Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Rupiah Melemah, Benarkah Ekonomi Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja?

Rupiah Melemah, Benarkah Ekonomi Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja?

  • calendar_month 0 menit yang lalu

BNews -OPINI- Ada satu hal yang sering luput disadari ketika masyarakat melihat rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat: yang bergerak bukan hanya indikator ekonomi, tetapi juga psikologi publik.

Ketika layar perdagangan menunjukkan nilai tukar menembus angka tertentu, kegelisahan cepat menyebar. Judul-judul media menjadi lebih tajam, media sosial berubah seperti ruang kecemasan bersama, dan percakapan di warung kopi mulai dipenuhi kekhawatiran tentang krisis. Seolah nasib sebuah bangsa hanya ditentukan oleh satu angka yang bergerak di pasar valuta asing.

Padahal sejarah ekonomi dunia tidak pernah sesederhana itu.

Dalam sistem ekonomi global modern, nilai tukar mata uang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi, tetapi juga dipengaruhi arus modal spekulatif, algoritma perdagangan, dinamika geopolitik, ekspektasi investor, lembaga pemeringkat, hingga psikologi ketakutan pasar dunia.

George Soros pernah menjelaskan melalui teori reflexivity bahwa pasar bukan sekadar membaca kenyataan, tetapi sering ikut membentuk kenyataan itu sendiri.¹ Ketika persepsi negatif dibangun terus-menerus, modal keluar, tekanan meningkat, dan kepanikan perlahan dapat berubah menjadi persoalan ekonomi yang nyata.

Karena itu, ekonomi global hari ini bukan hanya arena persaingan produksi dan perdagangan, tetapi juga pertarungan persepsi.

Karl Polanyi sejak lama mengingatkan bahwa pasar modern memiliki kecenderungan melepaskan diri dari realitas sosial masyarakat.² Ketika pasar menjadi terlalu dominan, manusia mulai melupakan bahwa ekonomi sejatinya dibangun bukan hanya oleh pergerakan uang, melainkan oleh kerja manusia, produksi pangan, industri, distribusi barang, dan daya tahan sosial masyarakatnya.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Hari ini dunia tampaknya sedang berada pada titik tersebut.

Ironisnya, negara yang mata uangnya paling menentukan arah ekonomi dunia—Amerika Serikat—justru tengah menghadapi tekanan internal yang besar.

Utang publik Amerika telah melampaui US$36 triliun.³ Defisit fiskal terus melebar. Suku bunga tinggi menekan sektor riil. Industri manufaktur menghadapi kompetisi berat dari China. Polarisasi politik domestik semakin tajam. Bahkan sejumlah ekonom dunia mulai mempertanyakan keberlanjutan dominasi ekonomi Amerika dalam jangka panjang.

Namun di tengah berbagai tekanan itu, dolar justru tetap menguat.

Mengapa?

Karena dolar bukan sekadar mata uang. Dolar adalah simbol kekuasaan global.

Dominasi dolar juga tidak lahir secara tiba-tiba. Ia terbentuk melalui sejarah panjang perubahan sistem ekonomi dunia.

Pada tahun 1971, Presiden Richard Nixon menghentikan konvertibilitas dolar terhadap emas—mengakhiri sistem Bretton Woods yang sebelumnya menjadikan emas sebagai jangkar nilai mata uang dunia.⁴ Sejak saat itu, dunia memasuki era uang fiat modern: nilai mata uang tidak lagi ditopang emas, melainkan oleh kepercayaan terhadap negara penerbitnya.

Banyak pihak saat itu memperkirakan dolar akan melemah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Amerika memperkuat dominasi geopolitik, perdagangan global, pasar keuangan, dan sistem petrodollar yang membuat hampir seluruh dunia tetap membutuhkan dolar.⁵ Sejak itulah ekonomi global bergerak dalam kenyataan baru: nilai mata uang dunia semakin dipengaruhi bukan hanya oleh produksi riil, tetapi juga oleh persepsi, arus modal, dan psikologi pasar internasional.

Barry Eichengreen menyebut posisi dolar sebagai exorbitant privilege—hak istimewa luar biasa yang memungkinkan Amerika Serikat mempertahankan dominasi moneternya bahkan ketika fondasi ekonominya sendiri sedang mengalami tekanan.⁶ Dunia masih menggunakan dolar untuk perdagangan minyak, utang internasional, cadangan devisa, hingga transaksi perdagangan global. Ketika dunia diliputi ketidakpastian, modal internasional mencari tempat yang dianggap paling aman. Dan hingga hari ini, dolar masih menempati posisi tersebut.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Di sinilah banyak negara berkembang terkena dampak bukan semata karena ekonominya runtuh, tetapi karena arus modal global bergerak sangat spekulatif menuju aset-aset berbasis dolar.

Karena itu, membaca pelemahan rupiah perlu dilakukan secara jernih dan proporsional.

Melemahnya rupiah memang tidak boleh dianggap sepele. Indonesia masih memiliki ketergantungan impor pada sejumlah sektor strategis seperti energi, bahan baku industri, alat kesehatan, teknologi, farmasi, hingga sebagian kebutuhan pangan dan pakan ternak. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat, harga pupuk terdorong naik, logistik menjadi lebih mahal, industri menghadapi tekanan biaya, dan inflasi perlahan ikut bergerak.

Namun kesalahan terbesar adalah ketika masyarakat langsung menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah otomatis berarti Indonesia sedang menuju kehancuran ekonomi.

Dalam sejarah ekonomi modern, negara yang benar-benar memasuki fase krisis sistemik hampir selalu memperlihatkan keruntuhan simultan pada sejumlah indikator utama: inflasi yang tidak terkendali, sistem perbankan yang mulai goyah, gagal bayar utang yang meluas, distribusi pangan yang terganggu, kemampuan fiskal negara yang melemah, hingga lonjakan pengangguran secara ekstrem.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Sri Lanka mengalami tekanan berat ketika cadangan devisanya runtuh dan negara kesulitan membiayai impor energi maupun pangan. Argentina berkali-kali mengalami hiperinflasi dan krisis mata uang. Lebanon mengalami kehancuran sistem perbankan yang melumpuhkan kehidupan ekonominya.

Sampai hari ini, Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda keruntuhan sistemik semacam itu.

Inflasi relatif masih terkendali. Sistem perbankan tetap berada dalam pengawasan yang stabil. Aktivitas ekonomi domestik berjalan. Konsumsi masyarakat masih hidup. Cadangan devisa relatif memadai. Bahkan di tengah perlambatan global, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada level yang relatif tinggi dibanding banyak negara lain.

Pada kuartal pertama tahun 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year), menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi di antara negara-negara G20 yang telah merilis data ekonominya.⁷ Pertumbuhan ini lebih tinggi dibanding Amerika Serikat, sebagian besar negara Eropa, Korea Selatan, bahkan melampaui sejumlah ekonomi besar dunia yang sedang mengalami perlambatan.⁸

Makna angka ini sesungguhnya sangat besar.

Ia menunjukkan bahwa di tengah dunia yang sedang mencari keseimbangan ekonomi baru, mesin domestik Indonesia masih bekerja.

Konsumsi rumah tangga tumbuh kuat, konsumsi pemerintah meningkat tajam, investasi mulai bergerak, dan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berlangsung.⁹ Ini berarti fondasi ekonomi Indonesia tidak semata bertumpu pada pasar modal atau ekspor komoditas, tetapi juga pada kekuatan konsumsi domestik dan ekonomi riil masyarakatnya sendiri.

Dan di sinilah letak keunikan Indonesia.

Banyak negara tampak kuat secara finansial tetapi rapuh secara sosial. Ketika pasar keuangan terguncang, konsumsi langsung jatuh dan ekonomi cepat melambat. Indonesia memiliki kelemahan struktural, namun sekaligus memiliki bantalan sosial yang besar melalui UMKM, perdagangan tradisional, sektor informal, ekonomi keluarga, pertanian rakyat, dan pasar domestik yang luas.

Desa memegang peran jauh lebih penting daripada yang sering dibayangkan para analis ekonomi modern.

Dalam banyak krisis, kota sering menjadi pusat kepanikan, sementara desa menjadi ruang bertahan hidup.

Sawah tetap ditanami. Pasar desa tetap hidup. Warung tetap buka. Nelayan tetap melaut. Aktivitas ekonomi dasar masyarakat terus berlangsung bahkan ketika pasar global dipenuhi kepanikan.

Desa bukan sekadar objek pembangunan.

Desa adalah bantalan peradaban ekonomi Indonesia.

Dari desa lahir ketahanan pangan. Dari desa lahir stabilitas sosial. Dari desa lahir daya tahan konsumsi dasar masyarakat. Bahkan dalam banyak krisis nasional, masyarakat kota yang kehilangan pekerjaan sering kembali ke desa untuk bertahan hidup.

James C. Scott menyebut daya tahan seperti ini sebagai moral economy—mekanisme bertahan masyarakat bawah ketika sistem besar mengalami tekanan.¹⁰ Dan Indonesia masih memiliki sebagian besar karakter sosial tersebut.

Namun Indonesia juga tidak boleh terlena.

Ancaman terbesar Indonesia ke depan bukan semata pelemahan rupiah, melainkan apabila Indonesia gagal naik kelas menjadi negara produksi.

Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya ditopang konsumsi. Indonesia perlu memperkuat industrialisasi, hilirisasi, teknologi, produktivitas nasional, dan penguasaan rantai pasok strategis. Jika tidak, rupiah akan terus rentan terhadap tekanan dolar karena kebutuhan impor strategis tetap besar.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Di sinilah arah ekonomi Indonesia beberapa tahun ke depan menjadi sangat menentukan.

Jika hilirisasi industri berjalan, investasi manufaktur tumbuh, proyek strategis nasional menciptakan produktivitas nyata, Danantara mampu mengonsolidasikan kekuatan investasi nasional, dan desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi memasuki fase yang jauh lebih kuat pada kuartal-kuartal berikutnya.

Maknanya bukan sekadar angka PDB meningkat, tetapi lapangan kerja bertambah, kelas menengah tumbuh, produksi nasional naik, daya beli masyarakat membaik, dan ketahanan rupiah perlahan menguat dari fondasi ekonomi riil.

Ray Dalio dalam analisisnya tentang perubahan tatanan dunia menjelaskan bahwa sejarah global bergerak dalam siklus panjang: pergantian kekuatan ekonomi, perubahan dominasi mata uang, dan restrukturisasi geopolitik.¹¹ Dunia hari ini sedang bergerak menuju fase multipolar. China naik, BRICS berkembang, dedolarisasi mulai dibicarakan, dan negara-negara berkembang mulai mencari keseimbangan baru.

Namun setiap transisi global selalu melahirkan turbulensi.

Dalam situasi seperti itu, rumor, spekulasi, dan ketegangan psikologis sering kali bergerak lebih cepat daripada data objektif. Persepsi pasar dapat memperbesar tekanan ekonomi bahkan ketika fundamental sebuah negara belum runtuh.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Karena itu, stabilitas ekonomi modern bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang kemampuan negara menjaga kepercayaan publik dan kejernihan informasi.

Jangan sampai fluktuasi pasar digunakan untuk mengikis kepercayaan kita sendiri terhadap fondasi ekonomi nasional.

Sebab pasar dapat bergerak karena ketakutan. Tetapi ekonomi riil sebuah bangsa dibangun oleh kerja rakyatnya: petani yang tetap menanam, nelayan yang tetap melaut, industri yang tetap berproduksi, UMKM yang tetap bertahan, dan masyarakat yang tetap percaya pada masa depan negaranya sendiri.

Dalam situasi seperti sekarang, kekuatan terbesar sebuah bangsa bukan hanya cadangan devisanya, melainkan ketahanan ekonomi domestiknya sendiri—pangan yang tetap aman, rakyat yang tetap bekerja, industri yang terus bergerak, desa yang tetap hidup, serta kemampuan negara menjaga kepercayaan masyarakatnya.

Karena itu, membaca rupiah tidak boleh hanya melalui grafik kurs.

Kita juga perlu membaca sawah yang tetap produktif, industri yang mulai tumbuh, investasi yang bergerak, pasar desa yang tetap hidup, dan rakyat yang tetap bekerja.

Sebab pada akhirnya, kekuatan mata uang hanyalah pantulan dari kepercayaan terhadap daya hidup sebuah bangsa.

Dan sejarah tidak pernah memberikan tempat istimewa bagi bangsa yang tidak pernah mengalami tekanan. Sejarah justru mengingat bangsa-bangsa yang mampu bertahan ketika dunia berubah arah.

Indonesia mungkin sering diragukan.

Namun negeri ini berkali-kali menunjukkan satu hal penting: ia terlalu besar untuk runtuh hanya oleh kepanikan pasar sesaat.

Penulis Oleh: Azis Subekti – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less