Ketoprak Dhendha Lungid Digelar di Bandungrejo Magelang, Ceritakan Kisah Cinta yang Terhalang Sistem Politik
- calendar_month Ming, 6 Agu 2023

Sanggar Pangrumpaka Budaya Soreng Warga Setuju, Desa Bandungrejo Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang menggelar pentas Ketoprak Dhendha Lungid pada Jumat (4/8/2023). (foto: istimewa)
BNews—MAGELANG— Sanggar Pangrumpaka Budaya Soreng Warga Setuju, Desa Bandungrejo Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang menggelar pentas Ketoprak Dhendha Lungid pada Jumat (4/8/2023).
“Karya ini menceritakan tentang kisah asmara seorang prajurit Soreng bernama Dhendha dan putri Demang Gayam, bernama Lungid. Kisah asmara keduanya terhalang situasi politik dua kerajaan yang berseteru,” kata Sutradara Dhendha Lungid, Priyo Nugroho (27) dalam press release yang diterima Borobudurnews.com.
Sebagai informasi, Soreng merupakan nama prajurit dari Kerajaan Jipang yang berpihak pada Haryo Penangsang. Sementara itu, Haryo Penangsang dari Kerajaan Jipang berseteru dengan Hadiwijoyo dari Kerajaan Pajang lantaran memperebutkan kekuasaan Demak Bintoro.
Dikisahkan pada ketoprak tersebut, Dhendha dihadapkan pada situasi sulit saat harus membela negara, namun juga memperjuangkan cintanya pada Lungid.
“Lungid bahkan harus menyamar sebagai ledek atau penari bayaran pada sebuah Pesta Rakyat untuk bisa masuk ke Kerajaan Jipang,” tutur Priyo.
Namun nahas, penyamaran Lungid di Kerajaan Jipang terbongkar. Dhendha bahkan rela dilukai hingga dibunuh mata-mata dari Kerajaan Pajang untuk melindungi Lungid.
IKUTI BOROBUDUR NEWS di GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)
Meski berakhir tragis dan mengorbankan nyawanya, Dhendha sudah menjalankan tugaskan sebagai prajurit untuk membela negara, namun juga berhasil melindungi Lungid.
“Cerita Dhendha Lungid berlatar sejarah dengan jenis fiksi sastra, karena memang belum ada bukti sejarah yang mencatatnya,” kata Priyo.
Sebagai sutradara muda, Priyo mengaku, pementasan perdana Dhendha Lungid yang digelar di Bandungrejo, Ngablak, Magelang tersebut tak menemui kesulitan yang cukup berarti sejak proses hingga hari H.
“Kendalanya hanya soal penyatuan waktu saja, karena kesibukannya memang berbeda-beda,” jelas Priyo.
Menurut dia, ketoprak ini juga sekaligus menjadi penghubung masyarakat dengan jenis latar belakang pekerjaan dan karakteristik yang berbeda-beda.
“Masyarakat Bandungrejo berlatar masyarakat agraris sedangkan beberapa pemain pendukung akademis,” ujarnya.
Ia bahkan hanya memerlukan empat kali latihan untuk menggarap proses Dhendha Lungid.
“Melibatkan sekitar 30 pemain dari berbagai usia, dengan durasi pementasan kurang lebih 2,5 jam,” kata Priyo.
Tak hanya pemain, masyarakat yang menonton juga terlihat antusias menonton. Meski udara dingin Bandungrejo sangat terasa, para penonton setia menunggu pukul 21.30-00.00 sampai acara selesai.
Priyo berharap, kesenian di Bandungrejo bisa semakin berkembang dan bakal ada generasi penerus yang melanjutkan kelestarian Ketoprak sekaligus Soreng.
“Jadi bukan hanya kesenian rakyat yang menjadi tontonan masyarakat, tetapi benar-benar dilestarikan, dan semua warganya dari berbagai usia bisa ikut terlibat,” pungkasnya. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 7



Saat ini belum ada komentar