Festival Lima Gunung ke XXI Mulai Digelar Di Magelang

BNews–MAGELANG– Kembali pagelaran rutin Festival Lima Gunung (FLG) digelar yang ke XXI oleh Komunits Lima Gunung Magelang. Pesta budaya kali ini digelar I bagi para petani yang ada di lereng lima gunung. Yakni Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Menoreh, dan Sumbing.

Pembukaan FLG ini diawali dengan prosesi Ritus Kali. Kemudian, dilanjutkan dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional maupun kontemporer dari berbagai daerah. Mulai dari wayang alasan, puisi, tarian, leak mantran, hingga pertunjukan-pertunjukan lain.

Budayawan Jogjakarta Romo Doktor Gregorius Budi Subanar menuturkan, dua tahun sebelumnya, FLG digelar secara virtual. Namun, kali ini dihadirkan sebagai sebuah vaksinasi kultural dalam wujud pagelaran seni budaya yang konkret dengan masyarakat KLG.

Vaksinasi kultural ini, kata dia, diselenggarakan secara berkelanjutan dan menjadi kekayaan modal masyarakat dalam mewujudkan kemajuan martabat kehidupan bersama. Dia menyebut, kegiatan menjadi kesempatan berharga bagi para petani maupun masyarakat lain untuk bertemu.

 “Ada tiga wujud pertemuan, yakni konkret, sosial, dan virtual. Dan FLG tahun ini menjadi wilayah konkret perjumpaan,” ujarnya saat memberi pidato budaya, kemarin (8/8).

Sementara itu, Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto mengatakan, setelah dua tahun diadakan secara sederhana dan tertutup, tahun ini diselenggarakan secara terbuka. Tepatnya di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak. Sedangkan puncak festival ini berlangsung pada 30 September hingga 2 Oktober mendatang.

Dia menyebut, FLG kali ini mengambil tema ‘Wahyu Rumagang’ yang memiliki makna, dalam menjalankan suatu pekerjaan diperlukan adanya perjuangan yang gigih. Wahyu merupakan suatu mukjizat yang diturunkan oleh Tuhan. Sedangkan Rumagang berarti harus bekerja utuk mendapat sesuatu, terutama wahyu.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Asrama Perguruan Islam Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo Muhammad Yusuf Chudlori menuturkan, komunitas ini memang selalu ada dan bakal terus melekat di ingatan masyarakat. Kondisi pandemi yang melandai ini dapat dimanfaatkan untuk menggelar kegiatan secara terbuka dan bersilaturahmi dalam bingkai kebudayaan.

Menurutnya, budaya ini merupakan bingkai yang paling luwes. Dia berharap, adanya festival ini menjadi penyejuk dan menghaluskan rasa. “Soal kontestasi hal biasa, tetapi harus tetap ada dalam bingkai seni budayanya,” ujarnya.

Dia menilai, FLG ini menjadi satu upaya dan ikhtiar bersama yang ditujukan untuk para tokoh elit agar terus melihat orang-orang desa dan pegunungan yang notabene kurang mengenal lingkungan dengan luas. Karena dia yakin, apapun falsafah nilai-nilai di masyarakat, guyub rukun akan terjaga dan terus ditularkan. (bsn)

IKUTI KAMI BOROBUDUR NEWS DI GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: