Harga Cabai Rawit Di Pasar Tradisional Tembus Rp 120.000 Perkilogramnya

BNews–JOGJA-– Angka fantastis terlihat di harga cabai rawit di Pasar Tradisional di wilayah Yogyakarta ini. Seperti di pasar tradisional di Gunungkidul ini, harga cabai rawit tembus Rp 120.000 per kilogramnya.

Usut punya usut, kenaikan harga cabai ini memang dikarenakan beberapa hal. Yang paling mempengaruhi karena pasokan menipis akibat adanya kegagalan panen cabai rawit.

Salah seorang pedagang di Pasar Argosari, Wonosari, Enik Setyaningsih mengatakan, kenaikan cabai rawit sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu.

Ia mencontohkan, pada Minggu (28/1/2021), komoditas ini masih dipasarkan di harga Rp110.000 per kilonya. Namun demikian, sehari berselang terkerek naik menjadi Rp120.000 per kilogram.

“Naik Rp10.000 per kilonya dibandingkan dengan harga kemarin [Minggu],” kata Enik (1/3/2021). dikutip harjo.

Menurut dia, kenaikan ini masuk rekor karena sebelumnya harga jual paling tinggi di kisaran Rp100.000 per kilogram.

Enik mengaku tidak tahu menahu penyebab harga terkerek naik, namun diduga kenaikan karena pasokan di pasaran menipis akibat kegagalan panen di musim hujan.

“Mungkin itu yang menyebabkan harga terus melambung,” ungkapnya.

Selain jenis rawit, kenaikan juga terjadi pada komoditas cabai lainnya. Cabai merah keriting yang sebelumnya di kisaran Rp50.000 sekarang menjadi Rp60.000 per kilogram.

Hal senada diungkapkan oleh Deni, pedagang lain di Pasar Argosari. Menurut dia, harga cabai terus mengalami kenaikan sehingga berpengaruh terhadap penjualan. “BIasanya saya ambil cabai dari Prambangan. Untuk harga terus naik,” katanya.

Ia pun berharap harga bisa stabil sehingga pedagang tidak merasa was-was akan kejatuhan harga. Oleh karenanya, Deni mengaku tidak mau menyimpan banyak stok untuk dijual. “Ya kalau harga anjok, tentunya akan rugi. Jadi, saya tidak berani menyetok dalam jumlah banyak,” katanya.

Kenaikan harga ini berdampak terhadap penjualan. Di waktu normal, sehari bisa menjual lima kilogram, namun akhir-akhir ini selalu ada sisa. “Biasanya habis, tapi sekarang masih tersisa,” katanya.(*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: