Ada 6 Fenomena Astronomi September 2020, Salah Satunya Konjungsi Merkurius-Spica

BNews—NASIONAL—Pada September 2020 ini akan ada beberapa fenomena astronomi yang dapat diamati. Informasi tersebut diungkap oleh Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Pussainsa LAPAN).

Daftar beberapa fenomena tersebut biasanya disebut dengan Kalender Astronomi. Dalam akun Instagram-nya, Pussainsa LAPAN menyebut fenomena tersebut dalam kalender astronomi bagian 3.

Selama periode 16 hingga 22 September 2020, LAPAN mencatat setidaknya ada enam fenomena astronomi. Berikut keenam fenomena astronomi yang dapat diamati tersebut.

Ketampakan terakhir Bulan Sabit Tua

Bulan sabit tua dapat disaksikan terakhir kali dengan mata telanjang pada 16 September sejak pukul 4.45 WIB hingga terbit Matahari (5.45 WIB).

Bulan sabit tua kali ini berumur 27 hari 20 jam, elongasi 21,5 derajat dan terbit dari arah timur laut di konstelasi Leo dekat manzilah Algieba.

Fase Bulan Baru

Loading...

Bulan memasuki fase konjungsi atau Bulan Baru pada 17 September 2020 pukul 17.59 WIB. Bulan terletak di konstelasi Leo dekat manzilah Zosma.

Ketinggian bulan di Indonesia pada petang hari 17 September bervariasi antara -1,63 derajat (Merauke) hingga 1,04 derajat (Sabang). Sedangkan sudut elongasi Bulan-Matahari bervariasi antara 3,68 derajat (Sabang) hingga 4,16 derajat (Merauke), sehingga Bulan mustahil dapat terlihat bahkan dengan alat optik sekalipun.

Ketampakan pertama Bulan Sabit Muda

Bulan sabit muda dapat disaksikan pertama kali dengan mata telanjang pada 18 September 2020 sejak terbenam Matahari (17.45 WIB) hingga 18.45 WIB. Ketika bukan terbenam dengan jarak toposentris 357.621 km, iluminasi 1,66 persen dan lebar sudut 0,55 menit busur.

Bulan sabit muda kali ini berumur 23,75 jam, elongasi 14,8 derajat dan terbenam dari arah barat di konstelasi Virgo dekat manzila Auva.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Perigee Bulan

Bulan akan berada pada titik terdekat Bumi (perigee) pada pukul 20.41.12 WIB dengan jarak 359.093 km, iluminasi 2,04 persen (fase sabit awal) dan lebar sudut 0,68 menit busur.

Bulan terletak di konstelasi Virgo ketika perigee akan tetap baru dapat disaksikan mulai pukul 17.45 WIB di arah timur dan terbenam pada pukul 18.45 WIB.

Konjungsi Merkurius-Spica

Fenomena ini dapat diamati pada 22 September 2020. Spica merupakan bintang paling terang di antara bintang lainnya yang terletak di konstelasi Virgo. Dalam sistem manzilah Arab, Spica dikenal sebagai as-Simak, sementara dalam sistem manzilah India, Spica disebut Caitra yang bermakna ‘paling terang’.

Puncak konjungsi Merkurius-Spica terjadi pada pukul 18.26.58 dengan sudut pisah 0,27 derajat. Fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang dari arah barat dengan ketinggian 10,7 derajat selama kondisi langit cerah, bebas polusi cahaya maupun bebas dari penghalang di sekitar medan pandangan.

Ekuinoks September

Fenomena ini merupakan titik perpotongan ekliptika dan ekuator langit yang dilewati Matahari dalam perjalanan semu tahunan. Matahari dari langit belahan utara menuju ke langit belahan selatan. Dikenal juga sebagai Ekuinoks Musim Gugur (autumnal equinox) di belahan utara dan Ekuinoks Musim Semi (vernal equinox) di belahan selatan.

Ekuinoks September terjadi pada 22 September 2020 pukul 20.30 WIB. Bagi pengamat yang berada di garis katulistiwa, akan mendapat Matahari yang tepat berada di atas kepala ketika tengah hari. Sedangkan untuk tempat lain, Matahari akan condong ke Utara atau Selatan sejauh lintang tempat berada. (*/mta)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: