Kabupaten Magelang Darurat Sampah, TPA Pasuruhan Overload

BNews–MAGELANG– Dimanapun berada, bicara soal sampah menjadi permasalahan yang cukup komplek dan tinggi. Hal ini juga termasuk di wilayah Kabupaten Magelang yang harus ada solusi untuk mengatasi sampah.

Kabupaten Magelang bisa dikatakan darurat sampah, karena produksi sampah terus bertambah sedangkan tempat pembuangan sampah saat ini semakin terbatas.

Kabid Kebersihan dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang, Wulandari mengungkapkan Kondisi Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di Pasuruhan, Mertoyudan Kabupaten Magelang saat ini sudah overload. Dan tidak lagi mampu menampung kiriman sampah.

“Ada potensi TPA Pasuruhan di akhir tahun 2022 harus tutup,” katanya, dalam kegiatan Pelatihan Kebersihan Lingkungan Sanitasi dan Pengelolaan Sampah di Destinasi Pariwisata Kabupaten Magelang tahun 2021, Rabu (6/10/2021).

Tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) regional yang rencananya dibangun oleh Pemprov Jawa Tengah di Bandongan diperkirakan baru bisa beroperasi pada 2024 atau 2025.

Perkiraan itu mengingat saat ini lahan untuk TPST regional ini belum disetujui. Selain itu, ada kemungkinan anggaran akan di-refokusing untuk penanganan pandemi Covid-19. TPST regional ini akan menjadi tempat pembuangan sampah dari Kabupaten dan Kota Magelang.

DLH Kabupaten Magelang, katanya, berupaya melakukan antisipasi jika TPA Pasuruhan tutup. Upaya tersebut di antaranya dengan mendorong desa menangani sampahnya masing-masing melalui bank sampah serta Tempat Pengolahan Sampah dengan 3R (TPS3R). Jadi, sampah ditangani dan selesai di masing-masing desa.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Upaya lain yakni mendorong dusun-dusun untuk membentuk bank sampah dengan dukungan dana desa. DLH juga masih mengupayakan pembangunan TPST kawasan gabungan beberapa kecamatan dengan teknologi incinerator ataru pirolisis (alat pemusnah/pembakar sampah).

“Kami juga mendorong dan mewajibkan kawasan ekonomi seperti pasar, wisata dan permukiman untuk membangun TPS3R skala kawasan untuk mengelola sampah di kawasannnya,” katanya.

Ketua Pokdarwis Dewi Pari Desa Paremono, Kota Mungkid, Mufid mengatakan perlu berbagai upaya agar warga lebih peduli dan tergerak untuk menangani sampah di lingkungannya,. “Seperti lomba bank sampah yang sudah pernah dilakukan. Itu membuat kami semangat mengelola sampah. Kami berharap lomba seperti ini lebih ditingkatkan,” katanya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: