Mubes di Yogyakarta, Nahdliyin Nusantara Mengingatkan Amanah “Khittah NU”

BNews—YOGYAKARTA— Hasil Musyawarah Besar Nahdliyin Nusantara (Mubes NN) di Kampung Mataraman Jalan Ringroad Selatan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Minggu (28/1/2024), memohon kepada semua unsur di dalam jamiyah NU, baik Nahdliyin, pengurus NU, politisi dari lingkungan NU, agar mentaati Khittah NU dan tidak melakukan pengkhianatan kepada para sesepuh dan para pendiri NU.

”Setelah mencermati perubahan yang terjadi di jamiyah dan bangsa, ditinjau dari berbagai aspek keilmuan, dasar bersama khittah, AD ART, Qonun Asasi, dan uswah-uswah dari para Masyayikh Nahdlatul Ulama, semua diminta untuk Kembali ke Khittah NU,” pinta Tuan Guru Hasan Bashri Marwa selaku Koordinator Mubes Nahdliyin Nusantara, didampingi  Sekretaris Mubes, Zuhdi Abdurrahman.

Mubes warga NU tersebut, dihadiri  380 orang dari berbagai wilayah di Jawa, Madura dan Luar Jawa, diantaranya  PCI NU Australia (3 orang),  PCI NU Sudan (1 orang), PCI NU Amerika (1 orang) dan PCI NU Jepang (1 orang). Sedangkan para kyai yang hadir,  Marzuki Kurdi,  Abdul Azis, Abdul Muhaimin, Imam Aziz dan  Nurkholik Ridwan.

Ada sembilan item pernyataan sikap Mubes Nahdliyin Nusantara, (1) Memohon kepada semua unsur di dalam jamiyah NU, baik Nahdliyin, pengurus NU, dan politisi dari lingkungan NU, agar mentaati Khittah NU dan tidak melakukan pengkhianatan kepada para sesepuh dan para pendiri NU.

Ke (2) Konbes dan Harlah hendaknya benar-benar dilaksanakan sesuai amanah AD RT NU, sebagai kewajiban pengurus pada setiap periode, sebagai bentuk khidmah Jam’iyyah NU, bukan menjadi alat mengorganisir dukungan kepada salah satu Paslon dalam Kontestasi

Capres-Cawapres untuk pemilu 2024, sehingga Jamiyah membicarakan masalah-masalah penting dan mendasar yang diamanatkan pada pendiri dalam AD RT, seperti Kemandirian Jamiyah, independensi ulama, diversifikasi generasi muda NU, pembenahan organisasi secara berkelanjutan dan lain-lain.

IKUTI BOROBUDUR NEWS di GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)

Yang ke (3), Memohon kepada Pengurus NU di semua tingkatan untuk memberi kesempatan kepada semua calon capres-cawapres yang berkontestasi agar dapat menyampaikan visi misinya, dan tidak memihak kepada salah satu paslon sebagai amanah dari Khittah NU. Pemihakan kepada salah satu paslon yang dilakukan oleh Jamiyah Nu merupakan pelanggaran atas Khittah NU.

Ke (4) Memohon kepada Pengurus NU agar mengembalikan kewibawaan para ulama dan kyai untuk tidak jatuh kepada maqam politisi-politisi dan politik praktis, sehingga para ulama di dalam jamiyah seyogyanya berkhidmah untuk kepentingan bangsa, umat dan Jamiyah untuk jangka panjang.

Sedangkan ke (5), Memohon kepada Pengurus NU untuk mengembalikan marwah Jamiyah di tengah berbagai benturan dan turbulensi politik, sehingga sebagian pengurusnya dicokok oleh KPK dengan cara membersihkan struktur NU dari bisikan-bisikan Politisi pragmatis,  dan tidak terlalu dekat dengan figur-figur politisi pragmatis.

(6) Memohon kepada Pengurus NU agar tidak terjebak pada politik transaksional yang akan menghancurkan marwah dan nilai nilai keulamaan, dan sebaliknya mengedepankan politik keumatan, kebangsaan dan kerakyatan.

IKUTI BOROBUDUR NEWS di GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)

Ke (7), Sesuai dengan prinsip politik atau asas politik ASWAJA, karakter kepemimpinan Jam’iyah NU adalah kepemimpinan keulamaan yang mengedepankan musyawarah dan mendengarkan poros-poros kyai-kyai di daerah.

Kepemimpinan Jam’iyah NU adalah kepemimpinan partisipatif bukan kepemimpinan rezim dan perorangan yang dipaksakan sehingga setiap keputusan organisasi/jam’iyah seyogyanya diambil secara partisipatif dan terbuka dengan berpijak pada Khittah NU dan Qonun Asasi serta AD ART.

Bagian (8), memohon kepada semua elemen di dalam Nahdlatul Ulama untuk terbiasa dengan amaliah saling mengingatkan satu sama lain dalam rangka menegakkan kultur keterbukaan dalam perbedaan pendapat dan saling menghargai dengan sesama pengurus dan warga NU.

Dan yang terakhir (9), Menyerukan kepada seluruh warga NU untuk menyalurkan aspirasi politiknya berdasarkan kebijakan hati nurani dan dilandasi oleh Khittah NU, Qonun Asasi, AD ART dan politik kemaslahatan aswaja an nahdliyah.

“Dengan memohon pertolongan Allah dan wasilah para pendiri NU, apa yang menjadi keprihatinan kami ini, semoga dapat menggugah para Nahdliyin di seluruh Nusantara,” pungkasnya. (al)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: