Komplotan Penipu Dengan Modus Pacar Di Media Sosial Terungkap Polisi

BNews–NASIONAL– Bagi para pengguna media sosial terkadang memilki kekasih entah dimana. Ada istilah pacar online yang mana pasangan tersebut belum pernah sama sekali bertemu.

Namun akhir-akhir ini banyak kasus penipuan dengan modus pacaran di media sosial. Dimana pelaku ini menyamar sebagai seseorang dan menipu orang lain untuk dimintai uang.

Namun, kali ini tim Subdit 3 Ditreskrimum Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus penipuan dan pencucian uang dengan modus pacaran di media sosial yang terjadi pada bulan April lalu.

Korbannya adalah seorang wanita yang menderita kerugian hingga Rp15,8 miliar.

Lima orang tersangka berhasil diamankan, yakni WN Nigeria berinisial AF, HIT, BHT, R dan WH. Kelimanya memiliki peranan tersendiri.

“HIT dan BHT perannya melakukan penarikan uang di ATM. Lalu R yang menghitung uang setoran dari HIT dan BHT. Sementara WH yang menerima uang yang dihitung tersebut. Uang yang telah dihitung diserahkan ke AF yang menyetorkannya ke tersangka lain sebagai eksekutornya yang kini berada di luar negeri,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jumat (27/11).

Yusri mengatakan, eksekutor yang berada di luar negeri berinisial F. Dia merupakan warga negara Afrika yang merencanakan modus penipuan ini. Saat ini F sudah menjadi buronan kepolisian.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Modusnya adalah si F ini berkenalan dengan korban di media sosial. Lama berkenalan kemudian dia pacari, mengakunya dia ada di Inggris, menggunakan bahasa Inggris yang fasih,” jelasnya.

Tak lama berpacaran, mulainya F melancarkan rayuannya agar korban mau meminjamkannya uang untuk sejumlah hal. Korban yang sudah terpedaya bujuk rayu, akhirnya bersedia mengirimkan uang beberapa kali dengan total hingga Rp15,8 miliar.

“Karena sudah kena di hatinya kemungkinan, mulailah bermain si F ini untuk minta uang kepada korban. Alasannya adalah untuk mengurus klaim asuransi milik almarhum orang tua si F ini, ada juga untuk mengurus beberapa proyek-proyek perusahaan ayah si pelaku, dan mencoba meminjam uang untuk investasi,” kata Yusri.

“Kemudian korban ini mau saja, jadi dalam kurun waktu Mei, Juni, Juli, hampir tiga bulan pelaku bisa meraup uang milik si korban ini sejumlah Rp15,8 miliar,” sambungnya.

Tak lama setelah itu, F kemudian menghilang. Korban yang tersadar telah ditipu kemudian melaporkannya ke polisi.

“Tim unit 2 Subdit Resmob menyelidiki dan mengumpulkan bukti, kemudian berhasil menangkap pelaku. HIT ditangkap 23 September, di hari yang sama juga menangkap BHT. Esok harinya tanggal 24 September menangkap R, kemudian AF, dan terakhir menangkap WH tanggal 3 November di daerah Sumatera Selatan,” jelas Yusri.

Dalam kasus ini, para pelaku dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 55, 56, dan 378 KUHP. Lalu UU Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

“Dengan ancaman ada yang 4 tahun, 5 tahun, maksimal ancaman 20 tahun penjara,” tutup Yusri. (*/islh)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: