Mantan Pemain Sirkus Di Indonesia Ini Ungkap Dugaan Kekerasan dan Eksploitasi Selama Puluhan Tahun
- calendar_month Sel, 22 Apr 2025

Seteru Eks Pemain Sirkus dan Taman Safari hingga Dugaan Eksploitasi_foto Kemenkumham
BNews-NASIONAL– Sejumlah perempuan yang merupakan mantan pemain sirkus dari grup Oriental Sirkus Indonesia akhirnya angkat suara mengenai pengalaman pahit yang mereka alami selama bertahun-tahun bekerja di dunia hiburan sirkus, termasuk saat tampil di Taman Safari Indonesia, kawasan Cisarua, Bogor.
Mereka mengaku menjadi korban kekerasan fisik, eksploitasi, hingga perlakuan tidak manusiawi sejak usia sangat muda. Pengakuan tersebut disampaikan langsung oleh para korban kepada Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai bentuk laporan atas dugaan pelanggaran HAM yang mereka alami.
Salah satu mantan pemain, Ida, menceritakan bahwa ia dibawa dari orang tuanya oleh pihak Oriental Sirkus Indonesia pada tahun 1976, saat usianya baru 5 tahun. Ida kemudian dibawa ke lokasi sirkus di kawasan wisata binatang Cisarua, Bogor, untuk dilatih menjadi pemain atraksi.
Namun, alih-alih mendapatkan pelatihan profesional, Ida mengaku mengalami kekerasan fisik secara rutin. Ia bahkan pernah mengalami cedera serius berupa patah tulang belakang karena terjatuh saat latihan.
“Perlakuannya sangat kasar dan semena-mena. Kalau salah, langsung dipukuli,” ungkap Ida, seperti dikutip dari siaran NTV Morning di Nusantara TV.
Menanggapi laporan tersebut, Wakil Menteri Hak Asasi Manusia, Mugiyanto, menegaskan bahwa kasus ini sangat ironis dan tidak boleh terjadi lagi di masa depan. Ia menyayangkan kenyataan di balik pertunjukan sirkus yang selama ini tampak menghibur namun menyimpan kisah kelam di balik layar.
“Kita melihat sirkus di mata publik terlihat keren dan menarik, tapi di baliknya penuh penderitaan. Ini tidak boleh terjadi lagi,” tegas Mugiyanto.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Menurut Muhammad Soleh, kuasa hukum para mantan pemain Oriental Sirkus Indonesia, hingga saat ini pihak Taman Safari Indonesia belum memberikan pengakuan bersalah ataupun tanggapan resmi terkait tudingan kekerasan dan eksploitasi yang disampaikan para korban.
“Sampai hari ini, tidak ada pengakuan bahwa pernah terjadi pelanggaran HAM. Seolah-olah tidak pernah ada kekejaman atau perbudakan terhadap para pemain sirkus,” tegas Soleh.
Melalui tim hukumnya, para korban mendesak pemerintah untuk membentuk Tim Pencari Fakta guna mengusut tuntas dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam lingkungan sirkus tersebut, khususnya yang beroperasi di kawasan wisata binatang Cisarua Bogor.
Langkah ini diharapkan menjadi awal dari pemulihan keadilan bagi para korban serta mencegah agar praktik kekerasan serupa tidak terulang kembali. (*)
About The Author
- Penulis: Borobudur News





Saat ini belum ada komentar