Kisah Penulis Novel Sejarah Asal Borobudur Ini Banting Setir Genre Cerita Silat

BNews–MAGELANG--Orang ini menulis novel sejarah karena terinspirasi kisah di tempat tinggalnya. Itulah yang dialami Wiwien Wintarto, novelis asal Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Namun, Ia kini banting setir dari novel-novel genre teenlit (young adult) ke cerita silat atau cersil. Hal ini karena dirinya terinspirasi kisah nyata BPH Tejokusumo (1769-1836), putra ke-76 Sultan Hamengkubuwono II dari Keraton Yogyakarta.

Dilangsir okezone,  pada tahun 1799, BPH Tejokusumo diperintah oleh ayahandanya untuk hijrah ke Tanah Perdikan Wonorejo di dekat situs Candi Borobudur. Dan seteah itu memimpin kawasan tersebut sebagai Adipati.

Tujuan pengangkatan itu adalah untuk menahan kemungkinan invasi VOC Belanda ke Keraton Yogyakarta dari arah barat. Pangeran Tejokusumo pun kemudian menjadi penguasa daerah dengan gelar Adipati Hadinegoro. Ia dibantu oleh adik iparnya, Cokroprawiro, sebagai patih.

“Ketika Perang Diponegoro (Perang Jawa) meletus antara tahun 1825-1830, Pangeran Tejokusumo menjadi sekutu utama Pangeran Diponegoro, yang tak lain adalah kemenakannya (Pangeran Diponegoro adalah putra Sultan Hamengkubuwono III),” katanya.

Pada masa perang, Pangeran Tejokusumo kerap menyamar menjadi rakyat kebanyakan dengan nama Kiai Wanu dan membaur dengan warga serta laskar perang Pangeran Diponegoro.

Perang kemudian berakhir saat Pangeran Diponegoro ditangkap di Kantor Karesidenan Kedu pada bulan Maret 1830 oleh Jenderal Hendrik de Kock.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Pangeran Tejokusumo yang sedih mendengar berita tersebut memutuskan untuk mengundurkan dir. Ddan kemudian menyerahkan tampuk kepemimpinan Wonorejo pada Patih Cokroprawiro.

“Sang Pangeran mengisi sisa hidupnya dengan menekuni keagamaan sebagai Kyai Wanu hingga meninggal tahun 1836. Untuk menghormati jasa-jasanya, nama Wonorejo kemudian diubah menjadi Wanurejo hingga saat ini,” ungkapnya.

Ia membeberkan, pada awalnya, jati diri sang pangeran sama sekali tak diketahui dan terkubur sejarah. Warga setempat hanya mengenal nama Kiai Wanu dan istrinya, Nyai Wanu, sebagai tokoh pendiri Desa Wanurejo. Keduanya dimakamkan berdampingan di kompleks makam Cikalan, di Dusun Tingal Kulon, Wanurejo.

Menurut penuturan WW, begitu ia biasa diakrabi, makam Kyai dan Nyai Wanu berada di belakang cungkup makam megah Kiai dan Nyai Joyotaruno, leluhur keluarga besarnya, yang tak lain adalah cucu dari Patih Cokroprawiro.

“Makamnya kecil saja, tak sebanding dengan makam Eyang Joyotaruno yang sangat bagus,” katanya.

Sejarah berubah ketika pada tahun 2010, penelusuran para tokoh tua Desa Wanurejo menjumpai fakta mengejutkan bahwa Kiai Wanu tak lain adalah BPH Tejokusumo, yang masih keluarga inti Keraton Yogyakarta pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Ketika fakta ini dikroscek ke pihak pengageng Keraton Yogyakarta, semua fakta menemukan kecocokan, Makam Kiai dan Nyai Wanu pun kemudian dipugar dan menerima kekancingan pada tahun 2015.

“Nama resminya menjadi Makam Puralaya Cikalan; dan kini menjadi salah satu objek wisata religi-sejarah terkemuka di sekitar area wisata Candi Borobudur,” ungkapnya.

Pengungkapan identitas tokoh yang tak terduga-duga ini kemudian menginspirasinya. Yakni menulis novel silat “Elang Menoreh: Perjalanan Purwa Kala”, yang diterbitkan Metamind (Tiga Serangkai) bulan November 2018.

Elang Menoreh berkisah soal petualangan anak lereng bukit Menoreh bernama Nara. Dimana yang menjadi orang kepercayaan Senopati ing Alaga saat mendirikan Kerajaan Mataram pada tahun 1587.

“Judulnya terinspirasi juga oleh cersil legendaris Api di Bukit Menoreh karya SH Mintardja,” katanya.

Ia menambahkan, tak ada kesulitan sama sekali berganti genre dari novel remaja yang kenes ke novel laga yang sadis dan penuh darah. Pengalamannya sebagai jurnalis di Tabloid Remaja Tren (salah satu media Suara Merdeka Grup Semarang) antara tahun 2001-2005 sangat membantunya menulis lintas genre.

Setelah menerbitkan novel silat berlatar sejarah, ia kembali ke pasar novel remaja lewat Lucida Sidera. Yang diterbitkan Republika Penerbit Jakarta bulan September 2020 lalu.  (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: