Mengenang Tragedi Pembantaian Massal di Jembatan Kali Progo

BNews–TEMANGGUNG– Bagi warga Temanggung pasti sudah tidak asing dengan Jembatan Sungai Progo yang menghubungkan antara Kecamatan Kranggan dan Temanggung. Dua tahun lalu atau tepatnya pada Rabu, 21 Februari 2018, jembatan ini roboh akibat lapuk dimakan usia.

Sebagai penggantinya, telah dibangun jembatan baru yang lebih modern. Sehingga kini bisa dilintasi kendaraat darat segala jenis.

Di balik kegunaannya sebagai penghubung sarana transportasi ada sejarah kelam di Jembatan Progo ini. Tempat itu menjadi saksi bisu sejarah kelam atas pembantaian massal warga sipil dan non sipil oleh Belanda pada 1984-1949 pasca Kemerdekaan Indonesia. Kurang lebih ada ribuan jiwa yang terbunuh di jembatan itu.

Pembantaian tersebut merupakan buntut dari keluarnya perintah penyerbuan markas Belanda yang ditanda tangani oleh Kolonel Bambang Soegeng. Tujuannya untuk mengantisipasi sekaligus serangan balasan bagi gerakan agresi militer Belanda. Pasukan Belanda sendiri tidak terima akan diusir oleh Indonesia, oleh karena itu terjadilah pembantaian massal.

Foto Jembatan Progo lama yang hancur dan sebelahnya jembatan baru (Foto: Mancode ID )
Foto Jembatan Progo lama yang hancur dan sebelahnya jembatan baru (Foto: Mancode ID )

Tentara Belanda kemudian menyisir setiap tempat untuk mencari dan menangkap tentara Indonesia. Namun, sejarah menyebut tidak hanya tentara Indonesia saja melainkan warga non sipil juga jadi sasaran. Setelah itu, Belanda pun berhasil menangkap dan menahan warga Indonesia yang kemudian diinterogasi.

Para tahanan yang tertangkap disiksa secara tidak manusiawi, kemudian mereka disuruh menutup mata untuk diikat di Jembatan Progo. Di sana lah pembantaian paling kelam dalam sejarah terjadi. Beberapa sumber menyebutkan jika tahanan ada yang ditembak mati ada pula yang ditebas kepalanya. Setelah mereka semua wafat, para tentara Belanda kemudian membuang jasadnya di dasar kali Progo dan hanyut.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (DISINI)

Total ada ribuan jasad yang gugur di tangan Belanda, bahkan saking banyaknya air sungai kali Progo berubah menjadi warna merah. Warga-warga yang berhasil sembunyi menyebut jika setidaknya dua hari sekali akan ada eksekusi di sana.

Mereka mengetahuinya dengan bunyi letusan tembakan. Sementara penemuan mayat yang mengambang tanpa kepala selalu ditemukan setiap harinya selama berbulan-bulan.

Dalam mengenang sejarah kelam para korban, saat hari pahlawan para veteran perang pun biasanya mengunjungi jembatan ini dan berdoa. Mereka melakukan tabur bunga dan mengenang teman-temannya yang gugur dalam pembantaian massal tersebut.

Ada pula sebuah Monumen Bambu Runcing yang ditancapkan sebagai bentuk rasa penghormatan para pahlawan. Di sana terdapat tulisan ‘Aku ta kerjewa, aku rela…. Mati untuk tjita-tjita nan mulja: Indonesia merdeka, adil, makmur dan bahagia. Temanggung, 22/12-48-10/8/29’. (*/her)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: