Petani dan Pedagang di Magelang Sedih, Harga Sayuran Terjun Bebas

BNews—DUKUN— Petani dan pedagang sayuran di Kabupaten Magelang mengeluhkan dampak Covid-19 terhadap komuditas yang mereka jual. Pasalnya harganya mengalami penurunan drastis.

Salah satu petani dari wilayah Desa Banyuroto Kecamatan Sawangan, Sutiyah mengeluhkan harga beli tomat dan buncis yang baru dipanen sangat murah. Harga tomat satu keranjang besar dibeli murah, hanya 30 ribu rupiah saja. Demikian pula dengan buncis, Sutiyah mengaku hanya menerima uang 15 ribu rupiah saja karena harga perkilogram saat ini tak lebih dari 1.000 rupiah.

Padahal saat ini, musim hujan yang stabil membuat hasil panen para petani dari lereng Gunung Merapi, Merbabu dan Andong melimpah dalam kualitas prima. “Murah banget, padahal baru panen rame, ini karena corona ‘sepertinyamenjadi murah,” keluh Sutiyah.

Sutiyah juga memeperkirakan kondisi saat ini diperburuk dengan terjadinya beberapa kali erupsi Gunung Merapi. Letusan dan hujan abu vulkanik Merapi sempat menerpa sebagian wilayah Kabupaten Magelang dalam pekan ini.

Kondisi itu, diperkirakan menambah rasa khawatir para pedagang dari luar daerah untuk datang ke pasar Sewukan. “Biasanya pedagang juragan datang membeli besar (banyak). Sekarang tidak ada, takut corona sama Merapi kayaknya,” ungkap Sutiyah

Wati, pedang di Sentra Agrobisnis sayur Sewukan di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang megeluh sepi sepi. Permintaan aneka sayur dari luar daerah yang sangat sedikit. Dikarenakan wabah covid-19 dan erupsi Gunung Merapi.

“Biasanya setiap kulakan atau beli minimal tiga kuintal, sekarang satu kuintal saja,” kata salah satu pedagang sayur, Wati.

Loading...

Menurut Wati, kondisi itu terjadi akibat maraknya penularan covid-19 di berbagai daerah sehingga membuat akses pedagang terbatas.

Menurut Wati, keberadaan pasar agrobisnis Sewukan ini menjadi penopang sayur untuk wilayah Jawa Tengah dan beberapa kota besar seperti Jakarta, Jogjakarta hingga Sumatera.

Namun kini, lanjutnya dalam beberapa pekan terkhir pasar agrobisnis ini semakin sepi dan menjadi lengang, tidak lagi ramai oleh transaksi antar pedagang dan petani.

“Biasanya banyak pedagang, tapi sekarang susah mengirim ke daerah lain. Pedagang akhirnya tidak kulakan di sini,” terang Wati. (bsn/wam)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: