DUH, Napi Lapas Narkotika Jogja Disiksa Pakai Selang? Ini Tanggapan Kalapas

BNews—JOGJAKARTA— Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta membantah dugaan penganiayaan terhadap Warga Binaan Permasyarakatan (WBP). Hal tersebut disampaikan untuk menanggapi sejumlah pemberitaan tentang mantan WBP lapas tersebut yang mengadu dan menceritakan penyiksaan yang dialami selama di dalam lapas, kepada Ombudsman RI (ORI) perwakilan DIJ.

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA JogJakarta, Cahyo Dewanto mengatakan, seluruh kegiatan pembinaan kepada narapidana maupun tahanan dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). ”Secara proporsional dan terukur untuk peningkatan mental, fisik, dan disiplin. Hal ini tentunya agar terjadi perubahan sikap dan perilaku narapidana ke arah yang lebih baik,” ujarnya, Selasa (2/11).

Informasi yang bersumber dari eks WBP yang mengaku adanya pemukulan menggunakan selang, kabel listrik dan kekerasan lainnya. Menurutnya tidak sesuai dengan apa yang dilaksanakan oleh petugas Lapas Narkotika Yogyakarta sehari-harinya.

Terkait informasi adanya penyiksaan hingga waktu subuh, Cahyo menjelaskan hal tersebut tidak sesuai fakta lantaran pada pukul 17.00WIB kunci kamar hunian telah dimasukkan ke dalam kotak kunci. Selanjutnya, setiap harinya kotak kunci tersebut akan diserahkan oleh regu pengamanan kepada Kalapas untuk disimpan dan diambil kembali keesokan harinya pada pukul 05.00WIB.

Dalam proses penempatan WBP di Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta adalah berdasarkan hasil assessment mereka masing-masing. ”Kami pisahkan antara narapidana risiko tinggi, risiko menengah, dan risiko minimum,” katanya.

Terkait mantan WBP yang mengadukan pengalamannya ke ORI DIJ, yakni Vincentius Titih Gita Arupadatu, ia menjelaskan Vincentius dipindahkan ke Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta. Dari Rutan Kelas IIA Jogjakarta pada 12 April 2021 dan langsung diisolasi mandiri selama 14 hari dengan masa pengenalan lingkungan selama satu bulan.

Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta sendiri meniadakan kegiatan pemindahan kamar pada periode Juni sampai Agustus 2021 lantaran adanya penyebaran Covid-19. Sementara, Vincentius kala itu dipindahkan ke Paviliun Cempaka dengan dasar adanya komorbid atau penyakit bawaan. Namun yang bersangkutan melakukan pelanggaran dan dipindahkan ke kamar risiko tinggi.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

”Vincentius telah bebas dari Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta melalui Cuti Bersyarat sejak 19 Oktober 2021 dan masih dalam proses pembimbingan oleh Balai Pemasyarakatan. Jadi sekali lagi saya tegaskan, tidak benar pernyataan yang bersangkutan bahwa tidak bisa mengurus cuti bersyarat,” katanya.

Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta meyakini seluruh pelaksanaan kegiatan pembinaan WBP dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Output dari kegiatan pembinaan inipun yakni adanya perubahan sikap dan perilaku, mental serta fisik, yang selaras dengan Permenkumham Nomor 35/2018 tentang Revitalisasi Penyelenggaraan Pemasyarakatan.

Sebelumnya diberitakan bahwa sejumlah mantan WBP Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta, mendatangi kantor ORI perwakilan DIJ, Senin (1/11). Mereka mengadukan perlakuan tak manusiawi yang dilakukan oleh sipir lapas tersebut yang mereka dapatkan selama menjalani masa hukuman.

Salah satu mantan WBP, Vincentius Titih Gita Arupadhatu, 35, menceritakan pemukulan oleh sipir kepada WBP terjadi hampir setiap hari. Bahkan ketika WBP tidak melakukan kesalahan apa pun.

”Pelakunya oknum petugas hampir semua. Kita kadang enggak melakukan kesalahan aja tetep dicari-cari kesalahannya,” ujarnya.

Ia pernah menyaksikan temannya sesama penghuni lapas pada suatu hari tidak memakai baju di dalam kamar tahanan. Oleh sipir hal ini dianggap kesalahan. WBP tersebut kemudian disuruh berguling-guling hingga seratus meter. Ketika WBP muntah setelah berguling, sipir meminta WBP itu untuk memakan muntahannya sendiri.

”Ada yang disuruh minum air kencing, air kencing petugas. Lebih parah lagi, begitu datang ada yang dari polres atau polda itu. Jadi ada timun isinya dibuang, lalu diisi sambel, terus disuruh onani di situ dan timunnya suruh makan,” ungkapnya.

Beberapa WBP kata dia, bahkan sampai mengalami lumpuh akibat menerima begitu banyak siksaan. Para sipir juga tidak memperhatikan kondisi kesehatan WBP. Ia menceritakan ada satu WBP yang memiliki penyakit pernapasan bawaan.

WBP ini meninggal karena penyakitnya, yang diperparah oleh sipir yang sering telat memberi obat. Tidak pernah dikeluarkan dari kamar tahanan dan tidak diperhatikan makanannya padahal WBP ini tidak bisa makan nasi. (ifa/han)

Sumber: Harian Jogja

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: