Kisah Pilu Pemudik Asal Salam Dikarantina dan Tak Bertemu Bayinya Hingga Meninggal

BNews—SALAM— Kesedihan mendalam dirasakan seorang pemudik, ANS, dari Jabodetabek yang pulang kampung ke Dusun Pulosari, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam. Selain menjadi korban PHK, ia yang berstatus ODP dan dikarantina harus kehilangan putranya yang baru berusia tiga hari akibat gangguan pernafasan.

Tak hanya itu, sang ayah belum sekalipun melihat wajah si buah hati secara langsung sejak kelahiran ke dunia. Bahkan, ia tidak diperkenankan mendampingi persalinan istrinya yang pertama.

Kejadian ini terjadi pada ANS warga Dusun Pulosari, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam. Kisah bermula ketika sang ayah terpaksa kembali ke kampung karena terkena dampak PHK pada Kamis (23/4) lalu. Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 sudah menyiapkan rumah khusus untuk tempat isolasi mandiri bagi para pemudik.

Selama menjalani masa karantina, ANS juga belum bisa bertemu dengan sang istri yang sedang hamil tua dan hendak melahirkan. Kemudian pada Jum’at siang (1/5), istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki di RSUD Muntilan tanpa didampingi kehadiran sang suami.

Namun, satu sehari setelah kelahiran, sang anak dikabarkan dalam kondisi kritis. Menurut keterangan medis, bayi tersebut mengalami masalah dengan pernafasan sejak lahir. Sesaat,  bayi dalam kondisi kritis, sang ayah hendak menjenguk istri dan bayinya ke rumah sakit.

DPD PKS Magelang Ramadhan

Pihak gugus tugas berusaha untuk mempertemukan mereka, tentunya dengan SOP yang disarankan bidan desa. Di tengah perjalanan ke rumah sakit, tiba-tiba sang ayah meminta putar balik dengan alasan kemananan dan tidak mau ambil resiko dengan statusnya sebagai ODP. Istrinya juga menguatkan untuk melarang ia datang ke rumah sakit.

Selanjutnya,  tepatnya pada Senin dini hari (4/5) sekitar pukul 00.30 WIB anak yang baru dilahirkan tersebut dikabarkan meninggal dunia. Nyawanya tak tertolong.

Duka mendalam bagi kedua orang tua, khususnya sang ayah. Bagaimana tidak, sejak kelahiran putranya, ia belum sekalipun melihat wajah anaknya secara langsung.

Baca juga: Ini Lagu Terakhir Didi Kempot Sebelum Meninggal Dunia

Humas Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Dusun Pulosari, Edwar Alfian membenarkan kabar tersebut. ANS sudah mudik pulang ke kampung 12 hari ini.

”ANS pulang kampung mungkin juga menyesuaikan jadwal HPL (hari perkiraan lahir) istrinya. Ketika perjalanan karantina berjalan delapan hari, istrinya melahirkan dan dua hari kemuian dikabarkan bahwa anaknya meninggal,” tutur Edwar.

Pada saat prosesi pemakaman anaknya, sang ayah diperbolehkan datang ke pemakaman. Tentunya dengan SOP yang dianjurkan. Sementara jasad anaknya digendong dan dikuburkan oleh kakak dari yang bersangkutan.

”Kita juga merasa kekecewaan dan sedih. Tapi, ya, mau gimana lagi. Karena kita punya komitmen untuk menjaga isolasi. Ini merupakan wabah, semua masyarakat harus menjaga sesuai petunjuk pemerintah,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pulosari, Agung Helmi mengatakan, sebenarnya ANS ini direncanakan akan berakhir masa karantinanya pada Rabu besok, (6/5). Setelah selesai menjalani isolasi selama 14 hari.

”Nantinya para ODP pemudik ini juga disarankan cek kesehatan ke puskesmas atau petugas kesehatan dari puskesmas yang datang langsung,” pungkasnya. (rur/han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: