Hasilkan Buah Berkualitas, Petani Salak Nglumut di Srumbung Magelang Pertahankan Tradisi ‘Ngembangi’

BNews—MAGELANG— Kegiatan mengawinkan bunga salak atau budaya setempat menyebut ‘ngembangi’ masih dipertahankan petani Salak Nglumut di wilayah lereng barat Gunung Merapi Kabupaten Magelang. Hal itu untuk mempertahankan produktivitas buah salak.

Salah satu petani Salak Nglumut di Kamongan, Srumbung, Pratman Candy mengatakan bahwa proses mengawinkan ini juga ada waktu khusus. Yakni dilakukan sebelum siang atau sore sebelum senja agar serbuk sari tidak terbuang percuma.

“Ngembangi bagus dilakukan pagi karena anginnya belum banyak,” kata Candy, Sabtu (10/7/2021). Dilansir dari beritamagelang.id.

Dia menjelaskan, saat mengawinkan tersebut dibutuhkan bunga salak jantan. Yakni berwarna merah, panjang bulat sebesar jari telunjuk dengan bulir berisi serbuk sari kuning.

Untuk bunga betina, lanjutnya, juga berwarna merah dan berada di antara dahan duri setiap pohon salak. Bunga betina ini dilindungi kuncup serabut yang harus disibak menggunakan sabit agar maksimal saat dikembangi.

“Bunga yang bisa dikembangi harus 3 A: abang (merah), abuh (mekar) dan alon alon (pelan pelan),” kelakar Candy.

Candy menyebut, satu tangkai bunga salak jantan bisa dipakai untuk tiga hingga empat bunga salak betina. Bunga jantan dipijat dan kemudian dipotong 3/4 bagian dan ditaruh di atas bunga salak betina.

”Setelah proses itu, bunga salak ditutup untuk melindungi agar tidak larut oleh air hujan maupun kabut,” ujarnya.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Lebih lanjut, Candy mengungkapkan, bunga salak jantan biasanya menjadi tanaman pembatas antar lahan. Namun karena tidak banyak petani yang membudidayakannya, keberadaan bunga salak jantan menjadi barang istimewa yang selalu diburu petani di pasar tradisional setempat.

“Biasanya beli di pasar. Harganya tiga biji Rp5.000 sampai Rp10.000 tergantung besar kecil dan stoknya,” ujar Candy.

Dari tradisi ngembangi tersebut, para petani memiliki buah salak berkualitas yang diantaranya sudah diekspor ke luar negeri.

Secara geografis wilayah Kecamatan Srumbung berhawa sejuk dengan tekstur tanah berpasir dan berbatu. Tanaman salak menjadi hamparan hijau di setiap mata memandang.

“Mayoritas lahan di sini ditanam buah salak sejak orang tua kami sampai sekarang,” pungkasnya. (mta)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: