Ini Perkembangan Terbaru Kasus Pemblokiran Jalan di Boton Magelang

BNews—MAGELANG— Penutupan jalan yang dilakukan seorang warga di Kampung Boton, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, hingga kini belum ada perkembangan. Pemblokiran menggunakan tumpukan material bangunan itu diketahui terjadi sejak tiga bulan lalu hingga mengakibatkan aktivitas warga sekitar terganggu.

Ketua RW VI, Subagijo menuturkan bila aksi penutupan jalan itu terjadi hari Rabu, 4 Desember 2019 lalu. Tanpa sebab jelas, LCY tiba-tiba menumpuk material batu kali, batu bata, pasir dan kursi kayu hingga menutup akses jalan warga.

Karena dapat mengganggu lingkungan, tetangga terdekat LCY, Arif Yudhi Putranto kemudian menemui pelaku untuk meminta kejelasan dan berharap blokade segera di buka. Sebab, aksi sepihaknya sama saja menutup akses jalan menuju usaha bengkel milik Arif dan makam leluhur Eyang Semboto yang merupakan cikal bakal Kampung Boton. Termasuk panti asuhan, pondok pesantren, masjid hingga pasar Cepit.

”Saat itu LCY tak acuh terhadap tuntutan warga. Bahkan warga dihalang-halangi saat akan membersihkan tumpukan material yang mengganggu akses jalan,” tutur dia saat ditemui Borobudur News di kediamannya, Jumat (7/2).

Ungkap dia, pascaperistiwa tersebut, tepatnya tanggal 6 Desember lalu, perangkat kelurahan melakukan mediasi dengan warga RW VI dan ayah pelaku CLY di kantor kelurahan setempat. Setelah musyawarah tercapai dan berita acara tanpa ada paksaan ditanda tangani bersama, namun belum ada itikad baik dari pihak pemilik rumah yang memblokir jalan tersebut. Diketahui, jalan yang diblokir merupakan sebagian di atas lahan pribadi dan sisanya milik umum.

”Alasannya belum bisa dibongkar karena masih menunggu kepulangan keluarga dari luar kota dan akan dimusyawarahkan. Kami masih menunggu hasilnya,” ungkapnya.

Baca Juga: Pemilik Lahan yang Tutup Akses Jalan Sempat Ribut dengan Warga Boton Magelang

Padahal, keputusan bersama itu seharusnya sesepatnya dilaksanakan karena warga sekitar sudah terlalu lama terganggu dan dirugikan. Namun, dirinya tidak akan ambil pusing karena warga memilih mengalah dengan memanfaatkan akses jalan alternatif lain meskipun jaraknya agak jauh.

”Tapi, ya, kami biarkan saja. Toh, nanti pasti mereka kalau butuh apa-apa datangnya juga ke RT atau RW setempat,” jelas Subagijo, percaya diri.

Salah satu korban pemblokiran jalan, Cintya, merasa terganggu dengan penutupan jalan tersebut. Dagangan mie ayam yang dijajakan juga terdampak. Tidak sedikit pelanggan yang mengeluh karena harus memutar jalan atau memarkirkan kendaraan agak jauh dari warungnya.

”Biasanya tinggal lurus sudah sampai jalan besar. Sekarang harus memutar dulu. Saya juga kasihan sama donatur (panti asuhan) atau peziarah makam dari luar daerah. Jadi bingung jalannya kalau mau kesini,” pungkas Cintya. (cr1/han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: