Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Tiga SMP di Magelang Perkuat Kesiapsiagaan Bencana di Kawasan Merapi

Tiga SMP di Magelang Perkuat Kesiapsiagaan Bencana di Kawasan Merapi

  • calendar_month Sen, 14 Sep 2026

BNews—MAGELANG— Membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan siaga bencana menjadi perhatian tiga sekolah menengah pertama di Kabupaten Magelang. SMP Negeri 1 Dukun, SMP Negeri 2 Dukun, dan SMP Negeri 1 Salam berkolaborasi menggelar Sosialisasi Budaya Sekolah Aman, Nyaman, dan Siaga Bencana.

Kegiatan tersebut dilaksanakan Rabu (9/9/2026) di Desa Wisata Surya Buana (Dewi Suba), Desa Mranggen, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Acara berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.30 WIB.

Penyelenggara kegiatan, Dini Murdiyatun yang juga Kepala SMP Negeri 1 Dukun, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan warga sekolah dalam menghadapi potensi bencana.

“Sekolah aman bukan hanya tentang bangunan yang kuat, tetapi tentang warga sekolah yang siap, peduli, dan mampu bekerja sama,” kata Dini.

Tiga Sekolah Berkolaborasi

Kegiatan diikuti kepala sekolah, guru, serta karyawan dari SMP Negeri 1 Dukun, SMP Negeri 2 Dukun, dan SMP Negeri 1 Salam. Sejumlah kepala sekolah yang tergabung dalam kelompok belajar Sinau Bareng Magelang juga turut hadir sebagai tamu undangan.

Menurut Dini, membangun sekolah yang aman, nyaman, dan siaga bencana membutuhkan pengetahuan, kesiapan, serta kolaborasi seluruh warga sekolah.

Melalui sosialisasi tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai karakteristik bencana, mitigasi, budaya sekolah aman, hingga pentingnya komunikasi dan koordinasi ketika menghadapi kondisi darurat.

Mengenal Karakter Gunung Merapi

Sesi pertama menghadirkan Nur Kholik dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Ia menyampaikan materi mengenai karakter Gunung Merapi dan berbagai upaya mitigasi bencana.

Peserta diajak memahami karakteristik Gunung Merapi serta potensi bahaya yang perlu diwaspadai, terutama bagi sekolah yang berada di kawasan sekitar Merapi.

Pemahaman terhadap karakter Merapi dinilai penting agar kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi. Kesiapan perlu dibangun sejak dini melalui pengenalan risiko, perencanaan, pengetahuan, dan pembiasaan.

Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Materi berikutnya disampaikan Rika Susanti dari BPBD dengan topik “Membangun Budaya Sekolah yang Aman, Nyaman, dan Siaga Bencana.”

Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami sekolah sebagai lingkungan yang harus memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Budaya kesiapsiagaan dapat dibangun melalui pembiasaan, pemahaman terhadap risiko, prosedur yang jelas, serta keterlibatan seluruh warga sekolah.

Kesiapsiagaan sekolah juga tidak hanya bergantung pada sarana dan prasarana. Kesiapan sumber daya manusia menjadi bagian penting karena guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik perlu memahami peran masing-masing ketika menghadapi situasi darurat.

Komunikasi dan Koordinasi Jadi Kunci

Sementara itu, Tanto dari TAGANA Sulfatara bersama F. Kristian Adi Nugroho menyampaikan materi mengenai pentingnya komunikasi dan koordinasi dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Komunikasi yang cepat, tepat, dan terkoordinasi diperlukan dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang efektif, baik ketika terjadi bencana maupun kondisi darurat lainnya.

Peserta juga diajak memahami bahwa sekolah tangguh tidak dapat dibangun secara individual. Diperlukan kerja sama antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, masyarakat, serta berbagai pihak terkait.

Dilanjutkan Diskusi Kelompok

Setelah seluruh materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Peserta membahas berbagai potensi risiko bencana yang mungkin dihadapi sekolah serta langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang bertukar pengalaman antarsekolah. Peserta berbagi gagasan mengenai praktik baik, tantangan, kebutuhan, dan strategi untuk membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, dan siaga bencana.

Kegiatan tersebut juga memperkuat semangat Sinau Bareng Magelang sebagai wadah untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, dan membangun kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Dorong Sekolah Tangguh Bencana

Dini berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Kesiapsiagaan, menurutnya, perlu menjadi budaya yang tumbuh melalui kebiasaan mengenali risiko, memahami prosedur, menjaga lingkungan, membangun komunikasi, melakukan koordinasi, serta saling peduli dan membantu.

“Sekolah yang berada di kawasan sekitar Merapi membutuhkan pemahaman dan kesiapsiagaan yang lebih kuat. Sekolah diharapkan mampu menjadi lingkungan belajar yang tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga memiliki warga sekolah yang tangguh, peduli, dan siap menghadapi bencana,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah nyata untuk mewujudkan sekolah yang berbudaya sadar bencana sekaligus memperkuat kolaborasi antarsekolah melalui semangat Sinau Bareng Magelang.

Dengan pengetahuan, komunikasi, koordinasi, dan kerja sama yang baik, sekolah diharapkan mampu meningkatkan kesiapan menghadapi potensi bencana, khususnya di wilayah Kabupaten Magelang yang berada di sekitar kawasan Gunung Merapi. (*/bsn)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less