E-Tilang yang Bakal Diterapkan di Jateng Ternyata Miliki Kelemahan, Apa Saja?

BNews—JATENG— Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Ditlantas Polda Jateng) akan memberlakukan tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE) 17 Maret 2021. Namun, sistem ini mendapat sorotan pakar teknologi informasi (IT) karena ditemukan sejumlah kelemahan pada ETLE.

Hal ini disampaikan pakar IT Solichul Huda. Ia mengatakan, pengaplikasian ETLE sejatinya sudah pernah dilakukan tahun 2018.

”Namun karena deteksi pelanggaran lalu lintasnya  masih semi-manual dalam arti masih membutuhkan campur tangan petugas, akhirnya ETLE tidak berlanjut,” katanya, Selasa (23/2).

Ia menjelaskan, implementasi ETLE dapat menggunakan dua model. Pertama, mendeteksi pelanggaran secara otomatis oleh sistem. Kedua, mendeteksi pelanggaran menggunakan IT, namun validasi dilakukan oleh petugas.

”Yang bagus penerapan ETLE model pertama. Identifikasi jenis pelanggaran, identitas kendaraan dilakukan secara otomasi oleh perangkat CCTV dan perekam pelat nomor kendaraan,” jelasnya.

Urai dia, setiap pelanggaran yang terdeteksi misalnya melanggar marka jalan berdasarkan pelat nomor sistem ini  langsung dapat mengetahui kendaraan yang melanggar. Dan denda diakumulasikan ketika pemilik melakukan pembayaran pajak kendaraan.

”Semua bukti tersimpan secara otomatis oleh sistem,” urainya.

Sistem otomatis ETLE akan mendeteksi pelanggaran tanpa memperhatikan pemilik kendaraan. Sehingga penerapannya bisa lebih objektif karena tanpa subjektivitas campur tangan petugas dalam penentuan tilang.

Berita terkait: Polda Jateng Bakal Berlakukan E-Tilang 27 CCTV dan 6 SpeedCam Disiapkan

”Dalam ETLE semi manual, apa mungkin kalau ternyata pemilik kendaraan adalah keluarga atau teman dekat petugas. Dia akan melakukan tilang?,” tanya Solichul.

”Akan tetapi butuh waktu kalau model otomatis ini akan diberlakukan di Indonesia karena butuh pelat nomor standar baik warna. Dan ukuran nomor pelatnya sehingga dapat terbaca oleh CCTV secara otomatis,” sambungnya.

”Model ini akan terkendala jika ada pelat nomor palsu atau kendaraan yang tidak menggunakan pelat nomor. Atau pelat nomor tidak diletakkan di tempat yang semestinya. Misalnya sepeda motor yang menaruh pelat nomor di samping kiri atau kanan,” imbuh dia.

Solichul menyebut dengan infrastruktur saat ini, penerapan tilang elektronik masih belum efektif. ”Belum efektif. Memang kalau memberlakukan ETLE otomatis, ada beberapa pembenahan yang harus dilakukan. Mulai dari pemasangan alat identifikasi marka jalan, standar pelat nomor, serta penerangan jalan yang mencukupi, ini yang butuh waktu dan biaya besar,” ucapnya, memberikan masukan.

Doktor Ilmu Komputer ini menyampaikan, model kedua ETLE pernah diberlakukan pada 2018 dengan sistem semi-manual. Petugas memasang CCTV di berbagai titik. Jika diidentifikasi terjadi pelanggaran lalu lintas akan diverifikasi ETLE NTMC untuk validasi pelanggaran.

Kemudian memberitahu ke pelanggar untuk validasi tentang kepemilikan kendaraan yang melanggar. Sekaligus meminta pembayaran besaran tilang dalam kurun waktu tertentu.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

”Kalau tujuannya untuk menghindari tilang oleh oknum, untuk sementara sudah tepat. Namun dengan berkembangnya perangkat teknologi informasi, model ETLE ini harus diubah menjadi model ETLE otomatis. Saya yakin jika ini dijalankan serius oleh polantas, dalam waktu tiga tahun pasti ETLE otomatis dapat diberlakukan di Indonesia,” ungkapnya.

”Kelemahan ETLE yang akan diberlakukan ini, sebuah kendaraan melanggar atau tidak itu diputuskan oleh petugas yaitu petugas posko NTMC. Sehingga ada kemungkinan jika ada kendaraan melanggar dan petugas kenal baik dengan pemiliknya, ada kemungkinan pelanggaran tersebut oleh petugas dianggap tidak ada,” paparnya.

Terlepas ditemukan adanya kekurangan, Solichul mengapresiasi gagasan dan penerapan oleh Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yakni mengurangi tilang di jalanan. Selama ini, tilang di jalanan dikeluhkan masyarakat karena kerap terjadi penyalahgunaan kewenangan oleh petugas.

”Kapolri baru memiliki program kerja akan memberlakukan ETLE ini dengan berbagai perbaikan,” sanjungnya.

Diketahui, Polda Jateng akan memberlakukan tilang elektronik atau ETLE di 27 titik. Dan akan ditingkatkan menjadi 55 titik di wilayah Polda Jateng.

Ke-27 titik ini terdiri enam titik di Polres Surakarta, satu di Polres Kebumen, dua di Polres Cilacap, satu Polres Wonogiri. Satu Polres Karanganyar, dua Polres Klaten, dua Polres Pati, satu Polres Kudus, satu Polres Demak, satu Polres Purbalingga. Sementara untuk Ditlantas Polda Jateng ada tiga titik di kota Semarang.

Lalu juga dipasang speed camera di enam titik, masing-masing dua kamera di Klaten, Boyolali dan Karanganyar. Khusus memantau kendaraan yang ugal-ugalan melanggar kecepatan berkendara.

”Dengan adanya ETLE Polda Jateng mendukung program bapak Kapolri. Program ini juga untuk mendidik masyarakat dalam kesadaran berlalu lintas serta untuk meminimalisasi anggota bersentuhan agar tidak ada saling lirik,” kata Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad di ruang RTMC Polda Jateng, Senin lalu (22/2). (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: