Sejarah 5 Oktober : Lahirnya TNI Hingga Pemakaman Pahlawan Revolusi

BNews—NASIONAL—Banyak peristiwa penting terjadi pada tanggal 5 Oktober, dari tahun ke tahun. Terjadi baik dalam maupun luar negeri. Tak sedikit dari peristiwa itu menjadi catatan sejarah penting bagi perjalanan hidup manusia.

Di antaranya peristiwa terbentuknya Badan Keamanan Rakyat yang menjadi  Tentara Keamanan Rakyat. Inilah yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Serta pemakaman tujuh Pahlawan Revolusi korban keganasan G30S PKI.

Borobudurnews telah merangkum peristiwa-peristiwa tersebut, yang dihimpun dari Wikipedia.

HUT TNI

Saat itu otoritas militer di Hindia Belanda diselenggarakan oleh (KNIL) sebelum proklamasi Kemerdekaan Indonesia.  Kendati KNIL tidak langsung bertanggung jawab atas pembentukan angkatan bersenjata Indonesia pada masa depan, namun mereja juga telah memberikan andil.

Berupa pelatihan militer dan infrastruktur untuk beberapa perwira TNI pada masa depan. Ada pusat-pusat pelatihan militer, sekolah militer dan akademi militer di Hindia Belanda. Di samping merekrut relawan Belanda dan tentara bayaran Eropa, KNIL juga merekrut orang-orang pribumi Indonesia.

Pada tahun 1940, saat Belanda di bawah pendudukan Jerman, dan Jepang mulai mengancam akses pasokan minyak bumi ke Hindia Belanda. Belanda akhirnya membuka kesempatan penduduk pribumi di Pulau Jawa untuk masuk sebagai anggota KNIL.

Loading...

Selama Perang Dunia Kedua dan pendudukan Jepang di Indonesia, mereka mulai mendorong dan mendukung gerakan nasionalis Indonesia. Hal tersebut untuk mendapatkan dukungan dari rakyat Indonesia dalam perang melawan pasukan sekutu.

Dukungan yang di berikan Jepang yakni menyediakan pelatihan militer dan senjata bagi pemuda Indonesia. Pada tanggal 3 Oktober 1943, militer Jepang membentuk tentara relawan Indonesia yan

disebut PETA (Pembela Tanah Air). Jepang membentuk PETA dengan maksud untuk membantu pasukan mereka menentang kemungkinan invasi oleh Sekutu ke wilayah Asia tenggara.

Namun kemudian menjadi sumber daya yang sangat berarti untuk Republik Indonesia selama Perang Kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1949. Serta berperan dalam pembentukan Tentara Keamanan Rakyat pada tahun 1945.

Negara Indonesia pada awal berdirinya sama sekali tidak mempunyai kesatuan tentara. Badan Keamanan Rakyat yang dibentuk dalam sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945 dan diumumkan oleh Presiden pada tanggal 23 Agustus 1945 bukanlah tentara sebagai suatu organisasi kemiliteran yang resmi.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

BKR baik di pusat maupun di daerah berada di bawah wewenang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan KNI Daerah dan tidak berada di bawah perintah presiden sebagai panglima tertinggi angkatan perang. BKR juga tidak berada di bawah koordinasi Menteri Pertahanan. BKR hanya disiapkan untuk memelihara keamanan setempat agar tidak menimbulkan kesan bahwa Indonesia menyiapkan diri untuk memulai peperangan menghadapi Sekutu.

Akhirnya, melalui Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945, BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tanggal 7 Januari 1946, Tentara Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian pada 26 Januari 1946, diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).

Sejak 1959, tanggal 5 Oktober ditetapkan sebagai Hari Angkatan Perang, yang saat ini disebut sebagai Hari Tentara Nasional Indonesia, yaitu hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 untuk memperingati peristiwa kelahiran angkatan bersenjata Indonesia.

Pemakaman jenazah pahlawan Revolusi

Pemakaman jenazah Pahlawan Revolusi korban Gerakan 30 September/PKI di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta pada 5 Oktober 1965. Pahlawan Revolusi adalah gelar yang diberikan kepada sejumlah perwira militer yang gugur dalam tragedi pada tanggal 30 September 1965 malam dan 1 Oktober 1965 dini hari. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, gelar ini diakui juga sebagai Pahlawan Nasional

Peristiwa pembunuhan tujuh perwira TNI AD pada 30 September 1965 atau kerap dikenal sebagai G30S/PKI menjadi salah satu sejarah kelam bangsa Indonesia. Dalam peristiwa itu, tujuh orang yang kemudian disebut sebagai Pahlawan Revolusi gugur menjadi korban kekejaman PKI.

Mereka adalah Jenderal Ahmad Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Sutoyo, dan Lettu Pierre A. Tendean.

Sementara itu, dalam prosesi upacara pemakaman itu, hadir Jenderal A.H. Nasution, salah satu sasaran G30SPKI yang berhasil selamat akibat pengorbanan yang dilakukan oleh ajudannya, Pierre Tendean. Saat rombongan masuk ke dalam rumah dan menanyakan keberadaan Nasution, Tendean menyebut bahwa dirinyalah Jenderal Nasution. Alhasil Sang Jenderal berhasil selamat, dan ajudannya inilah yang dibawa pergi ke lubang buaya, Jakarta Timur. (*/mta)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: