Belajar dari China, Ketahanan Pangan Indonesia Harus Bertumpu pada Kearifan Lokal
- calendar_month Kam, 29 Jan 2026

Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Dapil Jawa Tengah VI_Negeri Tirai Bambu, Ketahanan Pangan, dan Jalan Sunyi Kearifan Lokal
BNews-OPINI – Ada kalanya sebuah pelajaran tidak hadir sebagai contoh yang harus ditiru, melainkan sebagai cermin untuk melihat diri sendiri dengan lebih jernih.
Begitu pula dengan pengalaman China dalam menjaga ketahanan pangan, yang di sejumlah wilayahnya bertumpu pada bambu dan tunas mudanya atau rebung.
Praktik tersebut tidak perlu dipahami sebagai metafora berlebihan. Lebih tepat jika dibaca sebagai cara berpikir sebuah bangsa dalam merawat sumber pangan sesuai karakter alamnya.
Di China, rebung tumbuh karena ekosistemnya mendukung. Ia hadir pada wilayah dan musim tertentu, dengan batas panen yang dipahami bersama. Tidak semua daerah bergantung pada rebung, dan tidak semua masyarakat menjadikannya sumber pangan utama. Justru di situlah letak kebijaksanaannya.
Ketahanan pangan tidak dibangun dari satu komoditas yang dipaksakan merata, melainkan dari kesadaran bahwa setiap lanskap memiliki kekuatan masing-masing.
Pendekatan ini relevan bagi Indonesia, negara dengan keragaman ekologi yang jauh lebih kompleks. Dari sagu di wilayah timur, jagung dan umbi-umbian di daerah kering, hingga padi di kawasan basah; Indonesia sejatinya memiliki banyak “rebung” — sumber pangan lokal yang lahir dari kearifan masyarakat dan telah teruji oleh waktu.
Sayangnya, persoalan yang kerap muncul bukan pada ketersediaan sumber pangan, melainkan pada kecenderungan menyeragamkan produksi.
Upaya pemerintah untuk keluar dari ketergantungan impor patut diapresiasi sebagai langkah korektif. Capaian swasembada pada sejumlah komoditas strategis menunjukkan negara mulai kembali percaya pada kemampuan petani dan daya dukung lahan sendiri.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Namun, swasembada hanya akan kokoh jika dibangun di atas fondasi keragaman, bukan homogenisasi. Ketahanan pangan nasional tidak mungkin bertumpu pada satu tanaman, satu wilayah, atau satu pendekatan semata.
Di sinilah kearifan lokal menemukan relevansinya kembali. Ketika pangan diproduksi dan dikonsumsi sesuai kondisi setempat, risiko krisis akan lebih tersebar dan lebih mudah dikelola. Alam tidak dipaksa bekerja melampaui kemampuannya, sementara masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan luar.
Pendekatan ini bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi rasional menghadapi perubahan iklim dan ketidakpastian global.
Pengalaman China juga menunjukkan bahwa negara dapat hadir tanpa mematikan pengetahuan lokal. Pemerintah cukup menjaga kerangka besar seperti ekosistem, tata kelola, dan keberlanjutan, sementara masyarakat mengelola detail sesuai konteks wilayahnya. Bambu tumbuh di tempat yang tepat, pangan lain berkembang di daerah berbeda, tanpa ambisi menyeragamkan semuanya.
Indonesia berada di jalur yang sama jika mampu bersabar dan konsisten. Setelah menekan impor dan menegaskan swasembada, tantangan berikutnya adalah memastikan keberlanjutan. Caranya bukan dengan memperluas produksi secara seragam, tetapi dengan memahami potensi khas tiap daerah.
Ketahanan pangan masa depan seharusnya dirancang sebagai mozaik, bukan satu warna tunggal.
Pada akhirnya, rebung bukan sekadar simbol. Ia menjadi pengingat bahwa pangan tumbuh dari kesesuaian antara manusia dan alam. Setiap daerah memiliki “rebung”-nya sendiri, dengan nama dan bentuk berbeda.
Tugas negara dan masyarakat adalah menjaga kesesuaian tersebut, agar tidak rusak oleh keserakahan, ketergesaan, maupun kebijakan yang mengabaikan konteks.
Sebab ketahanan pangan sejatinya bukan tentang meniru jalan bangsa lain, melainkan menemukan kembali jalan kita sendiri—jalan yang sesungguhnya sudah lama ada, tetapi sering terabaikan. (adv)
Penulis : Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Dapil Jawa Tengah VI
About The Author
- Penulis: BNews 2




Saat ini belum ada komentar