Sejarah Candi Asu di Dukun : Putri Raja yang Dikutuk Jadi Anjing

BNews—DUKUN— Magelang memiliki banyak candi peningalan Hindu maupun Buddha. Termasuk di kawasan Lereng Merapi tepatnya di Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang.

Disana, ada sebuah candi yang memiliki nama unik. Candi Asu. Berdasarkan catatan sejarah diketahui bahwa Candi Asu Sengi berasal dari zaman Kerajaan Mataram Kuno dari trah Wangsa Sanjaya (Mataram Hindu).

Advertisements


Saat pertama kali ditemukan terdapat tiga buah prasasti batu dan satu buah arca lembu. Parasasti tersebut yaitu Sri Manggala I (874 M), Sri Manggala II (876 M), dan Kurambitan.


Dari prasasati tersebut diketahui bahwa Candi Asu Sengi dibangun pada 869 M saat Rakai Kayuwangi dari Wangsa Sanjaya berkuasa. Tertulis juga Candi Asu Sengi merupakan tempat ibadah untuk memuja para dewa dan arwah leluhur.

Bangunan Candi Asu Sengi saat ini tampat tidak utuh. Bagian atap tidak ada. Beberapa bagian dindingnya masih polos tidak berukir relief.

Bukan hilang atau rusak, pembangunan candi ini memang belum selesai. Memakan waktu lebih dari 15 tahun, candi yang tengah dibangun ini kemudian ditinggalkan oleh warganya karena ancaman dari erupsi Gunung Merapi.

Setelah erupsi, material vulkanik Merapi mengubur Candi Asu Sengi selama ratusan tahun. Ditemukan lagi oleh seorang berkebangsaan Belanda yang kemudian dibantu warga untuk melakukan ekskavasi dengan menggali dan mebangun reruntuhan candi.

Mitos yang beredar di masyarakat bahwa Candi Asu Sengi adalah bentuk simbolis dari Dewindani yang dikutuk oleh dewa. Dewindani merupakan seorang putri raja berdarah ningrat namun sangat tercela karena tak bisa mengendalikan gairah seksualnya yang meletup-letup.

Walaupun sudah bersuami, Dewindani kerap berhubungan dengan pria lain yang dirasa menurutnya menarik. Karena perilakuknya yang seperti binatang ini, Dewindani dikutuk oleh para dewa menjadi seekor lembu dengan muka menyerupai asu (anjing). Candi Asu Sengi dibangun untuk memberikan pengajaran kepada manusia agar tidak terjebak oleh jeratan seks bebas.

Asu dalam budaya jawa tidak selalu berkonotosi negatif. Dalam kisah epos Mahabharata ketika Yudhistira berjalan ke Mahameru menuju kayangan ia ditemani oleh seekor asu yang sangat setia.

Saat akan masuk kayangan dewa menyuruh Yudhistira meninggalkan sang anjing. Yudhistira pun menolak dan akhirnya batal menuju kayangan. Kisah ini mengajarkan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, pun demikian tidak ada keburukan yang mutlak. (her/jar)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: