Relawan Salaman Buat Sistem Peringatan Longsor Dengan Bambu

BNews–SALAMAN– Early Warning System (EWS) sederhana untuk tanah longsor di pasang di bukit menoreh Salaman siang kemarin (27/1/2020). Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Komunitas Selorejo Peduli Menoreh dan relawan Relawan Bukit Menoreh.

Selain pemasangan EWS tersebut mereka juga melakukan sosialisasi terkait alat tersebut kepada warga sekitar. “Sejak dulu kami melakukan koordinasi dengan masyarakat, bahwa keadaan di lereng Menoreh ini rawan longsor. Dan masyarakat peduli akan hal tersebut,’ ungkap Pujo Prayetno selaku ketua Selorejo Peduli Lingkungan.

Ia menyebutkan, karena hal tersebut mereka memasang EWS sementara secara sederhana. “Kami buat hanya menggunakan kayu dan bambu yang ada disekitar kita. Dimana nantinya apabila tanah bergerak, EWS ini akan berbunyi dan saat hujan lebat warga bisa memantau alat tersebut sendiri,” imbuhnya.

NEWS: Soim salah satu relawan saat memberikan sosialisasi terkait EWS terhadap warga (27/1/2020)-(Foto: istimewa)
NEWS: Soim salah satu relawan saat memberikan sosialisasi terkait EWS terhadap warga (27/1/2020)-(Foto: istimewa)

Sementara Ketua Garuda Bukit Menoreh, Soim, mengungkapkan alat tersebut dipasang sebelum memasuki musim hujan. “Kita sadar bahwa rumah kita berada di daerah rawan longsor. Maka kita harus tau betul karakter tebing-tebing yang ada di sekitar kawasan Menoreh ini,’ ungkapnya.

“EWS sederhana ini akan kita sosialisasikan kepada warga agar bisa mendeteksi lingkungannya ketika ada pergerakan tanah,” tambahnya..

Dijelaskannya, untuk saat ini pemasangan EWS sederhana ini baru dipasang di tiga titik rawan.”Nantinya akan kita kembangkan di dusun-dusun yang ada di desa-desa sekitar Kawasan Menoreh ini,” terangnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Soim berharap masyarakat sekitar yang dipasang EWS ini bisa secara mandiri memahami alat ini dengan efektif.”Cara kerjanya yaitu satu bambu berada di tanah kokoh dan yang satu diletakkan di tanah yang berpotensi ada gerakan. Kemudian dihubungkan menggunakan papan, kita ambil ukuran sekitar satu sampai dua meter dan di potong disela-sela papan untuk melihat pergeseran,” paparnya.

Namun, EWS sederhana tersebut juga memiliki kelemahan tersendiri. Warga harus melihat alat tersebut setiap hari untuk melihat apakah tanah bergerak atau tidak. “Jadi warga harus sedikit repot untuk sering mengecek kondisi alat ini apakah ada pergerakan atau tidak. Soalnya EWS ini akan berbunyi alarmnya jika terjadi pergerakan yang cukup besar,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: