Banyak Beredar Rokok Ilegal Di Pasaran, Bea Cukai Magelang Gelar Sosialisasi

BNews–KOTA MAGELANG– Banyaknya peredaran rokok ilegal di pasaran, membuat Bea Cukai Magelang gelar sosialisasi. Dengan menggandeng Sekretariat Daerah Kota Magelang mereka memanfaatkan media radio lokal untuk sosialisasi.

Sosialisasi tersebut merupakan langkah mengampanyekan bahaya rokok ilegal. Serta terkait dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT),Selasa (27/10) lalu.

Mereka menggelar Talkshow di radio lokal Kota Magelang dengan menghadirkan Kepala Kantor Bea Cukai Magelang Heru Prayitno. Dirinya tidak sendiri, karena bersama Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Kota Magelang Saleh Apriyanto sebagai narasumbernya.

Lewat acara itu, Heru menjelaskan bahwa rokok ilegal memiliki beberapa ciri, seperti tidak dilekati pita cukai, berpita cukai palsu, bekas, salah peruntukkan, dan salah personalisasi.

“Biasanya, ciri-cirinya seperti merek rokok tidak dikenal, tidak ada nama pabrik rokok, merek mirip dengan produk rokok resmi; tidak disertai tanda peringatan pemerintah mengenai bahaya merokok, dan dijual dengan harga sangat murah,” jelasnya.

Upaya penindakan terhadap pelanggaran rokok ilegal terus dilakukan. Di tahun 2018, Bea Cukai Magelang berhasil melakukan penindakan sebanyak 64 kali. Dengan total kerugian negara mencapai Rp 326 juta.

Pada 2019, jumlah penindakan sebanyak 29 kali dengan total kerugian negara dari nilai cukai sebesar Rp 1,30 miliar.

Loading...
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Dua kali penindakan dilakukan proses penyidikan dan telah mendapatkan putusan pengadilan,” kata Heru.

Cukai rokok bukan hanya sebagai objek penerimaan, tetapi juga untuk membatasi konsumsinya karena masalah kesehatan. Harapannya, seluruh lapisan masyarakat dapat turut serta dalam memerangi peredaran rokok ilegal dengan cara tidak membelinya.

Jika mengetahui adanya peredaran rokok ilegal dapat menginformasikan kepada kantor Bea Cukai terdekat,” sambung Heru.

Hal itu penting karena sebagai salah satu penyumbang penerimaan negara terbesar, cukai merupakan komponen penting. Hasil tembakau, minuman beralkohol, dan etanol adalah barang-barang yang dikenakan cukai sehingga peredarannya perlu diawasi dan dikendalikan.

Menurutnya, pendapatan yang diperoleh dari cukai hasil tembakau dalam negeri, dua persennya dibagikan ke daerah-daerah penghasil cukai hasil tembakau. Penghasil tembakau kering, dan penghasil cengkih.

“Bea Cukai ikut berkontribusi sebagai instansi yang memungut cukai hasil tembakau dan sebagian dari nilai cukai tersebut dibagikan kepada pemda, itulah yang kita sebut sebagai DBHCHT,” katanya.

Di tahun 2020, Kota Magelang mendapat DBHCHT sebesar Rp 6,36 miliar, yang digunakan untuk peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri; pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan pemberantasan barang kena cukai ilegal.(*/jar)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: