Kisah Gajah Borobudur: Dipukul Benda Tajam, Dirantai dan Dinilai Kurus

LIPUTAN KHUSUS : Borobudur, CHIKA AMAZELLA SUBEKTI

BNews–BOROBUDUR– Wahana menunggang gajah di objek wisata Candi Borobudur menuai kontroversi. Dibalik industri wisata gajah yang populer dengan istilah elephant riding ternyata mengandung kekejian hingga akhir. Jurnalis magang Borobudur News mencoba melakukan penelusuran dari kandang hingga arena gajah Candi Borobudur. Seperti apa?

Advertisements


Penolakan keras terhadap eksploitasi gajah di Candi Borobudur bermula dari sebuah petisi online yang digagas penyanyi kenamaan, Melanie Subono. Hingga berita ini diterbitkan, petisi yang dibuat sejak 22 April 2019 itu sudah mendapatkan sedikitnya 20.104 dukungan netizen.


Petisi di laman change.org/gajahborobudur itu ditujukan kepada PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan dan Ratu Boko selaku pengelola wahana. Melanie beserta dua organisasi non-profit asal Jogjakarta dan Jakarta yang memperjuangan kesejahteraan hewan mendesak pengelola segera menutup wahana elephant riding.

”Taukah Lo kalau ’wisata’ naik gajah di (salah satunya) Candi Borobudur itu sebenarnya adalah kekejaman,” tegas Melanie seperti dikutip dalam petisi berjudul Stop Elephant Cruelty, Stop Penyiksaan Gajah di Borobudur!!!.

Bagi Melanie, dibalik industri elephant riding ternyata mengandung kekejaman sejak awal hingga akhir. Polanya dimulai dari penculikan bayi gajah dari habitat alami, penjinakan dengan pukulan setiap hari, dibiarkan kelaparan hingga sengaja dibuat kurang tidur.

”Gue bersama Jakarta Animal Aid Networks (JAAN) dan Animal Friends Jogja (AFJ) sudah berkali-kali mengirim surat ke manajemen (PT TWC). Namun masih belum ada respons,” sesal Melanie. Imbuh dia, gajah di Borobudur setiap hari harus menanggung beban trauma fisik dan psikis akibat ekspolitasi tidak manusiawi.

Gajah di Candi Borobudur diketahui sudah dipelihara sejak puluhan tahun lalu. Shella, salah satu diantara empat nama gajah seperti Indra, Bona, Echa, Lizzy didapat dari Way Kambas, Lampung sekitar tahun 1990-an. Kelima gajah dirawat oleh lima pawang dan dua petugas serabut atau helper.

”Semua gajah kita tempatkan di ’rumah’ (kandang). Baru kalau bekerja, mereka (gajah) kita keluarkan ke arena,” kata salah satu helper, Andi Kurniawan, kemarin.

Andi bercerita, ketika dikandangkan, kaki gajah sengaja dibelit rantai berukuran sangat pendek. Hal ini bertujuan agar antar gajah tidak saling berebut makanan atau berkelahi. Kendati berukuran super jumbo, dirinya mampu menilai bila gajah Borobudur berbadan kurus.

”Padahal makan rumput kolonjono lima kali sehari. Belum nanti dapat makanan dari wisatawan seperti roti atau permen,” beber pria asal Kecamatan Borobudur itu.

Pantauan Borobudur News, kandang gajah di kompleks Candi Borobudur lebih mirip dikatakan sebagai penjara terburuk. Bagaimana tidak, area kandang berbentuk lingkaran itu dikelilingi parit cukup dalam dengan harapan para gajah tidak bisa keluar.

Binatang terbesar di muka bumi itu lebih banyak menghabiskan hidup di kandang utama berukuran kurang lebih 8 x 10 meter. Bukannya di atas tanah, mereka harus tidur kedinginan beralas lantai ubin dengan diitari pagar pembatas besi silinder berwarna hijau.

Saat itu, satu-satunya gajah betina yang tidak dipekerjakan, Lizzy, terpaksa seharian harus mendekam di kandang dengan kaki terbelit rantai. Padahal para gajah harus melayani wisatawan setiap hari kecuali Jumat. Yakni mulai pukul 09.30-11.30 WIB dan pukul 13.30-15.00 WIB.

Andi membantah bila Lizzy sakit atau depresi lantaran kandang dan sekitarnya tidak mencerminkan habitat aslinya.

”Ada kekhawatiran bila dilepas di arena, Lizzy dan gajah tertua, Indra akan berkelahi,” kata pria yang mengaku sudah 4,5 tahun menjadi helper dan sesekali menjadi pawang cadangan.

Di sela membersihkan kotoran gajah di arena elephant riding, ia menerangkan bila seorang pawang tidak bisa lepas dari sebatang besi dengan ujung tajam. Alat bernama ganco itu diperlukan untuk ’mengintimidasi’ gajah.

Saat melakukan elephant riding, kepala gajah selalu mendapat pukulan seperlunya ketika berkeliling arena mengantarkan wisatawan yang menungganginya. Dapat dikatakan, setiap uang Rp 50 ribu akan memberikan gajah beberapa pukulan dan beban berat yang berpotensi merusak tulang belakangnya.

”Saya rasa itu tidak sampai menyakiti gajah karena kulitnya yang tebal dan keras,” sanggah pria yang mengenakan kaus biru muda dengan logo TWC itu.

Andi enggan menjelaskan lebih jauh terkait dugaan pratik kekerasan yang harus ditanggung para gajah setiap hari. Ia malah mengungkapkan bila para gajah harus diperiksa kesehatannya sebulan sekali oleh drh Mahmud Asfan dari Kebun Binatang Gembira Loka Yogjakarta.

”Biasanya kami kewalahan kalau gajah sakit kembung apalagi sampai tidak mau makan. Kalau tidak segera ditangani akan sangat fatal,” tutup Andi

Lalu, sampai kapan gajah dijauhkan dari keluarga dan terbebas dari eksploitasi untuk keperluan pariwisata? (*/han)

2 Comments
  1. Jafar says

    Admin ya hoak,sapa bilang gajah ya kurus,dasar admin goblok cuman mencari sensasi

  2. Rudi says

    Gajahya gemuk gemuk gitu,teryata borobudur news adminya anak kecil 2 cwe dan cwo to,mbok tobat jangan mencari sensasi…hoak,bisa menimbulkan fitnah,tar kamu bocah di tuntut baru tau rasa

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: