Ratusan Anak Yatim Menangis Sedih, Mereka Tertipu Acara Santunan Bodong

BNews–NASIONAL– Ratusan anak yatim menangis sedik di halam sebuah Masjid di Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banteng Minggu kemarin (12/7/2020). Pasalnya, setelah menunggu seharian mereka ditipu oleh santunan bodong.

Sedikitnya 600 anak datang dari beberapa Kecamatan di Pandeglang menggunakan sedikitnya tiga unit bus besar sejak pagi hari. Setelah menunggu hingga sore hari tidak ada bantuan yang diberikan.

“Kurang lebih sekitar 600 anak yatim, datang menggunakan tiga bus yang disewa penyedia bantuan. Mereka datang dari berbagai kecamatan, seperti Panimbang, Cigeulis, dan juga Labuan,” kata Kepala Desa Cigondang Cepi Ahmad Suteja dikutip Kompas (15/7/2020).

Rombongan anak yatim tersebut datang ke Cigondang sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka menunggu di halaman Masjid Jamiatul Iqro yang dijadikan tempat pembagian santunan.

Namun, hingga sore hari, tidak ada satu pun panitia yang membagikan santunan. Warga pun cemas dan melaporkan ke pihak desa.

Cepi mengatakan, pihak penyelenggara tidak memberi informasi jika akan ada acara santunan. Dirinya mendapatkan info tersebut dari staf desa yang melaporkan jika ada ratusan anak yatim yang telantar menunggu santunan.

“Saya pribadi baru tahu jam 4 sore dari pihak staf desa telepon ke saya, katanya, ‘Pak, ke sini ada masalah besar’. Ada santunan anak yatim bodong,” kata Cepi.

Di lokasi pembagian santunan, Cepi mendapat laporan bahwa santunan tersebut diselenggarakan oleh warga setempat yang berinisial E. E juga meminta kepada ibu-ibu di Kampung Laba berkumpul pada Minggu pagi untuk membantu membungkus makanan ringan yang akan dibagikan ke anak yatim. Jumlahnya sebanyak 600 bungkus.

DOWNLOAD LAGU-LAGU KESUKAAN KALIAN (KLIK DISINI)

“Tapi, ternyata snack tidak ada, si E juga tidak ada, sementara anak-anak yatim pada nunggu di sana, pada nangis lelah dan kelaparan,” kata Cepi.

Cepi akhirnya meminta anak-anak kembali dipulangkan ke rumah masing-masing menggunakan bus yang digunakan untuk mengantar. Namun, ternyata uang sewa bus juga belum dibayar sebesar Rp 6 juta.  

“Akhirnya pakai uang saya dulu, untuk beli solar, yang penting anak-anak kembali pulang ke rumah masing-masing,” imbuh Cepi.

Semua peserta santunan akhirnya meninggalkan lokasi sekitar pukul 17.30 WIB. Hingga saat ini, pihak desa masih mencari tahu keberadaan penyelenggara dan motif santunan “palsu” tersebut. Kasus ini, kata Cepi, juga sudah dilaporkan ke polisi.

Sementara itu, Kapolsek Labuan Kompol Nono Hartono mengatakan, pihaknya tengah melakukan investigasi terkait kasus yang menghebohkan warga Labuan ini. “Laporan belum ada, tapi anggota sudah diturunkan untuk investigasi. Tapi, belum berhasil karena orang rumahnya yang bernama E belum ketemu sampai saat ini, belum dapat data lengkap,” kata Nono. (*/Lubis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: