Oleh-Oleh Kerajinan Patung Khas Borobudur Ini Dibuat Dari Limbah Cobek

BNews–MAGELANG– Seorang perajin di kawasan wisata Borobudur Kabupaten Magelang ini sungguh kreatif. Dimana dirinya memanfaatkan limbah menjadi bahan baru kerajinan yang dijadikan salah satu oleh-oleh khas Borobudur.

Ia adalah Amin Lisman Ragil warga Dusun Kretek Desa Karangrejo Kecamatan Borobudur. Dirinya puluhan tahun  memanfaatkan limbah cobek sebagai bahan baku kerajinan patung.

Ia mengaku memilih limbah cobek sebagai bahan baku karena jika dicetak hasilnya lebih sangat mirip dengan batu ukir. Serta untuk proses pembuatannya lebih cepat dibanding proses ukir batu.

“Awalnya saya produksi kerajinan bambu ukir pada tahun 1997  tapi hasilnya lama karena harus melalui proses mengukir. Kemudian pada tahun 2002 saya beralih ke batu cetak karena prosesnya lebih cepat dan hasilnya mirip ukiran batu,” katanya.

Amin mengaku belajar otodidak memproduksi batu cetak. Awalnya dirinya menggunakan pasir dari Gunung Merapi, kemudian beralih menggunakan bahan baku limbah Cobek.

“Awal produksi saya mengambil bahan baku dari pasir Merapi yang saya ambil dekat Gunung Merapi, yang pasirnya masih murni. Kalau pasir sudah tercampur debu maka hasil cetaknya kurang bagus,” ujarnya.

Menurutnya lebih bagus menggunakan limbah Cobek, dimana bahan dasar Cobek adalah batu. “Hal ini sehingga hasil cetak sama dengan batu asli, warna hitam batu, rekat lebih kuat dan terdapat pori-pori batu tampak seperti batu ukir,” terang Amin.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Amin mengaku mudah mencari bahan baku limbah Cobek, dirinya disuplay oleh pengerajin Cobek di Keji Muntilan. Saat ini produksi Cobek dengan cara dibubut, sehingga menghasilkan limbah serbuk batu, yang dirinya manfaatkan sebagai bahan batu cetak.

“Kalau dari pasir kemungkinan akan tercampur dengan debu, sehingga hasilnya kurang bagus. Paling bagus menggunakan limbah Cobek yang memang dari batu Merapi,” terang Amin.

Adapun produk dari hasil karya Amin, berupa Kepala Budha, Ganesa, maket Stupa Candi Borobudur, Budha Matrea, relief hiasan dinding dan pernak-pernik lainnya.

Menurut Amin, proses produksinya tersebut mampu merekrut hingga 40 orang tenaga kerja, yang sebagian besar dari desa setempat. Dan produknya memasok permintaan pedagang souvernir di Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, pedagang batu hias dari Palbapang Mungkid hingga Salam,  dan pedagang Jogja serta Candi Prambanan.

“Selain proses cetak, juga ada proses membatik batu, yang biasa dikerjakan oleh ibu-ibu sekitar desa saya, ada 40 orang yang terlibat dalam proses produksi batu cetak ini,” ungkap Amin.

Namun karena pandemi Covid 19, dimana sektor pariwisata terkena dampaknya, turut mempengaruhi usaha batu cetak Amin. Yang saat ini mulai bergeliat untuk bangkit kembali.

“Pesanan sudah mulai ada, karena kunjungan wisata mulai ramai. Yang paling laku adalah stupa dan maket miniatur Candi Borobudur paling diminati,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: