Dua Pelajar Asal Borobudur dan Dukun Jadi Tersangka Kasus Senjata Tajam

BNews—MUNGKID— Polres Magelang akhirnya menetapkan pelajar berinisial RA, 17 dan SW, 17, sebagai tersangka atas kepemilikan senjata tajam jenis celurit. Mereka diamankan polisi saat hendak terlibat tawuran dengan sekolah lain. Sedang dua pelajar lainnya masih berstatus saksi.

Kapolres Magelang AKBP Pungky Bhuana Santoso melalui Waka Polres Kompol Eko Mardiyanto mengatakan, pelaku merupakan pelajar sekolah swasta kelas XI di Salam, Kabupaten Magelang. Pelaku RA merupakan warga Candirejo, Borobudur dan SW warga Dukun.

”Dari dua pelaku, kami amankan tiga buah celurit yang disembunyikan di dalam tas, jaket dan sekitar lokasi,” kata dia dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres Magelang, Senin (13/1).

Eko menjelaskan, kronologi bermula ketika polisi menerima laporan dari warga bila akan terjadi tawuran antarsekolah, Kamis (2/1). Informasi penting itu segera ditindaklanjuti Polsek Salam dengan menggelar patroli sekitar pukul 14.00 WIB. Utamanya di Dusun Pendem, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam.

VIDEO PELAJAR DIAMANKAN POLRES MAGELANG

”Saat datang, petugas dibantu warga mendapati segerombolan pelajar dengan sepeda motor. Sekitar 30 pelajar langsung kabur. Sedang yang berhasil kami amankan ada empat orang,” jelasnya.

Saat dilakukan penggeledahan, polisi menemukan tiga buah celurit yang akan digunakan untuk tawuran. Dua diperoleh dari dua pelaku yang disimpan di tas dan jaket. Seedang satunya di dapat di sekitar lokasi.

Loading...

”Sampai saat ini, kami masih melakukan penyelidikan asal muasal senjata tajam ini. Apakah berasal dari temannya sediri, seniornya, atau memang sudah dipersiapkan sebelumnya,” ucap dia.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Salah satu tersangka, RA, mengaku baru kali pertama terlibat tawuran. Pelajar yang wajahnya ditutup masker itu termotivasi karena doktin senior yang mengajarkan untuk belas dendam. Karena polos, dirinya juga menurut saat disuruh temannya mengambil celurit yang disimpan di warung makan dekat sekolah.

”Secara pribadi saya tidak memiliki masalah. Tapi karena ’sekolah ’saya memang sejak dulu ada dendam dengan sekolah lain. Saya kapok,” sesal dia.

Akibat perbuatannya, tersangka RA dan SW dijerat UU Nomor 12 Tahun 1951 Tentang Undang-undang Darurat dengan ancaman sepuluh tahun penjara. Sedangkan pelajar yang masih dibawah umur tidak dilakukan penahanan namun proses hukum tetap berjalan. (*/bsn/han)

Penulis: Wahid Fahrur Annas (Mahasiswa Magang IAIN Purwokerto)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: