Peduli Lingkungan, Sejumlah Anak Muda di Sleman Bersihkan Sampah Visual

BNews—SLEMAN—Sejumlah pemuda di Sleman yang peduli terhadap kebersihan lingkungan, bergotong royong membersihkan sampah visual. Sebab mereka menganggap jumlahnya sudah terlalu banyak dan mengganggu pemandangan.

Para pemuda tersebut tergabung dalam komunitas Garuk Sampah. Seperti namanya, kegiatan yang diinisiasi anak-anak muda itu bergerak untuk membersihkan ruang-ruang publik dari sampah.

”Setelah Kita lama di Yogya, Kita melihat Sleman ternyata banyak sampahnya, terutama sisa-sisa tali spanduk. Sampah tersebut dianggap sebagai hal yang wajar, ditempel di mana-mana, (masyarakat) menganggapnya bukan sebuah masalah,” kata Koordinator Garuk Sampah, Bekti Maulana, 23, kemarin (16/06/2020).

Menurutnya, sampah visual tersebut juga sebuah masalah terlebih ketika ditempel sembarangan di sarana-sarana publik.”Seperti di rambu-rambu, tiang listrik, tiang telepon, tiang lampu, itu dapat mengganggu fungsi dari pada sarana publik itu,” imbuhnya.

Berdasar keresahan itu, sejak Februari 2020, Bekti dan teman-temannya membuat aksi bertajuk Ngonthel (Nggowes sambil Nethel). Yakni bersepeda sambil melepas sampah visual, setelahnya diserahkan ke Satpol PP Kota Yogyakarta.

“Kita serahkan itu bukan sebagai bentuk protes, lebih ke dukungan kepada pemerintah agar lebih semangat lagi dan lebih tegas terhadap permasalahan yang ada terutama terkait sampah iklan ini,” tutur Bekti.

Dia menjelaskan sebelum pandemi Covid-19, sekali kegiatan bersih-bersih bisa mencapai 50 orang. Sedangkan saat ini yang ikut dibatasi dan tetap mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker dan jaga jarak.

Loading...

“Garuk sampah ini tujuan utamanya bukan pada sampahnya, tetapi lebih pada merawat dan mengimplementasikan budaya kearifan lokal kerja bakti gotong-royong. Namun karena pandemi jadi kami batasi agar tidak terjadi kerumunan,” jelas Bekti.

Tambahnya, dalam membersihkan tali-tali yang terikat di tiang, Garuk Sampah tetap mengutamakan keselamatan. Sebab tak jarang lokasi pembersihannya berada di ketinggian.

“Kita pakai helm, terus webbing yang diikatkan ke tubuh, kemudian masker. Untuk memotong tali pakai Kampak, karena tebal kalau pakai pisau capek,” pungkasnya. (*/mta)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: