Perda KTR, Upaya Menekan Prevalensi Merokok

BNews—MAGELANG— MTCC Unimma menggelar ‘High Level Meeting Bupati Walikota dan Capacity Building Percepatan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok di Jawa Tengah”. Acara dilaksanakan di Grand Artos Hotel & Convention Magelang pada Selasa (19/7/2022).

PiC Media Network & Communication Officer MTCC Unimma, Rochiyati Murniningsih mengungkapkan, dari 35 kabupaten dan kota do Jawa Tengah, baru 24 daerah yang sudah memiliki peraturan terkait Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Mengingat, masing masing daerah mempunyai kompleksitas permasalahan yang berbeda-beda.

”Berdasarkan hal tersebut maka dibutuhkan dukungan untuk mewujudkan kebijakan KTR oleh segenap stakeholder. Dan MTCC Unimma pun bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, Aliansi Bupati dan Walikota Peduli Kawasan Tanpa Rokok untuk menyelenggarakan acara ini,” ujarnya.

Dia menjelaskan, tujuan kegiatan ini adalah untuk menggugah pemegang kepentingan terkait kebijakan KTR. Dengan demikian, target SDGs yang menjadi tujuan penting pembangunan Indonesia segera tercapai.

Menurut MTCC Unimma, lanjutnya, target pencapaian SDG’s 40 persen turun prevalensi merokok pada tahun 2030 dinilai sulit tercapai. Jika fenomena prevalensi rokok tidak segera diantisipasi.

”Fenomena ini didasari pada riset Global Adult Tobacco Survey dari Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO),” jelasnya.

Download Aplikasi BorobudurNews (Klik Disini)

Riset ini menunjukkan bahwa konsumsi rokok Indonesia berada dalam kategori darurat (25 persen masyarakat Indonesia merupakan perokok). Selama sepuluh tahun terakhir, dari 2011 hingga 2021, terjadi peningkatan 14,5 persen jumlah perokok sebanyak 8,8 juta orang (jumlah perokok 2011 sebanyak 60,3 juta orang dan bertambah banyak menjadi 69,1 juta orang).

Pertumbuhan ini kian diperburuk dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021. Yang menyebut bahwa masyarakat Indonesia lebih banyak membelanjakan uangnya untuk rokok, alih-alih bahan pangan bergizi.

Salah satu indikator yang juga disoroti riset ini adalah jumlah promosi iklan rokok di media internet. Ada peningkatan yang cukup tinggi dari iklan rokok di internet pada 2011 yang hanya 1,9persen saja menjadi 21,4 persen di 2021.

”Fenomena ini diperparah dengan fakta bahwa pertumbuhan perokok di Indonesia linear dengan pertumbuhan penyakit tidak menular. Dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang diterbitkan Kemenkes, terbukti ada peningkatan penyakit tidak menular sejak 2013,” imbuh Rochiyati.

Terutama prevalensi penyakit kanker naik dari 1,4 persen menjadi 1,8 persen. Kemudian penyakit stroke dari 7 persen menjadi 10,9 persen, ginjal kronis naik dari 2 persen ke 3,8 persen. Dan diabetes melitus tumbuh dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen.

Tambah Rochiyati, peningkatan prevalensi penyakit tidak menular dipicu oleh pola konsumsi dan gaya hidup yang tidak sehat, dan konsumsi rokok menjadi pemicu utamanya.

”Oleh karenanya, Perda KTR yang komprehensif sangat penting sebagai upaya melindungi masyarakat dari paparan asap rokok,” pungkasnya. (*)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!