Mitigasi Bencana Di Kawasan Wisata Magelang Sangat Dibutuhkan, Ini Alasannya

BNews–MAGELANG– Diketahui bersama wilayah Kabupaten Magelang memiliki potensi terjadinya beberapa jenis bencana alam yang mengancam. Dan tentunya termasuk  Destinasi wisata yang ada juga berada di kawasan tersebut.

Oleh karena itu, langkah strategis untuk mengantisipasi bencana di objek wisata sangat dibutuhkan. Sehingga Dinas Pariwisata  Kepemudaan dan Olah Raga (Disparpora) Kabupaten Magelang menggelar “Pelatihan Mitigasi Bencana di Destinasi Pariwisata”di Artos Hotel 14-16 September 2021.

Kepala Disparpora Kabupaten Magelang, Slamet Achmad Husein mengatakan, Magelang berada di daerah cekungan yang dikelilingi gunung.  Bentang alam ini menyajikan pemandangan yang indah sehingga berpotensi dikelola sebagai destinasi wisata. Namun kondisi tersebut sekaligus menyimpan potensi bencana.

“Ada Gunung Merapi, kemudian destinasi pariwisata lainnya yang termasuk daerah rawan tanah bergerak atau longsor,” katanya.

Sehingga dibutuhkan penyiapan sumber daya manusia yang siap jika sewaktu-waktu terjadi bencana. “Ini alasan mengapa salah satu materi pelatihan adalah mitigasi bencana. Baik bahaya Merapi maupun daerah rawan longsor,” ujar Husein.

Menurut data Dinas Pariwisata, sedikitnya terdapat 80 destinasi wisata alam di Kabupaten Magelang. Beberapa diantaranya berupa wisata pegunungan dan susur sungai (arung jeram).

Kegiatan Pelatihan Mitigasi Bencana di Destinasi Pariwisata diikuti 40 peserta operator destinasi wisata.  

Tim ahli dari BPBD Kabupaten Magelang dan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dihadirkan sebagai narasumber.

Menurut Kepala Seksi Gunung Api BPPTKG, Agus Budi Santoso, penting bagi pengelola destinasi wisata terutama di kawasan rawan bencana Merapi, memiliki dokumen mitigasi bencana.

Dukumen itu diperlukan sebagai pijakan menyelenggarakan mitigasi bencana di objek wisata. “Ini bertujuan menyusun managemen objek wisata yang tanggap bencana,” ujar Agus Budi Santoso.

Pengelola destinasi wisata juga harus memahami tahapan mitigasi bencana yang antara lain meliputi asasmen bahaya, rekayas pencegahan bencana, pengurangan kerentanan, dan peringatan dini.

“Tahapan selanjutnya adalah menyusun standar operasi prosedur penanggulangan bencana yang kemudian diaplikasikan dalam simulasi bencana,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: