Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Nyesel Belakangan! Pria Ini Tolak Ganti Rugi Rp 3,6 M, Kini Rumahnya Terjebak di Tengah Jalan Tol

Nyesel Belakangan! Pria Ini Tolak Ganti Rugi Rp 3,6 M, Kini Rumahnya Terjebak di Tengah Jalan Tol

  • calendar_month Jum, 27 Jun 2025

BNews-INTERNASIONAL – Penyesalan memang selalu datang belakangan. Ungkapan tersebut kini sangat menggambarkan situasi yang dialami oleh Huang Ping; seorang warga Jinxi, China, yang rumahnya kini berada persis di tengah jalur jalan tol.

Keputusan Huang menolak tawaran ganti rugi dari pemerintah membuat rumahnya berdiri sendiri di lahan proyek jalan tol yang telah selesai dibangun.

Kasus ini tak hanya menjadi sorotan di China, tetapi juga menarik perhatian media internasional. Huang mengaku menyesal karena menolak tawaran kompensasi relokasi dari pemerintah senilai £180.000 atau sekitar Rp 3,6 miliar.

“Jika saya dapat memutar kembali waktu, saya akan menyetujui persyaratan pembongkaran yang mereka tawarkan. Sekarang rasanya seperti saya kalah taruhan besar. Saya sedikit menyesalinya,” kata Huang Ping seperti dikutip dari Daily Mail, Kamis (26/6/2026).

Mengutip laporan dari Independent, pada awalnya Huang menolak tawaran ganti rugi karena merasa nilainya tidak sesuai dengan harga tanah dan rumah miliknya.

Proses negosiasi antara Huang dan pihak berwenang berlangsung cukup lama dan berlangsung alot. Namun, tanpa adanya kesepakatan, pemerintah tetap melanjutkan pembangunan jalan tol.

Menariknya, proyek tol tetap berjalan dengan desain yang terpaksa mengakomodasi rumah Huang. Jalan tol dibangun sejajar dengan atap rumahnya, bukan di sekeliling halamannya. Akibatnya, jika dilihat dari atas, rumah Huang tampak seperti berada di dalam lubang di tengah jalan tol.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA (KLIK DISINI)

Untuk menjaga keamanan, pagar pembatas dipasang di pinggir area rumah tersebut. Selain itu, dinding penahan bertingkat mirip undakan tangga juga dibangun di sekitar rumah guna mencegah longsoran tanah dan melindungi struktur bangunan.

Kini, kondisi di dalam rumah Huang jauh dari nyaman. Ia mengaku tidak bisa membuka jendela atau pintu terlalu lama karena debu dari jalan tol yang terus beterbangan. Selain itu, saat jalan tol beroperasi, ia juga harus menghadapi getaran konstan dari lalu lintas kendaraan.

Cek Video Viral dan Video Update di BorobudurNewsTV (KLIK DISINI)

Selama masa pembangunan jalan tol, Huang bahkan sempat memilih tinggal di rumah anaknya yang berada di kota lain. Ia baru kembali ke rumah tersebut setelah proses pembangunan selesai.

Akses ke rumah Huang pun dibuatkan jalan pintas khusus di kedua sisi jalan tol berupa terowongan kecil berbentuk bulat, agar Huang dan keluarganya bisa masuk ke rumah tanpa harus melintasi jalur utama tol.

Fenomena seperti ini bukanlah yang pertama terjadi di China. Dalam budaya lokal, rumah-rumah yang tetap berdiri di tengah-tengah proyek pembangunan publik tanpa mau digusur ini dikenal dengan sebutan “dingzihu” atau yang populer disebut sebagai “rumah paku”. Istilah ini mengacu pada bangunan yang dianggap “mengganggu” seperti paku yang sulit dicabut.

Kasus rumah paku seringkali dianggap sebagai simbol perlawanan warga terhadap kebijakan pemerintah dan konflik antara modernisasi dengan hak kepemilikan tradisional di China. (*)

About The Author

  • Penulis: Pemela

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less