Ambengan Tradisi Unik Ansor Kajoran Selama Ramadhan

BNews—KAJORAN— Ada yang unik dilakukan Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kajoran ini. Mereka menggelar Terawih dan Silaturahmi keliling dan tradisi makan bersama dalam satu nampan yang mereka sebut ambengan.

Tradisi makan bersama di napan ini terbilang unik karena dilakukan setelah sholat teraweh dan kajian agama secara bersama-sama dengan jamaah lain. Dengan menu ala kampung, nasi kluban dan lauk seadanya terkadang mereka makan beralaskan daun ala santri pondok pesantren atau sering orang sebut kembul bujono.

Advertisements


Ambengan sendiri diambil dari kata Ngambeng dengan jenis makanan disebut nasi Ngambeng. Dimana tradisi ini dikenal sebagai tradisi jawa kuno yang sudah ada sejak turun temurun.


Yang menjadi dasar atau prinsip utama dalam ngambeng adalah bersedekah makanan. Pelaksanaannya yaitu di sesi pamungkas acara-acara keislaman seperti di atas, tepatnya usai pengajian, mujahadah, atau khataman pembacaan Al Barzanji. Masing-masing jamaah yang hadir dalam acara-acara keislaman tersebut membawa nampan atau wadah berisi nasi dan lauk pauknya, saat tertentu seperti nyadran juga membawa Ingkung selain nasi beserta lauknya.

Ambengan atau nasi ngambengan sering juga dilakukan di pondok pesantren-pondok pesantren NU di Jawa. Nasi ambeng juga populer di Malaysia, terutama di kalangan orang Malaysia keturunan Jawa, dan juga dikenal dengan nama nasi ambang. Hidangan ini juga dapat dijumpai di Singapura. Penyajian nasi ambeng di Malaysia maupun Singapura hampir sama dengan penyajian nasi ambeng di Jawa. Nasi dan lauk pauknya diletakkan di atas talam untuk dimakan bersama-sama.

Ketua GP Ansor Kecamatan Kajoran, M.Arif Solikhan mengatakan ini merupakan tradisi turun temurun yang kami sisipan dalam program bulan Ramadhan GP Ansor Kecamatan Kajoran. “Selama Ramadhan kali ini kami lakukan setiap malam sabtu di tiga masjid yang berbeda, yakni Masjid Desa Kajoran, Masjid Desa Sutopati dan Masjid Desa Banjaretno,” katanya (26/5).

Untuk rangkaian kegiatan sendiri dimulai dengan sholat isya’ bersama, sholat tarawih, kajian agama dan diakhiri dengan acara ambengan yaitu makan bersama dalam nampan. “Untuk tradisi ambengan tersebut memang sengaja kami adakan untuk melestarikan budaya turun-temurun,” imbuhnya.

“Harapan saya dengan kegiatan keagamaan dengan dipadukan tradisi turun temurun ini sebagai upaya melestarikan nilai-nilai aswaja ditengah berkembangnya paham-paham radikalisme,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: