Kisah Warga Jepang Bangun Monumen di Candi Mendut Karena Anaknya Lumpuh

BNews–MAGELANG– Salah satu candi terbesar yang terkenal di Kabupaten Magelang adalah Candi Borobudur. Namun tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat sebuah banguan sejarah lainnya yang lebih tua yakni Candi Mendut.

Di komplek Candi Buddha peninggalan Dinasti Syailendra, tidak hanya terdapat bangunan pra sejarah saja. Namun, di lokasi ini juga terdapat sebuah monumen. Anehnya monumen tersebut bertuliskan huruf Jepang.

Usut punya usut ternyata monumen tersebut memiliki kisah tersendiri. Seperti yang diungkapkan Louie Buana seperti yang dilangsir Kompas. Ia salah satu anggota Tim Ahli Penyusun Narasi Legenda Borobudur Universitas Gadjah Mada.

Dijelaskannya, saat itu tahun 1970-an ada seorang Ibu di Jepang yang memiliki anak perempuan dengan kondisi lumpuh. Saat itu kelumpuhan si anak tidak tersembuhkan meskipun sudah berobat ke mana-mana.

Diketahui Ibu tersebut bernama Shizuko Miyagawa. Dirinya menganut kepercayaan Buddha Shingon, salah satu aliran kepercayaan agama Buddha di Jepang.

Suatu hari, Ibu Shizuko mendapatkan ilham untuk pergi ke daerah Mendut Kabupaten Magelang. Selanjutnya dirinyapun tiba di Candi Mendut yang berada di Kelurahan Mendut Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

DOWLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Loading...

Setibanya di Candi Menut, Shizuko beribadah di sana. Dalam doanya, ia menginginkan kesembuah atas kelumpuhan anaknya. Dan ia juga berjanji akan menang, maka ia akan membangun sebuah persembahan sebagai sebuah ucapan terima kasih. Jika

Setelah itu Shizuko kembali ke Jepang. Sesampainya di rumah, ia melihat anaknya telah pulih dari kelumpuhannya.

Karena janjinya saat berdoa, ia kembali ke Candi Mendut untuk menepati janjinya dan sebaga rasa syukurnya. Shizuko membangun Monumen Persahabatan Indonesia-Jepang di Candi Mendut .

Monumen yang ada di dekat pos penjaga Candi Mendut diresmikan tahun 1985 dan masih ada sampai sekarang. Bangunan tersebut sebagai ungkapan terima kasih atas kesembuhan anaknya.

Monumen berbentuk prasasti dari tembaga yang dipasang di sebuah balok batu. Di sekelilingnya, ada pilar batu andesit Merapi yang bertuliskan huruf Jepang.

Meski bertuliskan bahasa Jepang, monumen itu dipahat oleh seniman pahat asal Magelang. Seniman tersebut ada di sanggar seni pahat batu Sanjaya milik Dulkamid Sjayaprana dari Dusun Prumpung, Desa Tamanagung, Muntilan, Magelang.

Pemasangan monumen juga diizinkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertanggung jawab atas situs budaya di Indonesia. (*/Lubis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: