Jadi Salah Satu Prasasti Penting Dalam Sejarah Indonesia, inilah Pesona Candi Gunung Wukir Magelang
- calendar_month Ming, 2 Feb 2025

candi gunung wukir Magelang
Dalam Wikipedia disebutkan, kawasan Dataran Kedu diketahui memiliki banyak peninggalan sejarah.
Di dekat candi Gunung Wukir juga ditemukan peninggalan dari era yang sama, candi Losari (ditemukan 2004) dan Petirtaan Mantingan (ditemukan 2019).
Agak jauh, di arah barat laut, juga ditemukan Candi Gunungsari dan Candi Ngawen. Semua candi ini, kecuali candi Ngawen, berada dalam wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.
Sejarah Candi Wukir, merupakan candi tertua yang dapat dihubungkan dengan penanggalan yang tertera pada suatu peninggalan sejarah.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Berdasarkan prasasti Canggal yang ditemukan pada 1879 di reruntuhan candi Gunung Wukir, pendiriannya diduga pada masa pemerintahan raja Sanjaya dari zaman Kerajaan Mataram Kuno, yaitu pada 732 M (654 tahun Saka).
Prasasti itu memuat banyak informasi berkait dengan Kerajaan Medang atau Mataram Hindu.
Berdasarkan prasasti ini, Candi Gunung Wukir diduga memiliki nama asli Shiwalingga di Kunjarakunja.
Nama Gunung Wukir diambil dari nama bukit tempat candi ini berada.
Yang dalam bahasa Jawa berarti gunung atau bukit, sehingga nama ini sebenarnya reruntuhan.
Tempat reruntuhan candi, mempunyai ukuran 50×50 meter.
Bangunan candi tersusun dari batu andesit, dan setidaknya terdiri atas satu candi induk dan tiga candi perwara.
Selain prasasti, di kompleks candi juga ditemukan yoni, lingga (lambang dewa Siwa), dan arca lembu betina Nandi.
Terdapat yoni besar yang berada di candi utama, dan dua yoni lebih kecil yang berada di candi perwara.
Wisnu menyampaikan, berdasarkan catatan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, candi-candi tersebar di wilayah Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Magelang.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Umumnya terbuat dari batu andesit, yang biasa terdapat di sekitar gunung berapi. Bahan-bahan lain seperti batu putih hanya dipergunakan sebagai pelengkap, misalnya sebagai pagar keliling candi,” paparnya.
Batu-batu disusun tanpa adonan spesial, kecuali pada bagian tertentu di sisi luar.
Setelah bentuknya tersusun, barulah hiasan-hiasan dipahatkan pada permukaaannya yang rata.
Pada saat ditemukan, sebagian besar candi berada dalam kondisi rusak berat.
Bebatuan yang menjadi inti bangunannya berserakan di sejumlah tempat, terkadang hingga jauh dari tempatnya semula.
Bahkan, katanya, sebagian dari bebatuan candi yang bernilai sejarah itu telah berubah fungsi, seperti menjadi tanggul atau pondasi rumah penduduk yang bermukim di sekitarnya.
Banyak alasan yang dikemukakan untuk menjelaskan kerusakan candi-candi di masa lampau, di antaranya adalah terjadinya bencana alam yang sangat dahsyat, seperti banjir, gempa bumi, atau letusan gunung berapi.
Peperangan dan perebutan kekuasaan, terang Wisnu, juga ditengarai menjadi penyebab kerusakan struktur bangunan candi.
Dalam setiap peperangan, pusat-pusat pemerintahan kerajaan umumnya menjadi target untuk dibumihanguskan, dan candi sebagai bangunan suci pun tak luput dari pengrusakan dan penghancuran selama perang berlangsung.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Di lain sisi, pelaku wisata Jeep Jurang Jero, Muntilan, Rofi’i pun berharap kawasan Candi Wukir bisa menjadi jalur paket wisata.
Sebab lokasinya tidak jauh dari lereng Gunung Merapi, sehingga bisa menambah wawasan pengetahuan bagi wisatawan.
“Candi Wukir menyimpan sejarah panjang nenek moyang sesuai peradabannya. Peninggalan Candi Wukir di atas bukit Gunung Wukir, rutenya cukup menantang saat dilalui dengan jalan kaki,” terangnya. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar