GEGER !!! Polisi Ungkap Kasus Predator Seksual Online Dengan Korban Anak Dibawah Umur Di Jogja

BNews–JOGJA-– Masyarakat Jogja baru-baru ini dihebogkan oleh tingkah laku buruk pelaku pelecehan seksual kepada anak di bawah umur melalui sambungan video call whatsapp.

Polisi mengendus aktivitas kejahatan seksual child grooming yang terjadi di DIY. Polisi menemukan ratusan anggota grup Whatsapp yang aktivitasnya berbagi nomor telepon anak-anak calon korban predator seksual.

Child grooming merupakan modus kejahatan seksual yang dilakukan pelaku yakni orang dewasa terhadap anak dengan cara membangun komunikasi dan kepercayaan terlebih dahulu terhadap anak atau korbannya hingga korban merasa nyaman. Pelaku misalnya mengaku sebagai teman sebaya atau kakak kelas.

Setelah bisa berkomunikasi dengan korban, pelaku kemudian melancarkan aksinya mempertontonkan alat kelaminnya kepada korban atau melakukan pelecehan seksual.

Dalam jumpa pers yang digelar Polda DIY, Senin (11/7/2022), polisi menemukan kasus kejahatan child grooming dengan korban tiga orang anak di Bantul.

Dari kejahatan seksual dan pornografi tersebut, polisi menetapkan pemuda 27 tahun berinisial AFS alias Bendot sebagai tersangka. Pria ini ditangkap di Klaten Jawa Tengah.

Dari penangkapan Bendot, polisi menelusuri jejak digital kejahatan seksual yang dilakukan pelaku.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Tersangka [Bendot] bergabung dengan beberapa grup Whatsapp. Ini [grup WA] didapatkan setelah sebelumnya [pelaku] gabung di facebook group,” kata Roberto, dikutip dari siaran resmi Polda DIY, Senin (11/7/2022).

Dari bukti rekaman digital yang disita polisi, ada 10 grup WA yang ditemukan dengan jumlah 250 peserta.

“Isinya ini [Grup WA] yang dibicarakan ini aja [child grooming]. Sharing video, foto, nomor telepon target dan rata-rata semua usia anak,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ, polisi kata dia juga menemukan fakta mencengangkan, takni sebuah akun Facebook beranggotakan 91.000 orang yang diduga terkait kejahatan child grooming.

“Gilanya ada satu akun facebook beranggotakan 91.000 member. Masih kami analisa apakah ada jaringan luar negeri yang juga membicarakan dan sharing nomor korban anak. Ini grup tertutup. Anggota harus mendaftar dulu untuk jadi anggota. Kalau di-acc [disetujui] admin baru bisa masuk,” jelasnya.

Sementara untuk kejahatan seksual yang sekarang tengah disidik, polisi menemukan 3.800 gambar berupa foto dan video sebagai bukti. Polisi tengah melakukan analisa wajah untuk menelusuri apakah ada anak lain di DIY yang menjadi korban child grooming.

“Kami masih kejar [kasus child grooming]. Di lapngan petugas ada yang sampai Kalimantan dan Sumsel, berharap kasus ini bisa terungkap tuntas. Yang kami kejar admin dan orang yang pertama kali sharing video,” jelasnya lagi.

Sebelumnya, Roberto menceritakan awal mula terbongkarnya kasus child grooming di Bantul. Pada 21 Juni lalu, Bhabinkamtibmas Desa Argosari, Sedayu, Bantul menerima laporan dari guru dan orang tua siswa dari sebuah sekolah di wilayah tersebut.

Dilaporkan ada tiga anak yang dihubungi orang tidak dikenal. Anak-anak itu kaget dan menangis, karena saat mereka dihubungi lewat video call, mereka diajak melihat alat kelamin pelaku. “Itu anak umur 10 tahun,” kata Roberto.

Polisi kemudian bergerak cepat memburu keberadaan pelaku. Hasil dari pengumpulan data, pelaku ternyata seorang pria berinisial FAS alias Bendot, 27. Polisi kemudian menangkap Bendot di Klaten, Jawa Tengah.

Dari penangkapan itu diketahui, pelaku sudah mencoba menghubungi empat orang korban. “Kenapa anak-anak yang dipilih, karena pelaku yakin dengan korbannya anak-anak bisa mencapai tujuannya [memuaskan hasrat seksual tersangka],” kata dia.

Ia meminta orang tua di DIY mengawasi anak-anaknya yang menggunakan gadget agar tak menjadi calon korban predator seksual seperti yang dialami sejumlah anak di Bantul. (*/harjo)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: