Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Kisah Mahasiswi Asal Temanggung Dievakuasi dari Tengah Perang Saudara di Sudan

Kisah Mahasiswi Asal Temanggung Dievakuasi dari Tengah Perang Saudara di Sudan

  • calendar_month Rab, 3 Mei 2023

“Kami mengira setelah evakuasi itu aman dan perang bakal selesai. Tapi ternyata malah semakin menjadi-jadi. Serangannya lebih sering. Di jam 12 malam ke atas, saat waktunya istirahat serangannya malah semakin sering, dan suaranya semakin dekat ke pemukiman kami di daerah Arkawid dan Makmuroh,” ungkapnya.

Dia dan lainnya semakin panik dan meminta bantuan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). KBRI mengimbau untuk tetap di rumah, jangan dekati jendela. Kalau ada suara tidak boleh keluar. Bantuan dari KBRI akan segera datang. Karena KBRI harus mengikuti prosedural dari pemerintah.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Pada hari kelima, Melinda dan teman-temannya sudah mulai tidak tenang. Sebab, serangan-serangan tersebut mengakibatkan listrik padam dan aliran air bersih mati. “Di Sudan, air itu menyambung dengan listrik. Kalau listrik mati, air juga mati. Ketika pusat listrik kena, air jadi mati. Di daerah kami, Arkawi, tidak ada air kurang lebih selama 4 hari. Saat itu, kita tidak bisa mandi. Air diprioritaskan untuk masak, karena sedang berpuasa. Untuk mempersiapkan buka dan sahur. Bahkan untuk berwudhu, kita hanya menggunakannya untuk yang wajib. Sempat tayamum dan menjamak salat juga.
Karena keadaan di sana benar-benar darurat,” jelas mahasiswi yang kuliah di Sudan sejak 2019 ini.

Dia mengaku sudah hopeless dan sedikit putus asa. Para mahasiswa lantas membentuk tim relawan berjumlah 20-an orang untuk membantu sesama. Mereka mengumpulkan uang dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan Ikatan Mahasiswa Indonesia (IMI) Sudan.

Mereka menghimpun donasi hingga terkumpul sekitar Rp 150 juta. Tapi mereka kesulitan untuk membelanjakannya. Karena uang rupiah yang terkumpul kesulitan ditukar ke Pound lantaran bank tutup. Toko-toko juga sudah tutup.

Hampir selama tujuh hari perang, mereka hanya makan mie instan. Bahkan, sebagian teman-temannya telah menuliskan surat wasiat. “Kita sudah setakut itu. Ada mahasiswi yang sudah mulai mojok sambil nangis sendiri. Ibarat, sudah pada mulai kena mental,” katanya.

Evakuasi para mahasiswa asal Indonesia dilakukan pada 23 April atau di hari ke-9. Pukul 03.00 dini hari, para mahasiswa sudah bersiap. Mereka bergerak dari titik masing-masing menuju sekretariat PPI Sudan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Mereka menjalankan evakuasi senyap. Yaitu, berjalan dari rumah hingga sekretariat secara diam-diam. Karena dikhawatirkan akan ketahuan. Meskipun sudah ada jeda kemanusiaan.

“Semua negara meminta jeda kemanusiaan ke pemerintah dan dikasih. Tapi, kita harus tetap berhati-hati, karena takut ada kriminal lain yang bukan tentara. Seperti penjahat atau pencuri sejenis jambret. Kita sudah mulai bergerak pukul 02.30. Para laki-laki bergerak terlebih dahulu untuk memberi kode semisal sudah aman. Hal itu terus dilakukan sepanjang jalan sampai tiba di tempat evakuasi,” terangnya.

Rencana awal, semua langsung berangkat bersama sebanyak 13 bus. Namun, karena solar susah dan kondisi yang mencekam, beberapa bus membatalkan. Sehingga hanya enam bus yang bisa berangkat.

Perjalanan dari Ibu Kota Khortum hingga Pelabuhan Port Sudan memakan waktu 17 hingga 19 jam. Selama perjalanan mereka hanya makan mie instan dan minum air putih. Setibanya di pelabuhan, mereka menginap selama sehari dan melanjutkan perjalanan laut selama 24 jam.

Mereka bersama orang-orang dari 59 negara lain dengan dikawal PBB dan kapal tentara Angkatan Laut Arab Saudi untuk jaminan keamanan.

“Kita menginap satu hari di Jeddah menggunakan visa transit. Sehari kemudian kita ke bandara bersama 300 orang lebih. Kita adalah kloter pertama yang berangkat ke Indonesia,” katanya. (*/radarsemarang)

Artikel terbit di Jawa Pos Radar Semarang

About The Author

  • Penulis: Borobudur News

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less