Desa-desa Ini Akan Terkena Proyek Tol Yogya-Bawen

BNews-JOGJA– Sebanyak 21 Desa di Sembilan Kecamatan di Kabupaten Sleman akan terkenal proyek pembangunan Jalan Tol Yogya-Solo dan Bawen-Yogya. Hal ini karena  lahan tanah yang dibutuhkan mencapai sekitar 212,02 hektare.

Gatot dari Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mengaku masih menunggu permintaan izin penetapan lokasi (IPL) proyek tol di DIY. “Ijin tersebut kami tunggu dari Direktorat Jenderal Bina Marga Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kami masih menunggu permintaan IPL secara formal (dari Dirjen Bina Marga). Sejauh ini kami sudah menerima dokumen perencanaannya,” katanya September 2019 lalu.

Advertisements


Gatot menjelaskan dalam dokumen perencanaan ini disebutkan kebutuhan pengadaan tanah dengan total seluas 212,02 Hektare (Ha). “Untuk rinciannya adalah ruas tol Yogya-Solo mencapai 165,02 Hektare dan ruas Bawen-Yogya dengan luas 45 hektare. Adapun kebutuhan tanah untuk ruas Solo-Yogyakarta seluas 165,02 Ha ini berada di 14 desa yang tersebar di enam kecamatan yakni Ngaglik, Kalasan, Depok, Prambanan, Gamping dan Mlati,” imbuhnya.


Sementara, untuk tol ruas Bawen-Yogyakarta seluas 47 Ha ini berada di tujuh desa yang berada di tiga kecamatan yaitu Mlati, Seyegan, dan Tempel di Kabupaten Sleman. “Untuk pembangunan tol ruas Bawen-Yogyakarta tidak banyak membebaskan lahan karena dibangun melayang atau elevated. Pembangunan tersebut berada di atas Selokan Mataram, sedangkan ruas Yogyakarta-Solo banyak di bawah dan di atas Ring-Road sehingga lebih banyak membebaskan lahan,” urainya.

Perlu diketahu bahwa trase proyek tol di DIY yang sudah disetujui. “Untuk ruas tol Bawen-Yogyakarta sepanjang 71 Kilometer (Km) dan tol Yogyakarta-Solo sepanjang 40,5 Km.
Sementara itu, setelah pencermatan dokumen perencanaan, kemudian ada pengajuan IPL,” paparnya.

Gatot menyebutkan, penetapan IPL oleh Gubernur nantinya akan menjadi landasan dalam proses pembebasan lahan proyek pembangunan tol yang ada di DIY. Hal tersebut khususnya di trase yang telah disepakati untuk tol Bawen-Yogyakarta dan Yogyakarta-Solo.

BACA JUGA : Jalur Kereta Api Borobudur akan Nyambung Hingga Parangtritis

“Adapun setelah turun IPL, tahap selanjutnya baru sosialisasi kepada masyarakat. Kalau memang akan dibuat awal tahun maka segera harus (permohonan IPL). Kami juga melakukan cek di lapangan, karena gambar di kertas berbeda dengan kondisi sebenarnya,“ sebutnya..

Sementara Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan, pihaknya sejauh ini belum mendapat surat permohonan untuk IPL jalur tol Yogya-Solo dan Bawen-Yogya. “Ada kemungkinan masih didiskusikan di Kementrian Pekerjaan Umum dan ESDM. Hal ini arti diskusi di sana, Saya belum dapat rekomendasinya,” jelasnya.

Sedangkan Ketua DPD HPJI, Tjipto Haribowo menegaskan, tol seharusnya tidak membawa dampak negatif degradasi kehidupan masyarakat di mana ruas tol tersebut berada. Sehingga, alternatifnya adalah dengan jalan membuat jalan tol yang melayang (elevated).

“Kalau elvated tentunya biaya konstruksinya lebih mahal, ini memerlukan perhitungan yang matang dari insiator/investornya. Sehingga, pada saat beroperasi tarif tolnya tidak terlalu mahal,” urainya.

Dia menjelaskan, jalan tol adalah jalan alternatif, artinya jalan tol itu bisa dibangun kalau ada jalan arteri yang searah. “Kedepan pengguna mempunyai pilihan, yang ingin lebih singkat waktu perjalanannya lewat tol tetapi harus bayar,” pungkasnya. (Internet/bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: