Festival Lima Gunung Digelar Sederhana di Dusun Warangan Magelang

BNews—MAGELANG— Festival Lima Gunung ke-20 putaran ketiga tahun 2021 dilaksanakan di Dusun Warangan, Pakis, Magelang pada Minggu (12/9/2021). Acara ini digelar dengan ritual serta pementasan sederhana dan terbatas.

Acara dilaksanakan di lokasi yang dipercaya warga sekitar, merupakan ‘petilasan’ tapak Kuda Sembrani. Dengan peserta terbatas dan tetap menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penularan Covid-19.

Acara dimulai dengan ungkapan doa dan pengharapan. Kemudian lantunan Kidung Jawa yang dilantunkan oleh Tokoh Komunitas Lima Gunung, Supadi Haryanto. Adapula pementasan sederhana dari beberapa penari Sanggar Dhom Suntil.

”Kidung Jawa bermakna (bahwa) kita bersyukur dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Supaya diberi kesehatan, keselamatan untuk semua dan untuk Bangsa Indonesia ini,” kata Supadi, seusai acara Festival Lima Gunung, Minggu (12/9/2021).

Dia menjelaskan, dalam festival kali ini, digelar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Tidak menghadirkan penonton dan tidak mendatangkan seniman, budayawan dari luar.

”Tidak menghadirkan penonton dan seniman, budayawan dari manapun. Ini lingkup kita saja khusus Komunitas Lima Gunung. Dalam festival ini tema yang diangkat yakni ‘Peradaban Desa’,” jelasnya.

Lanjut Supadi, tema tersebut bertujuan untuk mengingat kembali leluhur-leluhur. Mengingat tentang peradaban desa dan tradisi-tradisi yang patut dihargai.

”Tradisi saparan, rejepan, nyadran dan lain sebagainya. Bagaimana kehidupan bisa berjalan seperti saat ini bila tidak ada leluhur,” imbuhnya.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Tuan rumah acara festival sekaligus Ketua Sanggar Dhom Sontil, Tri Handoko mengatakan bahwa festival Lima Gunung di Dusun Warangan itu mengambil judul ‘Tapak Kuda Sembrani’.

”Kami mengangkat ritual Tapak Kuda Sembrani. Sebenarnya jaman nenek moyang saya itu sudah ada. Tapi belum keangkat, dan baru sekitar 2 tahun ini saya angkat.

‘Petilasan’ tapak Kuda Sembrani itu selalu dilestarikan oleh warga sekitar. Karena air di ‘petilasan’ dipercaya dapat menyembuhkan penyakit mata,” kata dia.

Jelas Handoko, menurut mitos yang dia ketahui, Kuda Sembrani itu adalah kuda yang memiliki sayap dan berkepala manusia. Kuda tersebut napak tilas di Dusun Warangan tersebut.

”Napak tilas disini ada empat. Ceritanya, (Kuda Sembrani) pernah kesini dan napak tilas disini kemudian pergi lagi,” pungkasnya. (mta)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: