Cara Hitung Weton Jodoh Jawa: Cocok atau Tidak dengan Pasanganmu? Cek di Sini!
- calendar_month Rab, 5 Nov 2025

Hitung Weton Jodohmu Sekarang! Bisa Jadi Tanda Hubungan Langgeng atau Pegat!_Foto ai
BNEWS—NASIONAL— Dalam budaya Jawa, weton bukan sekadar penanda hari lahir, tetapi juga menjadi pedoman hidup, termasuk dalam urusan paling sakral: pernikahan.
Perhitungan weton jodoh dipercaya membantu mencari keselarasan dan keseimbangan antara dua insan sebelum melangkah ke pelaminan.
Bagi masyarakat Jawa, tradisi ini bukan tentang meramal nasib, melainkan bentuk ikhtiar untuk meminimalkan risiko dan menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.
Artikel ini mengulas secara lengkap cara menghitung weton jodoh, memahami makna di baliknya, serta panduan menyikapinya menurut filosofi adat Jawa.
🏛️ Weton dan Neptu: Dasar Perhitungan Jodoh Jawa
Weton merupakan gabungan antara hari lahir (dino) dan pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
Masing-masing memiliki nilai numerik yang disebut Neptu, yang menjadi dasar utama dalam perhitungan kecocokan jodoh.
Tabel Nilai Neptu (Dino dan Pasaran)
Hari (Dino) Nilai Neptu Pasaran Nilai Neptu
Minggu 5 Kliwon 8
Senin 4 Legi 5
Selasa 3 Pahing 9
Rabu 7 Pon 7
Kamis 8 Wage 4
Jumat 6 – –
Sabtu 9 – –
💡 Contoh:
Jika seseorang lahir pada Rabu Pon, maka neptunya adalah 7 (Rabu) + 7 (Pon) = 14.
📐 Tata Cara Menghitung Weton Jodoh
Langkah menghitung weton jodoh cukup sederhana, yaitu dengan menjumlahkan total neptu kedua calon pasangan.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Tentukan nilai Neptu calon pria (misalnya, A).
Tentukan nilai Neptu calon wanita (misalnya, B).
Jumlahkan keduanya: Total Weton (T) = A + B
Contoh Kasus:
Calon pria lahir Jumat Kliwon → 6 (Jumat) + 8 (Kliwon) = 14
Calon wanita lahir Minggu Legi → 5 (Minggu) + 5 (Legi) = 10
Total Weton Jodoh (T) = 14 + 10 = 24
Angka total inilah yang kemudian ditafsirkan menurut Primbon Jawa.
🔮 Makna Ramalan Weton Jodoh Berdasarkan Total Neptu
Total Neptu (T) / Kategori Weton / Makna dan Ramalan Rumah Tangga
1, 9, 17, 25, 33 / Pegat (Cerai) / Rumah tangga rawan konflik dan masalah ekonomi, bisa berujung perceraian.
2, 10, 18, 26, 34/ Ratu (Diratukan) / Jodoh sejati, rumah tangga harmonis dan disegani banyak orang.
3, 11, 19, 27, 35 / Jodoh / Sangat baik, saling melengkapi dan hidup bahagia hingga tua.
4, 12, 20, 28, 36 /Topo (Masalah di Awal) / Awalnya sulit, namun dengan kesabaran akan berujung bahagia.
5, 13, 21, 29 Tinari/ (Selalu Bahagia) / Hidup penuh keberuntungan dan rezeki lancar.
6, 14, 22, 30 Padu / (Pertengkaran) / Sering cekcok kecil, namun tetap langgeng.
7, 15, 23, 31 / Sujanan (Perselingkuhan)/ Rawan masalah pihak ketiga, butuh saling percaya.
8, 16, 24, 32 / Pesthi (Harmonis) / Rumah tangga rukun, damai, dan tenteram.
📍 Berdasarkan contoh di atas (Total 24), pasangan tersebut masuk dalam kategori Pesthi, yang berarti harmonis dan damai.
🙏 Menyikapi Hasil Perhitungan Weton
Primbon Jawa mengajarkan agar hasil hitungan tidak dimaknai secara mutlak, melainkan sebagai bahan introspeksi dan persiapan mental.
Hasil Weton Baik (Ratu, Jodoh, Tinari, Pesthi):
Menjadi pertanda baik yang perlu disyukuri dan dijaga dengan cinta serta komitmen.
Hasil Weton Kurang Baik (Pegat, Topo, Padu, Sujanan):
Bukan larangan menikah, melainkan peringatan agar pasangan lebih waspada dan memperkuat komunikasi.
Solusi Adat:
Biasanya pasangan disarankan melakukan ritual ruwatan, memilih hari pernikahan baik (dina apik), atau memperbanyak doa dan sedekah untuk menolak bala.
Intinya, keharmonisan rumah tangga tidak ditentukan oleh angka, tetapi oleh ikhtiar, kasih sayang, dan saling pengertian antara suami dan istri.
🌟 Kesimpulan
Perhitungan weton jodoh merupakan bagian penting dalam tradisi pernikahan adat Jawa.
Melalui kombinasi nilai neptu, masyarakat berusaha memahami potensi keselarasan dan tantangan dalam berumah tangga.
Dari Pegat hingga Ratu, setiap kategori menyimpan filosofi hidup yang mendalam — mengajarkan keseimbangan, kehati-hatian, dan cinta yang tulus.
Dengan menggabungkan kearifan lokal dan nilai spiritual, pasangan dapat membangun rumah tangga harmonis dan langgeng, sesuai dengan ajaran luhur masyarakat Jawa. (*)
About The Author
- Penulis: Joe Joe



Saat ini belum ada komentar