Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Abu Nawas Si Penyair Ulung yang Jenaka, Mencari Neraka di Siang Hari

Abu Nawas Si Penyair Ulung yang Jenaka, Mencari Neraka di Siang Hari

  • calendar_month Sel, 17 Okt 2023

BNews-MAGELANG– Abu Nawas, juga dikenal sebagai Abu Nuwas, adalah seorang penyair Arab klasik yang terkenal dengan karya-karyanya yang jenaka. Meskipun banyak yang mengenalnya dengan panggilan Abu Nawas, sebenarnya itu bukanlah nama aslinya.

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani’ al-Hakami. Julukan Abu Nawas sendiri ia peroleh karena rambutnya yang ikal dan panjang sebahu.

Abu Nawas lahir di provinsi Ahwaz sekitar Khuzistan, barat daya Persia pada tahun 757 M. Meskipun begitu, terdapat perbedaan pendapat tentang tahun kelahirannya.

Kisah Abu Nawas sebagai seorang penyair yang ulung dan cerdik tertuang dalam berbagai buku, salah satunya; adalah buku “Abu Nawas Sufi dan Penyair Ulung yang Jenaka” yang ditulis oleh Muhammad Ali Fakih.

Ketika sudah dewasa, Abu Nawas bekerja sebagai pembuat minyak wangi dan pada saat itu ia sering pergi ke masjid; untuk belajar berbagai ilmu agama dan sastra, termasuk syair, fikih, dan hadits. Ia terkenal sebagai murid yang cerdas; dan bersemangat dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

Suatu hari, Abu Nawas bertemu dengan Abu Usamah, seorang ahli sastra dan pujangga terkenal. Abu Nawas sangat terkesan dengan kemampuan Abu Usamah dalam membuat syair; sehingga ia diajarkan berbagai ilmu mengenai syair oleh Abu Usamah.

Salah satu cerita menarik mengenai Abu Nawas adalah ketika ia dengan gigih mencari neraka. Pada saat itu, Abu Nawas adalah seorang staf ahli dari Khalifah Harun Al-Rasyid.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Suatu siang, Abu Nawas membawa lampu minyak dan menggoyangkannya sambil berkeliling di setiap sudut rumah. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya sambil memegang lampu tersebut.

Kelakuan Abu Nawas ini membuat penghuni Baghdad merasa heran. Bagaimana mungkin seorang yang begitu cerdas seperti Abu Nawas bisa berjalan di siang hari dengan membawa lampu sambil matahari bersinar terang?

Ada salah satu warga Baghdad yang mengatakan, “Abu Nawas pasti menjadi gila.”

Namun, Abu Nawas tak peduli dengan komentar tersebut. Keesokan harinya, ia melakukan hal yang sama, bahkan lebih pagi; sambil tetap membawa lampu minyak.

Abu Nawas berjalan dengan tenang sambil menoleh ke kanan dan kiri.

Tingkah lakunya ini membuat beberapa orang bertanya-tanya kepada Abu Nawas, apa sebenarnya yang sedang ia cari di siang hari dengan membawa lampu?

Dengan santai, Abu Nawas menjawab, “Saya sedang mencari neraka.”

Dari situlah, muncul anggapan bahwa Abu Nawas sudah benar-benar gila. Bahkan pada hari ketiga, ia masih terus melakukan hal yang sama dan membawa lampu minyak yang digoyang-goyangkan.

Para warga Baghdad yang tidak bisa lagi menahan kelakuan Abu Nawas, akhirnya menangkapnya. Di Baghdad, terdapat undang-undang yang melarang orang gila berkeliaran.

Musuh-musuh politik Khalifah Harun Al-Rasyid justru merasa senang melihat Abu Nawas ditangkap. Mereka melihat kesewenang-wenangan Abu Nawas sebagai peluang untuk mencemarkan nama baik sang khalifah.

Merasa malu dengan kelakuan Abu Nawas, Khalifah Harun Al-Rasyid memanggilnya dengan nada tinggi, “Abu Nawas, apa yang sedang kamu lakukan dengan membawa lampu minyak siang-siang?”

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Abu Nawas dengan lancar menjawab, “Hamba sedang mencari neraka, Yang Mulia.”

“Kamu gila, Abu Nawas. Kamu gila!” seru sang khalifah dengan kesal.

“Tidak, Yang Mulia. Mereka yang gila,” balas Abu Nawas seakan tidak terpengaruh.

“Siapa mereka?”

Abu Nawas kemudian meminta orang-orang yang menangkapnya untuk dikumpulkan di istana. Di depan istana, Abu Nawas didampingi oleh Khalifah Harun saat mendatangi para penangkapnya.

“Wahai kalian yang mengaku waras, apakah kalian selama ini menganggap orang lain yang berpikiran dan memilih yang berbeda dengan kalian adalah munafik?” tanya Abu Nawas.

“Ya!” jawab mereka dengan yakin.

“Lalu, apakah kalian juga yang menyatakan bahwa orang-orang munafik itu sesat?”

“Ya, mereka pasti sesat!” jawab orang-orang tersebut dengan tegas.

“Jika mereka adalah munafik dan sesat, apa konsekuensinya?” tanya Abu Nawas lagi.

“Orang munafik pasti masuk neraka! Mereka itu munafik yang sesat!” sahut mereka dengan mantap.

Mendengar jawaban tersebut, Abu Nawas kembali menimpali, “Baik, jika saya ini munafik, sesat, dan akan masuk neraka, tolong beritahu saya di mana tepatnya neraka yang dimaksud? Dan, siapa yang memiliki neraka tersebut?”

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Sambil berkata demikian, Abu Nawas mengangkat tinggi lampu di tangannya. Gerakan ini seakan-akan ia sedang mencari sesuatu.

Jawaban Abu Nawas membuat orang-orang yang berada di depan Khalifah Harun mulai kehilangan kesabaran. Mereka merasa diperolok-olokkan oleh tingkah Abu Nawas.

“Hai Abu Nawas, tentu saja neraka ada di akhirat dan neraka itu adalah kepunyaan Allah. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya salah seorang dengan sedikit kesal.

“Mohon maaf, Yang Mulia. Sampaikan pada mereka, jika neraka ada di akhirat dan kepunyaan Allah, mengapa mereka begitu gemar menentukan bahwa orang lain akan masuk neraka di dunia ini?” tanya Abu Nawas.

“Apakah mereka merupakan asisten Allah yang memiliki catatan rahasia-Nya? Atau mungkin merekalah yang sebenarnya gila?” lanjutnya.

Ucapan Abu Nawas membuat khalifah Harun Al-Rasyid tertawa. Sungguh jenaka sosok Abu Nawas di mata sang khalifah. Kemudian, Khalifah Harun berkata sambil masih tertawa, “Abu Nawas, besok siang lanjutkanlah pencarianmu untuk menemukan neraka. Jika sudah menemukannya, silahkan jebloskan mereka ke dalamnya.”. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less