MIRIS, Rela Tak Kerja Demi Dampingi Anaknya Yang Lahir Tanpa Tepurung Kepala

BNews–JATENG-– Demi menunggui bayinya yang lahir tanpa tepurung kepala ini, Syarifudin Hidayatullah, 31, harus merelekan pekerjaannya. Warga Solo tersebut terpaksa tidak bekerja karena harus mendampingi bayinya.

Syarifudin dan Ayu Endang Pujiati, 29, adalah suami-istri dari keluarga tidak mampu asal Kampung Sidorejo RT 001/RW 001 Kelurahan Mangkubumen, Banjarsari, Solo.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Syarifudin harus bekerja serabutan dan menjadi buruh harian lepas. Tapi dua pekan terakhir laki-laki berperawakan kurus itu harus rela tak bekerja untuk mendampingi putra keduanya.

Bayi kedua mereka yang diberi nama Muhammad Arkan Naufal Hidayatullah itu lahir di Solo pada 22 Februari 2021 dengan kelainan tanpa tempurung kepala.

Kondisi kelainan yang setahu Syarifudin tak bisa dilakukan tindakan medis. Dengan kondisi itu Syarifudin dan Ayu hanya bisa pasrah kepada Tuhan.

DPD PKS Magelang Ramadhan

Mereka menyerahkan sepenuhnya nasib sang putra kepada Tuhan. Suami istri yang tinggal di perkampungan padat itu tidak akan melawan takdir.

Setelah dirawat di RS Brayat Minulya Solo selama tujuh hari, Arkan akhirnya dibawa pulang pada Senin (1/3/2021). Kendati kondisi bayi yang lahir tanpa tempurung kepala di Solo itu stabil, Arkan harus dibantu oksigen untuk pernapasan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Arkan juga mendapat bantuan pencahayaan di boks bayi untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap hangat. Sedangkan untuk mencegah terjadinya infeksi pada kepala Arkan, orang tuanya memasang kain kasa dan cairan NaCl.

“Saya kerja serabutan, buruh harian lepas. Sekarang tidak bekerja karena ngurusi anak saya. Pikiran tidak tenang dua pekan ini. Daripada kepikiran saat bekerja, mending saya di rumah bareng anak,” katanya, (4/3/2021). dilangsir solopos.

Sedangkan sang istri, Ayu mengaku tidak bekerja alias menjadi ibu rumah tangga. Mereka merasa sanat terbantu dengan tak adanya biaya yang harus dikeluarkan ketika persalinan dan perawatan Arkan di rumah sakit Solo.

Apalagi persalinan Arkan yang lahir tanpa tempurung kepala di RS Brayat Minulya Solo dilakukan secara sesar yang otomatis menambah beban biaya medis. “Kami dibantu BPJS KIS, sehingga tidak ada biaya sama sekali. Alhamdulillah. Proses persalinan Dik Arkan secara sesar,” imbuh Ayu.

Kendati merasa berat melihat kondisi sang putra, Ayu dan suami kompak merawatnya di rumah. Seperti dengan rutin memberikan minum susu formula menggunakan selang dan menjaga suhu tubuh agar tetap normal. (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: