Kisah Sedih Suami Asal Tegalrejo Terpaksa Kurung Istri dan Anaknya

BNews—TEGALREJO— Ibu dan Anak di Tegalrejo dievakuasi petugas Rumah Sakit Jiwa Prof dr Soerojo, Magelang (11/9). Pasalnya mereka bertahun-tahun dikurung dalam sebuah ruanganya oleh suami atau ayahnya sendir.

Keduanya terpaksa dikurung oleh suaminya sendiri lantaran mengidap penyakit jiwa. Istrinya bernama Solekah, 70, sedangkan anaknya Kamilah, 33.

Advertisements
data-ad-slot="3007616301" data-ad-format="auto">


“Dulu awalnya isri saya diketahui mulai menunjukkan gejala gangguan jiwa pada tahun 1980-an. Hal itu terjadi setelah istri saya mengalami depresi, merasakan kesedihan mendalam karena salah seorang putranya meninggal akibat tenggelam, tercebur dalam kolam di dekat rumah,” ungkap warga Sidorejo Kecamatan Tegalrejo.


Sementara putrinya Kamilah, 33 yang dulu awalnya terlihat normal dan berhasil menamatkan pendidikan di madrasah tsanawiyah (MTs). Kondisi kejiwaannya mulai berubah setelah dia sempat menjalani pendidikan sebagai santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Tegalrejo selama setahun.

”Ketika itu saya pun terkejut karena tiba-tiba saja dia diantar pulang ke rumah oleh teman-temannya dalam kondisi depresi,” imbuhnya.

Meskipun Ibu dan putrinya tidak menunjukan perilaku menggangu seperti berteriak-teriak, namun sudah sulit diajak berkomunikasi. “Kamilah putri saya hanya sering menyebut nama sejumlah kiai, pengasuh di pondok pesantren tempatnya belajar,”terangnya.

Muhroni juga mengaku sempat mencoba datang ke pondok pesantren untuk menanyakan hal tersebut. Namun, kedatangannya tidak pernah direspons. ”Pihak pondok pesantren menolak untuk menemui saya,” ujarnya.

Perlu diketahui selama ini Muhroni memutuskan untuk merawat sendiri Solekah. Adapun Kamilah sempat dibawanya untuk dirawat di salah satu panti rehabilitasi milik perorangan di Kota Magelang. Namun, pada akhirnya, karena di panti tersebut Kamilah sering diganggu oleh teman-temannya, Muhroni pun memutuskan untuk membawa putrinya pulang.

Di rumah mereka berdua tidak diikat atau dirantai. Mereka hanya dibiarkan dalam ruangan tertutup dan terkunci.

“Saya memang sengaja melakukan hal tersebut agar istri dan putrinya tidak berkeliaran di jalan,” tegasnya.

BACA JUGA : RIP Audisi Bulutangkis PB Djarum

Dan Rabu siang 11 September 2019 kemarin mereka berdua dievakuasi ke RSJ Prof dr Soerojo Kramat Magelang Kota. Tampak Muhroni menitikan air matanya meskipun ikhlas mendapat perawatan intensif dari petugas disana.

Saat dibawa menggunakan ambulans, Muhrono tetap setia mendampingi putrinya Karmilah. Sedangkan istrinya Solekah yang sudah tua terpaksa harus digendong dan dinaikan ke tandu oleh petugas karena sudah kesulitan berjalan.

HARU : Solekah harus digendong dan dinaikan ditandu untuk dievakuasi ke RSJ Magelang (11/9)--(Foto--Istimewa)
HARU : Solekah harus digendong dan dinaikan ditandu untuk dievakuasi ke RSJ Magelang (11/9)–(Foto–Istimewa)

Sementara Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Prof dr Soerojo, Eniarti, mengatakan langkah ini merupakan layanan berbasis digital Barisan Gasak Pasung Sejati atau Bagaspati Among Jiwo. “Layanan ini adalah bagian dari program penemuan, pembebasan, pengobatan, serta rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi dan peran dari orang dengan gangguan jiwa (ODGJ),”katanya.

Perli diketahui sejak layanan Bagaspati Among Jiwo diluncurkan 10 Juli 2019 lalu, RSJ menerima dan menindaklanjuti 34 kasus ODGJ yang dilaporkan masyarakat. Dari jumlah tersebut, 23 kasus di antaranya adalah kasus ODGJ terpasung dan 11 kasus gawat darurat psikiatri.

“Tidak sekadar kondisi fisik yang menyedihkan, para warga terpasung tersebut juga benar-benar terkurung dengan akses bergerak yang sangat terbatas,” imbuhnya.

Eniarti mengungkapkan juga bahwa ada warga yang dipasung dan dikurung dalam ruangan berukuran sangat sempit, sekitar 1 x 2 meter. “DImana hanya bisa memberi mereka ruang untuk berdiri dan duduk saja,” ujarnya.

Dalam kejadian seperti itu pihak keluarga pun tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena memasung ODGJ. “Rata-rata keluarga dari ODGJ terpasung berasal dari keluarga menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan dana untuk pembiayaan pengobatan. Namun, di satu sisi, mereka juga kewalahan untuk menghadapi anggotanya yang mengalami gangguan jiwa,” pungkasnya.(bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: