus di Boyolali akan dikebut pada 2022 sampai pertengahan 2023. Saat ini, pembangunan fisik sudah dimulai dari Jembungan, Banyudono ke arah selatan sampai Ngawen, Klaten.

”Pekerjaan yang harus dikejar terlalu banyak. Kalau dikejar (pembangunan fisik) sampai Prambanan kami tidak sanggup. Jadi akhir tahun baru sampai Ngawen, Klaten. Semoga sampai akhir 2022 bisa full usahanya, sehingga pekerjaan fisiknya bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.

Nantinya, Tol Jogja-Solo akan dilengkapi dua rest area di daerah Klaten, baik di lajur A dan B. Wijayanto berharap pembangunan jalan Tol Jogja-Solo berimbas pada perkembangan perekonomian masyarakat. Jalan tol ini akan memudahkan akses menuju Jogja yang hanya memakan waktu sekitar 20 menit. (ifa/han)

Sumber: Radar Solo

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: