Mengenang Pabrik Cerutu Legendaris Di Magelang, Berdiri Sejak Tahun 1900

BNews–KOTA MAGELANG– Tidak jauh dari Kota Tembakau Temanggung, ternyata terdapat pabrik cerutu legendaris di Kota Magelang. Dimana pabrik ini berdiri jauh sebelum kemerdekaan Indonesia.

Dilangsir dari suara.com, pabrik tersebut didirikan oleh warga peranakan di masa pemerintahan Hindia Belanda. Warga tersebut memang konsisten bergerak di bidang ekonomi dan perdagangan.

Warga tersebut adalah Ko Kwat Ie, pemilik pabrik cerutu “Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabriek”. Dia adalah generasi ketiga keluarga Ko Tay Tik, imigran Tionghoa asal Fujian yang membawa nama keluarga Ko di Indonesia.

Ko Kwat Ie merintis pabrik cerutu di Batavia tahun 1900. Nanti setelah Ko Kwat Ie meninggal, usahanya dilanjutkan salah seorang anaknya, Ko Hian Ing sebagai manajer.

Sekitar tahun 1908, perusahaan memutuskan memindah pabrik ke Magelang yang lokasinya lebih dekat dengan sentra perkebunan tembakau di Temanggung. Tembakau Temanggung terkenal berkualitas baik, namun saat itu pemasarannya masih bersifat lokal.

Dipilihlah bangunan kecil di Gang Nanking di kawasan Pecinan Magelang sebagai pabrik baru cerutu Ko Kwat Ie & Zonen. Penjualan cerutu jenis Deli Havana, Panama Steer, Massigit Deli, dan Armada laris di kalangan priyayi dan bangsawan Eropa yang tinggal di Hindia Belanda.

Pabrik kecil di Gang Nanking tak lagi muat menampung stok tembakau dan menyimpan hasil produksi cerutu sekaligus. Pabrik diputuskan dipindah ke tempat yang lebih besar di Jalan Prawirokusuman (sekarang jalan Tarumanegara), tak jauh dari rumah Ko Kwat Ie di Djoeritanzuid atau Jalan Juritan Kidul (sekarang Jalan Sriwijaya).

Loading...
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Setelah tutup sekitar tahun 1970-an, kepemilikan gedung sempat berpindah tangan ke PT Mekar Armada Jaya, pemilik usaha karoseri terkenal di Magelang, New Armada. Bekas pabrik cerutu terakhir digunakan sebagai gedung sekolah Bhakti Tunas Harapan.

Nama New Armada katanya terinspirasi oleh cerutu Armada, buatan pabrik “Ko Kwat Ie & Zonen”.

Setelah Ko Kwat Ie meninggal 28 Februari 1938, pabrik cerutu dikelola anak-anaknya. Salah satu yang menonjol adalah anak ke 4, Ko Khoen Gwan yang lahir 19 Mei 1906.

Ko Khoen Gwan dipercaya menangani mesin-mesin yang dibeli dari Eropa saat modernisasi pabrik cerutu tahun 1920. Kedekatan Ko Khoen Gwan dengan para penjuang kemerdekaan mengubah jalan sejarah pabrik cerutu “Ko Kwat Ie & Zonen”.

Robby Ko putra kedua Ko Khoen Gwan bercerita, selama pecah perang rumah tinggal mereka di Jalan Juritan sering dilintasi peluru bazooka. “Setiap ada sirine yang maraung juga malam hari. Disusul kami dulu-duluan masuk ruang perlindungan. Kami anggap sesuatu yang rutin, tak bikin panik,” kata Robby.

Ko Khoen Gwan punya 2 anak, almarhum Roedijanto dan Robby Ko. Roedijanto semasa hidup pernah menjadi dosen Akademi Militer. Sedangkan Robby Ko saat ini tinggal di Bogor, Jawa Barat, membuka praktik dokter spesialis kulit dan kelamin.

Andreas Chandra Wibowo, putra Roedijanto mengakui, Opa Ko Khoen Gwan berteman dengan beberapa pimpinan tentara pejuang. Candra meski tak sempat bertemu Ko Khoen Gwan, meyakini opanya memiliki cita-cita yang sama merebut kemerdekaan.  

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Antara tahun 1945-1949, saat agresi militer Belanda ke 2, Ko Khoen Gwan berteman baik dengan Komandan STM-Kedu (Brig 9/II), Letkol Sarbini dan Kepala Persenjataan STM-Kedu (Brig 9/II), Muh Tojib.

Saat pecah perang kemerdekaan, beberapa pejuang meminta tempat dan difasilitasi secara bersama-sama membuat senjata. Suplai senjata untuk pejuang kita (saat itu) kurang,” kata Andreas Chandra Wibowo.

Ko Khoen Gwan juga bersahabat dengan Letnan Satu, Soetoro, tentara Jepang yang menolak pulang ke negaranya setelah kalah dari Sekutu. Soetoro memilih bergabung dengan tentara pejuang RI.

Lettu Soetoro memiliki keahlian khusus mekanik, termasuk membuat senjata api.

“Opa Ko Khoen Gwan ahli di mesin pertembakauan. Otomatis dia juga punya alat-alat untuk mesin itu. Sehingga alat bubut dan yang lainnya beliau menguasai,” ujar Chandra.

Jadilah sekitar tahun 1947, bengkel mesin pabrik cerutu secara rahasia dijadikan tempat membuat senjata api. Teknik membuat senjata api rakitan dipelajari dari Soetoro.

Menurut Chandra, pembuatan senjata di bengkel pabrik cerutu mampu mempersenjatai 4 atau 5 kompi pasukan pejuang yang saat itu bergerilya di sekitar eks Karesidenan Kedu.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Senjata yang dibuat adalah jenis senapan semi otomatis pistol mitraliur. Selain membuat senjata, bengkel juga membuat selongsong dan proyektil peluru.

“Bubuk mesiu dan sebagainya disuplai Pak Muh Tojib dan Pak Soetoro. Jadi ibaratnya ini industri cor logamnya. Bubuk mesiu dan yang lainnya disuplai tentara. Karena kalau cuma buat senapan tanpa suplai pelurunya, percuma.”

Kegiatan bawah tanah Ko Khoen Gwan, lama-lama tercium antek Belanda. Pabrik cerutu digeledah. Tiap ruangan diperiksa termasuk bengkel dan gudang tembakau yang letaknya bersebelahan.

Tak sempat melarikan diri, Ko Khoen Gwan menyembunyikan teman-temannya dalam keranjang berisi tembakau. Tak menemukan jejak pejuang dan bekas-bekas pembuatan senjata di bengkel, Belanda mencari mereka di tumpukan tembakau.

Bayonet ditusuk-tusukan ke keranjang tembakau. Berdasarkan kesaksian Soetoro dan Tojib, bayonet hampir merobek perut dan dada mereka.

“Untung tumpukan tembakaunya cukup tebal. Beruntung sekali. Kalau waktu itu bayonet ditarik sedikit ke arah dada. Selesai,” kata Candra mengingat peristiwa menegangkan yang sering diceritakan papinya.

Lolos penggeledahan Belanda, pembuatan senjata terus dilanjutkan hingga Belanda hengkang dari Indonesia tahun 1949. Selama itu, produksi cerutu juga tetap jalan sebagai kamuflase.

Setelah perang usia, omzet penjualan cerutu merosot drastis. Produksi hanya memenuhi kebutuhan luar negeri, karena warga Belanda sebagai langganan lokal cerutu telah diusir ke negaranya.

Selain itu, ekonomi Indonesia pasca kemerdekaan masih belum stabil. Masyarakat lokal tak mampu membeli cerutu yang harganya lumayan mahal.

Perokok lokal lebih memilih ngelinting tembakau. Agar bisa bertahan “Ko Kwat Ie & Zonen” dianjurkan beralih memproduksi sigaret kretek. Anjuran itu tidak dilakukan karena dianggap sebagai tindakangambling tanpa kepastian hasil.

“Umpanya saat itu berani gambling, berani dan beralih ke sigaret, mungkin ya lebih tua daripada Gudang Garam dan Sampoerna. Sampoerna saja (berdiri) mungkin sekitar tahun 1960-an ya.”

Pabrik cerutu “Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabriek” mampu bertahan berproduksi hingga tahun 1974. Pabrik warisan “Raja Cerutu Magelang”, Ko Kwat Ie benar-benar berhenti melinting tembakau sekitar tahun 1977.

Ko Khoen Gwan alias Kusumo Gondho Subroto meninggal 21 September 1963. Beliau dimakamkan di TPU Suropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung.

Atas jasanya membantu perjuangan kemerdekaan, pemerintah Indonesia pada tahun 1990, menganugerahkan Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI kepada Ko Khoen Gwan. (*/suara.com)  

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: