Warga Terdampak Proyek Jalan Tol Jogja Tolak Nilai Ganti Rugi Lahan

BNews–SLEMAN– Terkait ganti rugi pembebasan lahan untuk proyek jalan tol Jogja-Solo masih terus disosialisasikan dan dimusyawarahkan. Namun, sejumlah warga di Sleman menolak tawaran ganti rugi lahan dari pemerintah.

Warga tersebut yakni yang berada di Temanggal 1 Purwomartani Sleman. Diketahui, sejak akhir pekan lalu memasang spanduk menyikapi rendahnya nilai ganti keuntungan bagi warga terdampak pembangunan jalan tol.

Beberapa sepanduk dibentangkan di jalan masuk padukuhan tersebut. Warga menyuarakan kegelisahan di spanduk-spanduk yang dipasang.

“Kami tidak menolak pembangunan jalan tol, tapi hargailah hak kami,” “Kalau ganti ruginya hanya sebesar harga pasar saat sekarang, Bagaimana kami bisa cari gantinya?” “Kami tidak jual tanah, kami adalah korban yang harus diperhatikan dengan ganti untung di atau harga pasaran,” tulisan spanduk yang dipasang warga.

Budi Santoso, warga Temanggal 1 mengatakan spanduk-spanduk itu memang dipasang oleh warga. Spanduk dipasang sebagai ungkapan kerisauan dan kegelisahan warga ketika mengetahui nilai ganti kerugian warga Temanggal 2 yang dinilai sangat kecil.

“Harga per meternya hanya sekitar Rp2 juta. Padahal harga tanah di sini saja sudah Rp3 jutaan. Ini jelas menyulitkan warga untuk mencari tanah pengganti di sekitar sini,” kata Budi. Dikutip Harjo.

Ia juga mengakui, bahwa sampai saat ini memang belum ada Tim Appraisal yang masuk ke Temanggal 1. Hanya saja, warga mengetahui nilai ganti kerugian dari saudaranya di Temanggal 2.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Setelah dihitung-hitung ternyata ganti keuntungannya hanya Rp2 juta per meter. Idealnya di atas itu, itu baru ganti untung. Ya kalau omong-omongan warga sekitar Rp8 juta per meter,” usul Budi.

Dia menolak jika aksi warga tersebut ditunggangi oleh LSM atau kelompok tertentu. Menurutnya, aksi tersebut murni aksi kegelisahan dari warga.

“Tidak ada LSM dalam aksi ini, ini murni aspirasi kami karena kami tidak tahu lagi harus menyampaikan kepada siapa. Kami berharap agar pemerintah bisa memerhatikan kami. Kami tidak menolak pembangunan tetapi hargailah hak kami,” tegasnya.

Sebelumnya, Dukun Temanggal 1 Sugiharto menjelaskan ada sekitar 150 warganya dalam satu RT tergusur pembangunan jalan tol Jogja-Solo. Dari jumlah tersebut, sekitar 30% sudah berusia lanjut. Total terdapat 32 rumah yang tergusur dalam satu RT.

Warga awalnya mengusulkan agar pemerintah kembali mempertimbangkan dan menggeser trase tol. Namun permintaan warga tidak bisa dikabulkan dengan alasan akan mengubah semua trase.

“Warga memang kesulitan mendapatkan lahan pengganti. Bagaimana pun warga mendukung program pemerintah. Tapi juga berharap mereka dipermudah mendapatkan tanah pengganti,” pungkasnya. (*/islh)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: