Dulu Dipelihara Ribuan Tahun, Kini Babi Nyaris Tak Ada di Timur Tengah, Ini Alasannya
- calendar_month 18 menit yang lalu

Ilustrasi Hewan Babi di tengah gurun kawasan Timur Tengah_foto Ai
BNews—NASIONAL— Daging babi menjadi salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat di berbagai negara, berdampingan dengan daging sapi dan kambing. Namun, kondisi berbeda terlihat di kawasan Timur Tengah. Produk berbahan dasar babi hampir tidak ditemukan karena mayoritas penduduknya memeluk agama Islam yang mengharamkan konsumsi babi.
Meski demikian, catatan sejarah menunjukkan bahwa babi pernah menjadi salah satu hewan ternak sekaligus sumber pangan penting di kawasan Jazirah Arab.
Berdasarkan penelitian tim dari Kiel University, Jerman, yang dipublikasikan dalam riset Into Early Pig Domestication Provided by Ancient DNA Analysis (2017), babi pertama kali dijinakkan atau didomestikasi di kawasan Mesopotamia sekitar 8.500 Sebelum Masehi (SM). Dari wilayah tersebut, babi kemudian menyebar ke berbagai kawasan, termasuk Eropa, untuk dikembangbiakkan.
Temuan arkeologi juga menunjukkan bahwa pada periode sekitar 5.000 hingga 2.000 SM, masyarakat Timur Tengah memelihara babi sebagai salah satu sumber makanan utama. Hewan tersebut dirawat selama beberapa bulan sebelum dipotong sebagai penyedia protein yang bernilai gizi tinggi.
Namun, sekitar 1.000 SM, konsumsi dan pemeliharaan babi mulai mengalami penurunan secara signifikan. Para peneliti memiliki sejumlah teori yang menjelaskan mengapa masyarakat Jazirah Arab perlahan meninggalkan babi sebagai hewan ternak.
Ancaman terhadap Ekologi
Salah satu teori dikemukakan antropolog Marvin Harris dalam bukunya Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (2019).
Menurut Harris, babi merupakan hewan yang membutuhkan sumber daya cukup besar, terutama air. Seekor babi diperkirakan memerlukan sekitar 6.000 liter air untuk berkembang biak. Dalam kondisi kawasan Timur Tengah yang didominasi wilayah gurun dengan ketersediaan air terbatas, kebutuhan tersebut dianggap kurang efisien dibandingkan jika air digunakan langsung untuk kebutuhan manusia.
Selain itu, babi juga tidak dapat mengonsumsi rumput seperti kambing atau sapi. Hewan ini membutuhkan pakan berupa gandum, kacang-kacangan, dan buah-buahan yang juga menjadi bahan pangan utama manusia.
Atas dasar tersebut, Harris menilai faktor ekologi menjadi salah satu penyebab masyarakat Arab mulai meninggalkan peternakan babi.
“Babi mungkin enak, tetapi memberi makan binatang itu dan menjaganya tetap sejuk akan terlalu banyak menyita sumber daya,” ungkap Marvin Harris.
Kehadiran Ayam Sebagai Alternatif
Pandangan berbeda disampaikan sejarawan Richard W. Redding dalam tulisannya The Pig and the Chicken in the Middle East (2015).
Redding mengakui bahwa babi memang membutuhkan banyak air sehingga kurang sesuai dengan pola hidup masyarakat Arab yang pada masa itu banyak menjalani kehidupan nomaden atau berpindah-pindah.
Namun menurutnya, penyebab utama berkurangnya konsumsi babi adalah munculnya ayam sebagai pilihan ternak yang lebih efisien.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Ayam dinilai lebih mudah dipelihara, membutuhkan air lebih sedikit, serta menghasilkan dua sumber pangan sekaligus, yakni daging dan telur. Ukuran tubuh ayam yang relatif kecil juga membuat seluruh bagian dapat langsung dikonsumsi tanpa menyisakan banyak limbah makanan, berbeda dengan babi yang berukuran besar.
“Dalam keadaan seperti ini, ayam jadi sumber protein utama. […] Hal ini membuat babi menjadi tidak diperlukan lagi,” tulis Richard.
Konsumsi Babi Terus Menurun
Seiring perubahan pola hidup masyarakat, efisiensi peternakan, dan kondisi lingkungan, babi secara bertahap tidak lagi menjadi hewan ternak utama di Jazirah Arab.
Meskipun demikian, konsumsi babi tidak sepenuhnya hilang dari kawasan Timur Tengah. Hingga kini masih terdapat sebagian kecil masyarakat di beberapa wilayah yang tetap mengonsumsi daging babi sesuai tradisi dan keyakinan masing-masing. Namun secara umum, babi tidak lagi menjadi sumber pangan utama sebagaimana pada ribuan tahun lalu. (*/cnbc)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar